Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Hilangnya Kesadaran dan Hal-Hal Absurd Dalam Hidup

MABUK. Sebuah keadaan dimana seseorang hilang kesadarannya. Itulah terjemahan dari "katzenjammer" yang dijadikan judul novel ini oleh Stefani Hid. Meskipun nama penulis ini masih asing bagi saya sebagai pembaca, tetapi karyanya ini entah bagaimana mampu membangkitkan ingatan saya pada novel-novel pergulatan pemikiran yang sering saya temukan di tulisan-tulisan Budi Darma, Danarto, dan Putu Wijaya.

Kisah di dalam novel ini terkonsentrasi pada dua tokoh: Aya dan Henning. Meskipun Aya, seorang gadis Indonesia kelahiran Surabaya, dan Henning, seorang pria Jerman, keduanya boleh dibilang memiliki kesamaan.

Keduanya sama-sama dibekap oleh pikiran-pikiran mereka sendiri sehingga sulit keluar untuk mengambil pilihan hidup yang rasional. Keputusan-keputusan dibuat oleh keduanya bagaikan mereka yang dijerat oleh ketergantungan pada alkohol, juga terjerat oleh mimpi-mimpi yang dibangun oleh prasangka yang dibuat mereka sendiri. Semisal Aya, begitu lulus sebagai sarjana bahasa Inggris, tiba-tiba melontarkan dirinya sendiri dari Depok di tahun 2004 ke Eropa hanya untuk memenuhi hasratnya untuk menjadi seorang pemilik lahan di sebuah desa sunyi di Eropa. Menyendiri, melakoni hidup baru, mencabut begitu saja akar-akar di dalam dirinya yang kemudian digantikan pemikiran-pemikiran baru yang ia cangkok dari bacaan-bacaan yang disukainya: kisah Sisifus dari Albert Camus.

Tetapi Aya tak seperti Sisifus yang dimaksudkan Albert Camus. Ia tidak pernah membayangkan bagaimana pada akhirnya Sisifus menjadi bahagia pada pilihan hidupnya. Aya terjebak menjadi Sisifus yang melulu menjalani takdirnya yang absurd: menggelindingkan bola batu raksasa ke puncak gunung dan terjatuh, lalu menggelindingkannya kembali. Aya menjalani hidupnya dari satu kemapanan menuju kemapanan yang lain tanpa pernah merasa bahagia dan semakin jauh dari rencananya semula.

Semua Berawal dari Ibu

KALAU saja keponakan Iwan tidak berseloroh ingin menjadi orang hebat seperti pamannya yang bekerja di New York, barangkali kisah anak supir angkot yang sukses ini tidak akan pernah sampai ke tangan pembaca. Pada saat itu, Iwan Setyawan, pria kelahiran Batu, 2 Desember 1974, sedang asyik menikmati siaran televisi bersama dengan keponakan dan selorohan itu membuatnya berpikir. Betapa kelirunya jika memahami kesuksesan yang ia raih tanpa mengerti kisah perjuangan panjang yang harus dilaluinya sedari kecil. Maka dari sana, Iwan berupaya menulis sebuah kisah lengkap tentang dirinya dan keluarga yang ingin ia persembahkan bagi sang keponakan.

Iwan bercerita bahwa kali pertama ia menulis kisah 9 Summers 10 Autumns, novel biografi pertamanya yang sukses, justru diawali dengan rasa minder. Ia menilai draft pertama tulisan itu sangat memalukan untuk dibaca. Selain kemampuan menulisnya yang belum terasah, ketrampilan untuk membangun dialog dalam bahasa Indonesia menjadi kendalanya. Pasalnya, Iwan terbilang cukup lama berjarak dari negeri ini setelah 10 tahun berkarir di New York. Namun lewat proses menulis berkali-kali, akhirnya draft tersebut menjadi tulisan yang lebih baik lagi.


Cinta dan Kebaikan di Amerika Pasca Kiamat

SEBERAPA banyakkah dunia ini memiliki cinta dan kebaikan? Siapakah yang memilikinya? Akankah cinta dan kebaikan kalah ketika harapan hampir-hampir sirna dari muka bumi? Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche pernah menuliskan jawaban demikian atas pertanyaan tadi: "Tak ada cukup banyak cinta dan kebaikan di dunia ini yang mengizinkan sedikitpun darinya pergi dari setiap insan." Itu berarti, jumlah cinta dan kebaikan hanya ada sejumput di dalam hati manusia, sisanya mungkin yang disebut dengan 'kebinatangan' kita. Pertanyaan yang sama, juga hendak dijawab oleh Cormac McCarthy lewat novelnya berjudul "The Road".




Saat Leo Tolstoy Bicara Rumah Tangga Bahagia

TERJEMAHAN judul yang jelas keliru dari judul yang seharusnya diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Family Happiness (bukan A Happy Married Life yang kemudian seharusnya diterjemahkan menjadi Kebahagiaan Rumah Tangga dan bukan Rumah Tangga yang Bahagia. Tapi biarlah kekeliruan ini tidak menutupi hal-hal utama yang hendak disampaikan Tolstoy dalam novelia ini.

Dalam Family Happiness-nya Tolstoy bercerita tentang seorang perempuan muda bernama Masha, Marya Alexandrovna, yang berusia 17 tahun. Masha jatuh cinta pada teman baik ayahnya sekaligus walinya, Sergei Mihailovich yang jauh jauh lebih tua darinya. Ini bukan hanya cerita jatuh cintanya Masha, tapi juga jatuh cintanya Sergei Mihailovich pada Masha. Cerita-cerita ini mungkin terjadi kan? Bukankah pria-pria menjelang paruh baya selalu menarik buat perempuan-perempuan muda? Hehehe... Lalu ketika akhirnya mereka menikah, berapa lama kebahagiaan dalam rumah tangga bisa dipertahankan?

Topik yang kurang lebih sebangun dalam novel Anna Karenina dengan bahan "gagasan tentang keluarga" menjadi faktor dominan dan menentu bentuk struktur novel ini. Bagaimana Tolstoy memahami tentang gagasan berkeluarga? Apa yang menjadi kriteria baginya atas keluarga yang "baik" dan keluarga yang "buruk? Hal-hal inilah yang menarik ditarik dari cerita ini.


Bunga Rampai tentang Pramoedya Ananta Toer

DULU, setiap tahun hatiku selalu berdebar-debar mendekati tanggal 6 Februari. Aku jadi gelisah mencari-cari kabar, apakah tahun itu akan ada perayaan ulang tahun Pramoedya Ananta Toer atau tidak. Biasanya selalu ada, dan biasanya selalu dipenuhi orang. Bila ada dan sempat, aku datang.

Luar biasa animo orang untuk mengenal sastrawan yang satu ini; tua-muda, perempuan pun ada, ada yang berbaju necis hingga gembel bulukan macam aku. Tak ada itu yang berbaju merah lambang palu arit, mengepal tangan tinggi-tinggi menyanyi lagu Internasionale.

Karena setelah membaca karyanya dan berpikir, akhirnya upaya untuk menempatkan Pramoedya dalam kelompok tersebut hanya akan mengecilkan dan menyempitkan arti sastrawan yang berulang-ulang menjadi Kandidat Nobel Sastra Dunia itu.

Rutinitas itu terus kulakukan sejak suatu persinggungan dengan dirinya di tahun '90-an hingga Pram merayakan ultah ke-81 di Teater Kecil TIM Jakarta. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dengan berbaju batik, di ultah ke-81 Pram datang dengan baju putih bersih, wajah cerah, dan murah senyum. Pram seperti hendak menyampaikan kata berpisah. Dan akhirnya benar, 30 April 2006 ia berpisah dari bumi manusia.

Di Balik Penciptaan Perlambang

INI cerita tentang buku yang kubeli seharga tiga ribu perak, hasil cetakan pertama terbitan Indonesianya dari karya Art Buchwald yang berjudul asli Irving's Delight oleh Penerbit Iqra Bandung.

Buku ini sudah lama kupunya dan aku suka ceritanya karena kisah di dalamnya sedikit merepresentasikan apa yang terjadi dalam realita hidupku di dunia kreatif iklan.

Yang paling menarik dari bekerja di industri iklan adalah bagian menciptakan perlambang "baru" akan sesuatu. Contohnya begini: terhadap minuman kaleng Coca-Cola, kita tidak hanya melihat minuman bersoda, warna hitam. Tetapi kita menangkap perlambang di belakangnya, anak muda, budaya urban, kreativitas, dan lain-lain. Konsepnya kurang lebih seperti closure. Kita hanya melihat sedikit/sebagian, tetapi otak kita bekerja untuk mengelompokkannya dalam satu entitas baru.

Baiklah, kita copot Coca-Cola dari otak kita. Kita gantikan dengan Dedy Mizwar. Dalam keseharian, kita tahu Dedy Mizwar adalah bapak, berprofesi sebagai aktor dan sutradara. Tetapi di dalam iklan, Dedy Mizwar merupakan perlambang dari seorang believer produk Yamaha, ndeso penampilannya tapi 2 derajat lebih pintar dari lawan mainnya Didi Petet.


Mengamini Kesahajaan Happy Salma

AKU tidak kenal Happy Salma. Baik dalam dunia keartisannya, maupun dalam dunia kesehariannya. Aku tidak seperti Sonny, misalnya, yang pernah sama-sama satu kampus di Yogya dan kenal baik pribadinya bahkan bisa dengan santai menghubungi Happy berhaha-hihi. Aku juga tidak tahu film/sinetron apa yang pernah dimainkan Happy Salma.

Tapi ada pesona kegigihan yang dipancarkan Happy Salma waktu memerankan Nyai Ontosoroh di TIM 14 Agustus 2007 lalu. Dialog yang panjang dan sulit, yang dikutip langsung dari buku pertama tetralogi Pramoedya Ananta Toer Bumi Manusia, demikian mulus mengalir dari dirinya, seolah pada saat pementasan itu Happy Salma adalah Nyai Ontosoroh sendiri. Aku tidak risau dengan perawakannya yang kurang mirip gambaran Nyai Ontosoroh.

Sejak saat itu, Happy Salma punya makna baru. Ia bukan artis sekedar. Selebritasi memang umurnya pendek. Maka syukurlah, ada artis yang tersadar dan memilih menekuni dunia yang sepi ini: menjadi seniman dan menjadi penulis.


Tarik-menarik Antara Kehidupan dan Kematian

SETELAH perkenalan yang mulus lewat karya pertama Haruki Murakami yang berjudul "Dengarlah Nyanyian Angin" , aku semakin mantap untuk menjajal novel kelimanya yang beken: "Norwegian Wood".

Berbeda dengan novel pertamanya yang menceritakan tarik-menarik antara pemikiran tradisional Jepang dan pemikiran Barat yang modern di kalangan anak muda Jepang, tema novel ini kupikir merambah ke suatu yang jauh lebih dasar, bahkan menjurus ke sesuatu yang lebih filsafati: tarik-menarik antara kehidupan dan kematian dalam kacamata anak-anak muda yang menjadi tokoh ceritanya.

Novel ini dimulai dengan kisah Toru Watanabe saat sedang berada di pesawat tujuan Jerman. Tiba-tiba saja gara-gara mendengar salah satu lagu Beatles berjudul "Norwegian Wood" dari stereo set pesawat, Toru Watanabe langsung teringat kejadian saat ia berusia 17-20 tahun.

Ingatan bawah sadar itu tiba-tiba memuntah, memenuhi ingatannya, serta menghidupkan kembali Kizuki -- sohib karibnya yang mati bunuh diri di usia 17 dengan menghisap asap knalpot mobil ayahnya--, juga menghidupkan kembali Naoko -- pacar Kizuki yang akhirnya menjadi kekasih pujaan Toru, dan Midori -- perempuan yang dikenalnya belakangan di sela-sela kuliahnya sebagai mahasiswa jurusan drama di salah satu kampus di Tokyo, Jepang di akhir tahun 60-an sampai awal tahun 70-an.

Toru yang polos, pemalu, tapi cerdas memasuki masa kedewasaan di dunia yang lazim disebut zaman-zaman kejayaan "buku, seks, dan rock 'n roll". Ia jatuh cinta pertamakali justru dengan bekas pacar temannya yang mati bunuh diri, Naoko dan dari sinilah mulai hubungan yang kacau ini.

Naoko itu cantik, pendiam, tapi diam-diam terganggu keadaan emosinya sepeninggal Kizuki. Toru tak pernah dapat menduga apa yang berkecamuk di dalam pikiran Naoko. Tertekan secara emosional dan secara seksual, Naoko menarik dirinya sedikit demi sedikit ke dalam dirinya hingga akhirnya ia pindah ke tempat tetirah untuk menenangkan dirinya, dan bahkan menghabisi dirinya dengan gantung diri.


Mengenali Haruki Murakami

"Dibanding alam semesta yang njelimet, dunia kita ini hanya seperti otak cacing." (Derek Heartfield)

NOVEL ini mengawali perkenalan yang sangat baik akan penulis yang dijuluki oleh Times sebagai penulis beken abad ini Haruki Murakami. Memang novelnya yang lain seperti Norwegian Wood (sudah diterbitkan oleh Penerbit KPG) dan Kafka On The Shore sudah cukup lama terbit di Indonesia. Tapi aku sendiri baru mengawalinya justru bukan dengan membaca novel kelima Haruki Murakami Norwegian Wood yang sudah mashyur itu, tapi dengan novel pertamanya ini: Dengarlah Nyanyian Angin (Kaze No Uta O Kike) yang langsung mendapat penghargaan Gunzo Literary tahun 1979.

Karya debutan ini konon muncul di musim semi tahun 1974, saat Murakami sedang menonton pertandingan bisbol. Tiba-tiba dia mendapat inspirasi dan segera menulis novel pertamanya ini, sebuah novel yang bagiku ringan, keluar dari tradisi novel ala Yanusari Kawabata atau Mishima yang kaku.

Entah ya, penilaianku ini mungkin berdasar pada cerita yang disodorkan Murakami dalam novel pertamanya ini. Betul-betul cerita sehari-sehari, anak muda sekali obrolannya, yang kadang serius, tapi seringkali konyol. Mungkin orang lain bisa menganggapnya terlalu 'pop', sampah remeh temeh, dan kebarat-baratan (merujuk pada perilaku lho ya...) Kekonyolannya bisa dilihat dalam satu kalimat ini: "Perempuan ketiga yang tidur denganku menyebut penisku raison d'etre kamu." (hal. 85)


Pencarian Jawaban Atas Hidup dan Mati

WAKTU kumpulan cerpen Godlob aku baca di masa remaja, orang belum menyebut karya Danarto sebagai realisme magis, seperti yang disesumbarkan oleh penerbit Banana di sampul belakang buku ini. Kira-kira orang masih menyebut Danarto itu pengarang cerita ajaib. Dan oleh orang-orang yang lebih tua, termasuk oleh Pak Gunawan guru Sastra-ku, Danarto lewat Godlob dianggap puncak tertinggi penulis cerpen masa itu. Kehebatan Danarto dalam setiap cerpennya adalah tingginya keliaran imajinasi, punya kejutan dahsyat yang berlompatan dari realita awal cerita yang datang seperti hantu, tak terduga datangnya.

Tapi baiklah aku telan dulu sebutan 'pelopor sastra realisme magis' yang ternyata pemberian Akmal Nassery dari Koran Tempo itu pada Danarto lewat kumpulan cerpen Kacapiring ini. Karena realisme magis disebut-sebut, mau tidak mau aku harus menyebutkan dua orang sastrawan yang juga mengusung tema serupa: Gabriel Garcia Marquez dan Ben Okri. Dua-duanya pengarang favoritku. Soal itu di akhir nanti dibahas lagi.


Tema besarnya tetap kisah cinta

SEKALI waktu aku pernah bertanya ke mbak Dewi Lestari (Dee), "Lagi ngerjain apa mbak?" Dan dijawab lagi sibuk dengan proyek "Rectoverso" - hibrida cerita+musik. Wah, aku langsung terpukau dan tak sabar menanti persis seperti anak laki-laki yang dijanjikan mau dibelikan mainan oleh ayahnya... Tunggu punya tunggu, akhirnya penantian pada hibrida buku+CD audio itu sampai di tanganku, meskipun sebenarnya dipinjami Roos.

Sejak menerimanya, aku menjalani ritual yang sesuai dengan anjuran Dee, yang kadang-kadang kupikir seperti manual cara menikmati Rectoverso (RV): "dengar bukunya, baca musiknya." Jadi bukunya ku-"dengar" lebih dulu. Kupasang telingaku untuk menyusuri deretan abjad-abjad, ilustrasi dan foto yang menghiasinya. Barulah kemudian kubiarkan mataku menyusuri musiknya. Barisan nada itu hilir-mudik di pandanganku.

Begitu ritual itu usai, aku berduka.

Berduka untuk sebuah kehilangan atas karya-karya Dee.

Kasih ibu bagai sang surya

Satu Hari Bersamamu
karya Mitch Albom

Terbit 2007 oleh Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama: 2006 | Binding: Paperback | ISBN: 9792234330 (isbn13: 9789792234336) | Halaman: 248 | Karakter: Charley (Chick), Posey Benetto, Maria Benetto | Setting: Amerika Serikat

Judul asli: For One More Day
Translator: Olivia Gerungan


MASIH ingat lagu berjudul "Kasih Ibu"? Yang begini liriknya:
Kasih ibu kepada beta /
Tak terhingga sepanjang masa /
Hanya memberi tak harap kembali /
Bagai sang surya menyinari dunia

Kasih ibu memang tak bisa diukur, tak berharap balas, dan senantiasa terbit di hati anaknya. Lagu ini sedikit meringkas apa yang ada dalam novel karya Mitch Albom, Satu Hari Bersamamu. Di novel itu ditulis, ibu memiliki sumur kasih sayang tanpa dasar buat anak-anaknya. Ah, memang benar. Beruntunglah kita yang memiliki ibu.

Begitu pula beruntunglah Charley (Chick) Benetto yang memiliki ibu yang demikian. Seumur-umur ia menyia-nyiakan kehadiran ibunya dengan sibuk memilih menjadi "anak ayah", dan baru menyadari arti penting ibunya justru ketika ibunya meninggal dan ia menjadi depresi. Delapan tahun setelah ibunya meninggal, Chick memutuskan untuk bunuh diri. Namun kehendak hidup berkata lain. Dua kali ia coba bunuh diri, bukannya ia mati, tapi malah bertemu dengan ibunya dan tinggal sehari dengannya. Inilah cerita utama dalam novel ini.

Aku sangat terkesan dengan sosok ibu dalam novel ini, Posey. Ia begitu cantik, baik hati, dan cerdas. Ia punya kebijakan yang amat baik: mengajak anaknya minimal sekali seminggu ke perpus. Agar anaknya punya kebiasaan membaca. Satu kali penjaga perpus melarang Chick meminjam buku 20.000 Kaki Di Bawah Permukaan Laut-nya Jules Verne dengan alasan buku itu terlalu sulit untuk anak seusia Chick. Tahu apa reaksi Bu Posey? Dia melabrak pustakawan itu dan mengatakan kalimat yang menawan ini: "Jangan pernah berkata pada anak-anak bawa sesuatu itu terlalu sulit. Jangan pernah!" Wah...

Novel ini pada awal dan akhirnya diceritakan oleh Maria Benneto anak Chick, namun sebagian besar isinya cerita Chick akan kenangan masa kecilnya dan terutama kenangan akan ibunya. Terjemahannya bagus dan mengalir, tanpa terasa aksara-aksara itu akan meluncur mulus di matamu dan semoga hatimu.

5/5

Merasakan Kekuatan Realisme Majis Cerpenis Amerika Latin

Perempuan Mimpi-Mimpi
karya Gabriel García Márquez

Terbit 2002 oleh Penerbit Sumbu, Yogyakarta | Binding: Paperback | ISBN: 9799644895 | Halaman: 92

Berisi kumpulan 8 cerita pendek Gabriel García Márquez
Translator: Mahdi Husin
kecuali cerpen "Penyerahan Diri Ketiga" oleh Mahdi Husin dan Iim I. Padmanegara
Editor: Ken AW

GAYA realisme majis yang menjadi kekuatan cerita-cerita Gabriel García Márquez hadir dalam 8 cerita pendek yang dicomot oleh Mahdi Husin (penerjemah) dari kumpulan karyanya di sana-sini. Penulis Amerika Latin yang aslinya dari Aracataca, pusatnya pisang di Kolombia ini mewakili semangat jamannya lewat gaya penulisan realisme majis yang cenderung mengkombinasikan elemen-elemen fantasi dan mitologi dan fiksi realistis.

Gaya itu aku temukan mencuat dalam cerpen "Penyerahan Diri Ketiga" yang bercerita tentang seseorang yang meninggal, sebenarnya karena ia ingin mematikan kehidupan di sekitarnya tapi malahan ia jadi mayat betulan, lalu sebagai mayat diri si penutur terus bercerita tentang keadaan dirinya di dalam tanah saat demi saat, termasuk juga kenyataan yang berubah menjadi situasi 'kematian yang hidup' bahwa tubuhnya mati tetapi pikirannya tetap hidup. Fantastis, belum pernah kutemukan ada penulis yang demikian intens menulis tentang situasi yang magis seperti ini.

Cerpen "Malam Burung Hantu" bercerita hal lain yang tak kalah magisnya. Samar-samar aku seperti sedang membaca cerita tentang realita penangkapan orang-orang yang vokal pada pemerintah, tetapi teks yang disodorkan adalah cerita mengenai orang yang berupaya lari dalam keadaan buta karena matanya dipatok burung hantu. Ngeri dan aneh memang.

Namun tidak ada yang semencekat waktu aku membaca cerpen "Selasa Waktu Siesta" (ada salah penulisan di buku ini, yang benar bukan 'seista', tetapi 'siesta'). Cerpen ini bercerita tentang ibu dan anak perempuannya yang miskin, jauh-jauh bepergian ke satu kota, sebenarnya ke pastoran tempat anaknya ditembak secara tak sengaja oleh adik pastor, tetapi untuk menutupi kesalahannya, adik pastor itu berkata bahwa anak itu adalah maling. Sampai selesai baca, pikir-pikir cerita ini sering juga terjadi, betapa kita mungkin pernah menutupi kesalahan diri kita dengan berbohong dan merugikan orang lain yang tak bersalah.

4/5

Cara Memikat untuk Memahami Anak Autistik

Anak Lelaki yang Menelan Bintang-Bintang
karya Kochka

Terbit Agustus 2008 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback | ISBN: - (isbn13: 9789792239270) | Halaman: 104 | Karakter: Lucy, Matthew | Setting: Perancis

Judul asli: The Boy Who Ate Stars
Translator: Rahmani Astuti
Illustrator: Satya Utama Jadi

TADINYA buku ini mau aku masukkan dalam kategori buku anak-anak, karena gaya tutur Lucy -- tokoh utama dalam novel ini -- sangat lucu dan kekanak-kanakan. Tapi setelah membacanya sampai selesai, aku pikir lebih tepat bila buku ini tidak dimasukkan ke kategori tersebut karena tema yang diangkat ternyata lumayan berat.

Lewat Lucy, anak dua belas tahun, kita diajak si penulis Kochka untuk mengikuti hasratnya untuk menolong seorang anak autistik dan seekor anjing. Anjing? Iya! Unik bukan? Ini sedikit menjelaskan mengenai cover buku ini yang memperlihatkan siluet seorang anak dan seekor anjing.

Adalah Matthew, anak autistik yang sekaligus tetangga Lucy di flatnya, yang menurut Marie ibunya susah berkomunikasi dengan orang lain. Matthew sebenarnya lumayan ganteng (kata Lucy lho), hanya saja ia unik. Ia punya simpati yang besar pada sekitarnya bahkan pada benda-benda mati. Ia bahkan bisa berjam-jam melihat pernak-pernik cahaya yang keluar dari manik-manik kaca. Lucy kemudian menemukan bahwa kunci berkomunikasi dengan Matthew adalah lewat musik, tepatnya lewat tambur yang dimainkan oleh kakek Balthazar.

Masalah kedua yang berhasil diatasi oleh Lucy adalah masalah anjing kuper dan kurang percaya diri. Francois lama dibiarkan menjadi piaraan yang over-protektif sehingga ia menjadi anjing yang kurang inisiatif dan kuper. Oleh Lucy, Francois akhirnya diperkenalkan pada dunia luar yang membuatnya tumbuh menjadi anjing yang sejati.

Buku ini sedikit mengingatkanku pada Insiden Anjing di Tengah Malam karya Mark Haddon, semata-mata karena kesamaan tema yakni anak autistik. Gaya bahasa yang memikat, tidak berat, mampu membuat pembaca yang tidak mempunyai latar belakang pemahaman akan autisme paling tidak pada saat selesai membaca buku ini merekam sedikit informasi yang benar mengenai anak autistik.

4/5

Perempuan dan Anak dalam Konflik

Bukavu
karya Helvy Tiana Rosa

Terbit April 2008 oleh Lingkar Pena Kreativa | Binding: Paperback | ISBN: 9791367337 (isbn13: 9789791367332) | Halaman: 228


KUMPULAN cerpen ini memuat 18 karya Helvy Tiana Rosa dalam rentang waktu 1992-2005. Meski terbit tahun 2008, ada beberapa cerpen yang ditulis dalam jarak waktu yang lumayan lama. Ada yang 16 tahun silam ditulis, 10 tahun silam hingga 3 tahun silam. Namun meskipun begitu, kesemua cerpen di dalam kumpulan cerpen Helvy ini mempunyai benang merah.

Benang merahnya adalah di dalam setiap cerpennya Helvy sering memilih lokasi konflik sebagai setting cerita. Mulai dari Aceh jaman konflik GAM-TNI dulu (Cerpen "Cut Vi"), Kalimantan jaman konflik etnis Dayak-Madura (Cerpen "Darahitam"), Timor Leste jaman konflik sipil pro-integrasi dan pro-otonomi (cerpen "Ze Akan Mati Ditembak"), perseteruan Israel-Palestina (Cerpen "Hingga Batu Bicara") dan lainnya. Tetapi di sini juga, konflik dapat hadir dalam konflik antarpribadi yang marak ada di ruang-ruang domestik seperti dalam cerpen "Pertemuan di Taman Hening", yang berkisah tentang konflik batin seorang istri yang bersuamikan seseorang yang ringan tangan.

Bila berbicara tentang kumpulan cerpen konflik, aku tiba-tiba teringat kumpulan cerpen konflik yang pernah ditulis Seno Gumira Adjidarma dalam Saksi Mata dan Jazz, Parfum dan Insiden. Dalam kedua kumpulan cerpen itu, Seno membaur cerita fiksinya dengan konflik di Timor Leste yang penuh darah. Memang, tema-tema dalam konflik selalu tidak jauh dari persoalan kemanusiaan. Gambaran manusia dalam titik tergelapnya ketika hidupnya dihantui oleh kengerian dan kecemasan akankah masih hidup esok hari, dibalur oleh darah, dendam yang kesumat, dan pertanyaan dasar tentang penyelamatan Tuhan, dan lain sebagainya. Perang sejatinya adalah bukti runtuhnya kemanusiaan.

Seperti itu pulalah aku membaca kumpulan cerpen Helvy Tiana Rosa ini. Ada sebuah tali dibentangkan begitu tipis antara kemuliaan manusia dan kedegilan hati manusia. Dan dalam tali yang begitu tipis ini, Helvy menjatuhkan pilihan karakter tokoh pada perempuan dan anak-anak.

Mengapa perempuan dan anak? Aku pikir karena perempuan dan anak adalah korban sesungguhnya dari sebuah konflik. Dalam konflik bersenjata, merekalah yang tidak menyandang senjata. Lelaki selalulah yang pongah memanggul senjata. Sementara perempuan dan anak menderita atas kepongahan mereka. Dalam konflik domestik, merekalah yang senantiasa jadi korban. Dipukul, dikerasi, dirampas hak kemanusiaannya.

"Diam ikam!" teriak yang berkumis tebal. "Ayo kita bopong dia!!"
Aku meronta-ronta. Selendang penutup rambutku jatuh ke tanah! Sambil
terkekeh-kekeh mereka berusaha membawaku secara paksa!.
Aku menjerit-jerit. Mencoba mencakar, menjambak, meludahi mereka! Ya
Allah... aku bingung dan begitu lemah. Tak mampu mematahkan mereka!

(cerpen "Idis", halaman 23)

Tokoh aku dalam cerpen "Idis" itu tentulah perempuan, yang dalam konteks konflik, ia selalu terancam dalam bayang-bayang kesewenangan laki-laki. Itu hanya salah satu contoh. Contoh lain, bisa ditemukan dalam cerpen "Lorong Kematian" yang mencontohkan kejamnya perang Serbia-Bosnia.

Sekali lagi, aku pikir apa yang diperbuat Helvy dengan cerpen-cerpennya tentulah tidak bisa tidak mewakili pandangan Helvy akan konflik, bagaimanapun bentuk dan macamnya. Dan memang sebagai penulis Helvy kreatif mencari ruang gerak dalam tema-tema seperti ini. Ia selalu bisa menemukan masalah, yang barangkali tidak pernah kita perkirakan ada sebelumnya. Masalah yang periferi, bergerak di luar kerangka siapa memihak siapa, namun krusial dalam kemanusiaan.

Nah, dalam hal pemilihan tema ini, aku pikir Helvy memang unggul menampilkan sisi yang berbeda daripada apa yang ditawarkan Seno Gumira dalam cerpen-cerpennya. Pesan yang mau disampaikan pun jelas.

Hanya saja aku punya pandangan berbeda atas cara bertutur Helvy. Tuturan Helvy dalam cerpennya senantiasa mengandung bahasa puitis, yang terkadang mengaburkan makna. Ada yang masih tersembunyi dan perlu kepekaan puitis atas apa yang ia tuliskan. Sehingga aku pribadi agak kewalahan, ya mungkin karena baru berkenalan pertama kali dengan karya-karya Bunda Helvy ini. Memang indah, tetapi bila diharuskan memilih antara cerpen yang indah dan cerpen yang jelas maknanya, aku lebih memilih kejelasan makna agar semakin benderang maksudnya.

3/5

Memahami Spiritualisme Ayu

Bilangan Fu
karya Ayu Utami

Terbit Juni 2008 oleh Kepustakaan Populer Gramedia | Binding: Paperback | ISBN: 978979910122 (isbn13: 9789799101228) | Halaman: 536 | Karakter: Parang Jati, Sandi Yuda | Setting: Sewugunung


PADA salah satu peluncuran buku di Jakarta, sastrawan Hudan Hidayat pernah berujar demikian: "Ayu Utami adalah penulis yang istimewa. Bahkan mendengar namanya saja, orang sudah langsung mempunyai imaji tentang apa yang ditulisnya." Terhadap ujaran demikian, aku mengamininya. Tokh, bukankah itu juga yang teman-teman rasakan? Bahwa mendengar nama Ayu, kita berharap (yap, sekali lagi kita berharap) menemukan sosok sastra baru yang kita idam-idamkan.

Aku amini itu karena ada getar magis yang membuat aku bolak-balik kembali lagi kepada karya Ayu Utami. Mengapa harus membaca lagi karya Ayu Utami, terutama setelah rasa kecewa atas novel Saman dan Larung yang ditulis 7-8 tahun lalu? Rupanya karena aku memendam harapan, harapan yang sama menggelembungnya waktu aku membaca pertama kali bibit novel Saman dalam tulisannya di sebuah disket berjudul "Laila Tak Mampir ke New York" yang beredar liar di Bandung. Getar magis ini kurasakan mungkin kurang lebih sama seperti Sandi Yuda (tokoh di novel Bilangan Fu ini) dengan Sebul (bunyi huuuuuuuu yang dihasilkan oleh batuan karang yang ditiup angin). Itulah getar magis yang membuatku akhirnya membaca Bilangan Fu, mengintiminya seperti kekasih, pergi kesana kemari bagai pacar dan begitu usai ada rasa debar seperti tak ingin berpisah.

Pertama-tama, jangan kecele dengan judul novel ini yang seperti tidak menawarkan apa-apa, sampulnya yang paduan antara simbol "mata setan" dan bulu merak, sajian sinopsis pendek di belakangnya yang menjanjikan adanya kisah cinta romantis, atau review-review yang sering over promise, atau ajakan-ajakan untuk mengingat kembali karya-karya Ayu Utami lampau yang vulgar. Karena Bilangan Fu pantas dibaca tanpa didahului oleh imaji-imaji dan harapan akan novel ini. Bacalah seperti Anda belum pernah kenal Ayu Utami dan tak tahu bagaimana reputasi karya-karya sebelumnya.

Kedua, Bilangan Fu bercerita mengenai "petualangan fantastis" Parang Jati yang diceritakan dari point of view Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing yang sedang membuka jalur pemanjatan di Sewugunung, yang pemikirannya serba moderen. Petualangan fantastis di sini mohon dibaca bukan semata kegiatan fisik, tetapi juga kegiatan pemikiran/rohaniah Parang Jati. Fantastis kisah hidup Parang Jati yang lahirnya seperti cerita Ciung Wanara/Musa, besar hendak dikorbankan seperti Iskak/Ismail, mendakwah seperti Isa dan kadang-kadang Siddharta. Parang Jati bukan hanya sekedar pemanjat berbakat karena jari tangan dan kakinya ada 12. Ia juga bukan hanya sekedar mahasiswa biasa yang sedang melakukan penelitian arkeogeologi karena ia juga anggota sirkus orang-orang aneh Saduki Klan pimpinan Suhubudi ayah angkatnya. Pergolakan pemikiran Parang Jati (begitu pula Yuda) amatlah fantastis karena ia adalah antitesis dari orang-orang muda yang nyaris tidak pernah mempersoalkan/mengkritisi modernisme, monoteisme keagamaan, dan militerisme. Keduanya secara aktif berdialog untuk menemukan rumusan kritik yang tajam atas kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin morat-marit dininabobokkan oleh tayangan kuntilanak di televisi, digerus alamnya oleh ketamakan kapitalisme, dan lain-lainnya.

Parang Jati adalah Yuda adalah Ayu Utami sendiri. Ia menjeritkan (bahkan cenderung mendakwah seperti laiknya nabi) lewat Parang Jati (sesekali lewat Yuda) tentang perlunya kembali masyarakat Indonesia menghormati alam, menjaganya, kalau perlu mengkeramatkan dalam sebuah laku kritik yang disebutnya sebagai Neo-Kejawan (dari Kejawaan Baru... bukan dari kata Kejawen). Sebuah jeritan yang berujung pada konflik antara mereka yang status-quo pada situasi yang tak mau berubah seperti Pontiman Sutalip, Kupukupu, dan kelompok Farisi. Lalu diakhiri dengan kematiannya dan diteruskannya pemikiran itu oleh Yuda, mungkin juga nantinya Marja, yang sejak hari pertama sudah menjadi bagian dari mereka yang percaya pada keimanan yang ditawarkan Parang Jati: keimanan yang melakukan kritik pada modernisme yang dinilai mencederai alam, monoteisme yang sejak lahirnya tidak menyukai adanya perbedaan dan ikut mensponsori lahirnya kekerasan, dan militerisme yang menghambat demokrasi (postmodern). Itulah kisah Bilangan Fu.

Terhadap novel yang berjumlah halaman 536 ini, pada mulanya aku muak. Terutama karena Ayu seperti sedang asyik bermain kosa kata, yang membuatku berpikir untuk merekomendasikan "bacalah buku ini disertai Kamus Besar Bahasa Indonesia!". Sampai-sampai aku ingin teriak dalam bahasa Latin: Veritatis simplex oratio est -- "Bahasa kebenaran itu sederhana." Jadi sampaikanlah dengan cara yang demikian. Lalu juga aku tergoda untuk melakukan gosip, terutama mengenai mengapa Erik Prasetya yang menjadi ayah bagi novel ini. Trus aku menggerutu karena aku benci angka-angka yang ditawarkan dalam bentuk rumus.

Rasa takut bahwa novel ini akan mengecewakan menghantuiku selama hampir setengah perjalanan membaca buku ini, hingga sampailah aku pada bagian "Ratu Kidul dan Pandangan Keagamaan". Di bagian ini dan bagian-bagian berikutnya, kisah jadi lebih menarik karena dibenturkan antara apa yang diyakini oleh masyarakat dengan apa yang diyakini oleh agama. Rupanya inilah saripati Bilangan Fu sebagai novel yang mendalami seputar spiritualisme (Jawa). Menghadirkannya kembali ke hadapan kita, untuk kita telaah kembali, dan barangkali membangkitkannya dari kubur.

Sedikit tergelitik untuk bertanya kepada Ayu mengapa koridor spiritualisme seolah-olah selalu berada di luar agama. Bukankah ada sufisme dalam Islam, ada katolikisme dalam Katolik, tapi aku diam saja. Begitu juga melihat hadirnya teknik kolase (menyisipkan kliping-kliping berita ke dalam inti cerita) yang sama seperti yang digunakan Budi Darma dalam Olenka. Atau cerita koleksi kelingking putus si Fulan yang sepadan dengan salah satu cerpen Seno Gumira Ajidarma. Aku masih juga diam melihat salah cetak/kekurangtelitian editor dengan membiarkan salah tulis outdor (seharusnya outdoor), dejavu (seharusnya déjà vu), dan Siung Wanara (bukankah seharusnya Ciung Wanara) dan sumber cerita Ciung Wanara mana yang dipakai Ayu Utami karena versinya berbeda dengan yang beredar di masyarakat Sunda.

Kudiamkan semua karena aku terpukau oleh kemampuan olah cerita Ayu yang pandai meramu antara naratif, artikel, jurnal dan monolog para tokoh-tokohnya. Serta pastinya karena tanpa riset yang memadai, pastilah sulit menulis tentang geologi, legenda rakyat, kitab suci, dan cerita wayang. Belum lagi gambarnya. ** Horee!! ada sastrawan yang bisa nggambar! ** Semuanya itu nilai plus yang seolah menutupi beberapa gelitikan tanyaku sebelumnya.

Jadi, harus kuakui bahwa dalam menulis Bilangan Fu, Ayu Utami berhasil. Nah, selamat menempuh agama baru!

3/5

Membedah Jiwa Fanton Drummond

Olenka
Karya Budi Darma

Terbit 1983 oleh Balai Pustaka | Binding: Paperback | ISBN: 79407277X | Halaman: 232 | Karakter: Fanton Drummond, Olenka, Mary Carson | Setting: Bloomington

Pada hakekatnya, setiap orang adalah seorang Immanuel Kant. Hidupnya terkungkung, akan tetapi pikirannya berloncatan ke sekian banyak dunia. (hal. 222)

Biarlah kutipan dari Bagian VI mengenai Asal-Usul Olenka tadi mengawali pembahasan mengenai novel karya Budi Darma berjudul Olenka ini. Sebelum aku membaca Olenka Budi Darma, aku sudah lebih dulu berkenalan dengan Olenka Anton P. Chekov lewat terjemahan kakak-beradik Pramoedya Ananta Toer dan Koesalah Soebagyo Toer dalam kumpulan cerita pendek "Pertaruhan". Olenka yang kekasih Pustavalov hadir dalam salah satu cerpen berjudul "Kekasihku". Jelas tidak ada hubungan antara karakter tokohnya. Cuma sekedar kesamaan nama. Atau istilahku, dicomot dengan suka-suka oleh Budi Darma.

Sebelum aku membaca Olenka Budi Darma ini pula, aku sempatkan untuk membaca karya-karya Budi Darma yang mendahului atau sejaman dengan novel Olenka seperti kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington dan kumpulan cerpen Fofo dan Senggring. Jadi setting novel di sekitar Tulip Tree dan nama Fanton Drummond seperti sudah tak terlalu sulit dibayangkan, semua pernah hadir di Orang-Orang Bloomington.

Lalu benar seperti kata Gus Gieb, Budi Darma adalah pelopor teknik yang oleh kritikus sastra disebut "kolase" yaitu teknik mencampurkan potongan koran atau iklan bioskop untuk memperkuat narasi cerita. Guntingan kolase ini ternyata memang nyata benar fungsinya untuk membantu pembaca untuk memvisualisasi cerita, terutama foto pertama yang berkaitan dengan seorang pendeta yang gemar menuduh orang-orang yang lewat di depannya sebagai pendosa. Karena memang, obyek yang dituliskan oleh Budi Darma, bukanlah hal yang lazim pembaca di Indonesia lihat dalam keseharian.

Kembali ke kutipan di atas. Yang paling menarik adalah kalimat ini: Hidupnya terkungkung, akan tetapi pikirannya berloncatan ke sekian banyak dunia. Sepintas lalu aku jadi ingat film "Being John Malkovich" - sebuah film yang menggagas ide untuk masuk ke dalam pikiran seorang John Malkovich dan dengan sendirinya kita diajak untuk mengetahui apa saja yang ia pikirkan, termasuk mengendalikannya. Hanya saja di film yang kita rasuki adalah tubuh John Malkovich, sedang dalam novel ini yang akan kita rasuki bersama-sama dengan bimbingan Budi Darma adalah isi kepala Fanton Drummond - si tokoh cerita dalam novel ini - untuk langsung menyelami kegiatannya dan apa yang berkecamuk di dalam pikirannya.

Adalah Fanton Drummond --tebakanku berumur antara 35 sampai 40 tahun-- orang yang sudah malang-melintang sebagai sutradara pembuat iklan, location recce film Breaking Away garapan Peter Yates, dan sejumlah pekerjaan lainnya hingga ia mengambil pekerjaan yang tanpa beban, satu hari ia jatuh cinta pada istri orang, tepatnya istri Wayne Danton calon sastrawan terkenal, yang bernama Olenka.

Olenka, Olenka, Olenka! Pikiran Fanton Drummond disimpangsiurkan oleh Olenka, hingga ia mabuk kepayang dan benar-benar hilang ditelan oleh sosok Olenka ini. Olenka yang menggemari sastra kelas berat karya DH Lawrence, Emily Bronte, dan lainnya sepertinya cocok dengan selera Fanton Drummond yang selain menyukai sastra, juga suka opera Robert Wagner misalnya. Olenka juga suka melukis, mungkin keterampilan yang sama dengan Fanton yang berbakat dalam urusan sinematografi. Cuma ada satu penghalang di antara cinta terlarang mereka yakni suami Olenka yang menyia-nyiakan istrinya, suami yang serampangan bernama Wayne Danton.

Fanton makin simpang siur pikirannya saat ditinggal pergi Olenka. Olenka pergi meninggalkan suaminya dan dirinya meskipun ia mengaku mencintai Fanton. Maka jadilah pikiran Fanton tak keruan, tak terkira maunya, nggak jelas. Hingga ia terpincut perempuan lain bernama Mary Carson (M.C.), namun seperti kegagalan pada Olenka, hati M.C. pun tidak bisa ia raih gara-gara M.C. merasa dirinya hanyalah "sandaran" atau istilah sekarang "bumper/bemper" ketidaksampaian cinta Fanton pada Olenka. Dan ternyata memang benar, Fanton tidak sungguh-sungguh mencintai M.C., cintanya hanya satu pada Olenka, tetapi tidak kesampaian.

Setelah membaca sampai selesai, aku pikir makin benarlah pendapat Wayne Danton terhadap Fanton Drummond bahwa ia memiliki "jiwa yang terjangkit lepra". Dan oleh karenanya Budi Darma seperti laiknya dokter membedah Fanton Drummond untuk menemukan sumber dari penyakit jiwanya. Patologis Fanton dibagi ke dalam empat bagian, yang setiap bagian mencirikan betapa sakitnya jiwa Fanton Drummond.

Bagian I menggambarkan betapa sakitnya jiwa Fanton yang kesepian. Mungkin karena kesepian itulah, ia suka main perempuan dan kali ini ia menggarap istri Wayne Danton bernama Olenka. Di bagian II, Fanton digambarkan sebagai seorang yang pendek pikir. Orang yang pendek pikir tidak memandang jauh atas segala yang diputuskannya, bagaimana dampaknya pada orang lain. Bagian III, terutama bagian surat-suratnya, adalah potret paling jelas sakit jiwanya Fanton yang ternyata bejat dan mencari pembenaran atas kebejatannya. Lalu terakhir, bagian IV adalah gambaran sudah luluh lantak jiwanya Fanton tetapi ia tetap tidak bisa berdoa. Itu karena jiwanya sudah tidak beriman. Namun ia kali ini berusaha lebih keras, untuk menjadi pemeluk teguh. Dan Budi Darma mengakhiri kisah Fanton Drummond dengan kutipan puisi Chairil Anwar: "Tuhanku, dalam termangu, aku ingin menyebut Nama-Mu!"

Untuk sebuah novel "jiwa yang gelap" dan ditulis dalam waktu tiga minggu, memang novel ini pantas dielu-elukan. Terutama karena Budi Darma menawarkan sajian yang lebih menarik daripada sajian orang sakit jiwa ala Iwan Simatupang. Sajian diksi, alur cerita serta teknik membuat novel ini memberi warna baru --tentu saja pada zamannya-- sebagai novel pembaharu, sebuah anak batin dari orang yang digelari maestro sastra modern Indonesia.

4/5

Jangan Nodai Hati dengan Prasangka

To Kill a Mockingbird: Novel tentang Kasih Sayang dan Prasangka
Karya Harper Lee

Terbit 2006 oleh Qanita (Mizan Group) | Cetakan pertama: 1960 | Binding: Paperback | ISBN: 97932694005 | Halaman: 568 | Penghargaan: Winner of The Pulitzer Prize 1961

Indonesian edition of To Kill A Mockingbird, 1960
Translator: Femmy Syahrani

Tahun 1930-an. Suatu periode yang disebut Great Depression, ketika Perang Dunia I menyedot uang begitu banyak hingga akhirnya ekonomi dunia ambruk. Amerika, negara yang kuat saja akhirnya ikutan mengalami zaman susah. Sesusah kisah hidup petani Cunningham yang diceritakan dalam buku ini, sampai-sampai si Walter Cunningham --teman sekelas Scout di kelas 1-- bersekolah tanpa sepatu dan cuma punya satu baju bersih. Atau dalam film-film Charlie Chaplin, digambarkan saking susahnya sampai-sampai Charlie rela merebus sepatunya sendiri untuk dimakan. Dan karakter seperti pengacara Atticus Finch yang rela dibayar dengan cara barter oleh ayah si Walter atau keluarga Ewells yang hidup dari berburu semua sepertinya sedang bokek. Bukan cuma itu, di buku itu dijelaskan, karena petani miskin maka dokter, guru, dan pengacara juga ikutan miskin. Itulah yang membuat karakter dalam novel-novel ini semua serba miris keadaannya.

Zaman susah ini yang disebut juga dengan Malaise sudah berlangsung dari tahun 1929 dan Nusantara (waktu itu kita belum merdeka lho teman-teman) masih berkutat dengan pertarungan di tingkat elit Belanda soal Politik Etis. Banyak yang tidak mau meneruskan karena persoalan dana ini juga, tetapi sebagian lain ingin tetap mempertahankan karena ada semangat "kemanusiaan".

Sebenarnya yang paling menarik adalah semiskin-miskinnya para karakter yang ada di buku ini, pendidikan tetap dinomer satukan. Bahkan ada perda Alabama yang mengharuskan anak-anak untuk sekolah, bila tidak orangtuanya bisa dipenjara. Di buku, sempat terungkap waktu Scout ngambek nggak mau sekolah dan membikin pusing pak Atticus dan akhirnya mereka berkompromi agar Scout mau sekolah lagi.

Dan yang lebih menarik lagi, Calpurnia adalah perempuan Afro-american yang cukup terpelajar meski profesinya cuma tukang masak. Memang profesinya masih rendah, tetapi dia cukup melek ilmu. Sekolahkah dia? Rasanya nggak mungkin... namun dengan menunjukkan pengetahuannya, pastilah ia punya niat belajar yang kuat. Cal menjadi jembatan antara orang kulit putih dengan komunitas Afro-american di lingkungannya.

Oke, sekarang mengenai settingnya. Kotamadya Maycomb adalah kotamadya fiktif. Tetapi Alabama tidak. Negara federal ini dikenal sebagai penghasil kapas dan pada konteks waktu 1930-an sampai nanti pada tahun 1960 adalah penyokong perbudakan dan rasisme. Seperti halnya kota-kota Selatan, strata sosial di Maycomb kira-kira berlaku demikian: Orang kulit putih yang profesional seperti keluarga Finch, lalu orang kulit putih miskin seperti keluarga Cunningham dan Ewells, lalu baru di bawah mereka, paling rendah dan hina, adalah orang-orang Afro-american. (Di Nusantara, strata sosialnya: orang Belanda, orang Cina, orang pribumi yang disetarakan dengan anjing) Kentalnya rasisme di kota-kota Selatan, terwakili oleh sikap mayoritas masyarakat yang anti dan penuh syak prasangka pada orang Afro-american yang mereka sebut "colored" alias berwarna (hitam), seperti yang ditampakkan pada sikap keluarga Ewells dan pada diri Pak Walter Cunningham atas diri Tom.

Aku mendapat kehormatan untuk bisa menikmati novel aslinya (cover kanan), karena dipinjamkan oleh Ari Lestari Ariyanti. Yang menarik, dalam novel aslinya ciri khas dialek orang Alabama yang kalau aku perhatikan adalah kalau ngomong cepet dan sering mengatupkan giginya, mirip gaya omong Clarice Starling (diperankan Jodie Foster) di film The Silence of The Lambs, tetap dipertahankan.

"Yeah Jem, but I don't wanta study cows, I-"
"Sure you do. You hafta know about cows, they're a big part of life in Maycomb County"


Dialog ala Selatan ini sering muncul dalam kisah sehari-hari Jean Louise "Scout" Finch dan kakaknya yang lebih tua 4 tahun Jeremy Atticus "Jem" Finch. Aku suka sekali Scout. Dia anak perempuan yang luar biasa. Ceriwis dan yah tomboi sih. Inget nggak dia hampir meninju Walter waktu jam istirahat. Dibanding anak-anak seumurnya, Scout sangat pintar, jago membaca, berdebat, dan betul-betul polos murni. Rasanya semua ini tak lepas dari peran ayahnya, Pak Atticus. Ia telah mengasah pola pikir Scout, kesadarannya, dan kepribadiannya tanpa merecoki dengan segala macam kemunafikan dan serba prasangka. Sementara kebanyakan anak perempuan memakai gaun dan belajar jadi wanita bermartabat, Scout alih-alih memakai overall/baju monyet dan belajar memanjat pohon dengan Jem dan Dill.

Lewat kacamata Scout yang ceriwis dan tomboi inilah kisahan drama moral dari kisah hidup Tom Robinson yang diadili hanya gara-gara dia "berwarna (hitam)" dan perjuangan Atticus ayahnya untuk membela Tom disampaikan. Lewat cerita ini, Harper Lee ingin menyampaikan bahwa "yang baik" dan "yang jahat" hidup berdampingan di dunia manusia ini. Tapi jangan sampai "yang baik" seperti yang ada pada diri Jem, Scout, Boo, Tom dikalahkan oleh "yang jahat".

“Mockingbirds don't do one thing but make music for us to enjoy . . . but sing their hearts out for us. That's why it's a sin to kill a mockingbird.”

Apa yang ada pada mereka itulah yang disimbolisasi dengan kata "mockingbird", yakni sesuatu yang polos, murni, baik dan jangan sampai dicemarkan oleh tangan-tangan jahat yang digelapkan oleh prasangka, rasisme, dan kedengkian.

Moralitas yang ditegakkan oleh diri Atticus Finch, ikut membentuk kedua anaknya menjadi pribadi yang sadar moral dan lewat kisahan Tom, mereka diuji saat berhadapan dengan pikiran-pikiran jahat. Jadi "yang jahat" dan "yang baik" di dunia ini sebenarnya ada sekitar kita. Yang bisa kita lakukan adalah mempertahankannya dalam diri kita terus dengan tidak membiarkan prasangka merusak "kebaikan" hati kita.

Sebagai penutup, ada satu yang paling aku herankan, kenapa mbah Harper Lee hanya dan cuma menulis 1 buku ini saja? Dengan kemampuan bercerita yang lucu, unik, mengalun seperti ini, kenapa tidak muncul lagi novel-novel dari buah kreativitasnya?

5/5

Sastra dari Negara-Negara Timur

Setanggi Timur
karya Amir Hamzah (ed.)

Terbit 1984 oleh Penerbit Dian Rakyat | Cetakan pertama: 1959 | Binding: Paperback | Halaman: 34

Setanggi Timur dikumpulkan oleh Amir Hamzah. Berisi puisi dan cerita dari lima bagian yakni:
1. Ajam
2. Hindi
3. Tiongkok
4. Jepun
5. Turki

AKU pikir jarang sekali bisa menikmati haiku (dibaca: haik) terjemahan. Barangkali jejak penerjemahan haiku tertua adalah dalam buku Setanggi Timur ini, yang dikumpulkan oleh Amir Hamzah. Sebagaimana dijelaskan Amir Hamzah, haiku adalah "nama sajak yang sependek-pendeknya dalam sastera Jepang, terbentuk dari 17 patah kata, terkandung dalam tiga baris. Keganjilannya lagi bahwa sajak ini tiada bersajak dan tiada pula berirama, tetapi tiada mengapa, sebab bahasa Jepang itu mahamerdu" (hal. 33)

Meskipun minim kata, tapi mampu bicara banyak. Misalnya bicara tentang kesepian, di dalam haiku Ukihashi dapat ditemukan seperti ini:

Mata terlayang...
tersentak jaga...
Aduh kelambu, alangkah lebarnya
Tiada berdua

Atau bicara tentang lukisan alam ini, seperti berikut:

Di genta-kelenteng raya
Kupu terlena cendera
Dengar! Air terjun,
Di sini, di sana, di celah-celah daun muda


Selain haiku, Amir juga memperkenalkan "Tanka" yakni nama bentuk sajak yang lain dalam sastera Jepang, mempunyai 31 patah-kata, terkumpul dalam lima baris.

Bukan cuma sastra Jepang yang dikumpulkan di sini, Amir juga mengumpulkan puisi dari India (Rabindranath Tagore misalnya), Cina (Li Tai Po, dkk.), Turki (Kemalpascha saidi Ahmad dan teman-temannya) yang rupa-rupanya menurut dia mewakili semangat Sastra Timur.

Karya Rabindranath yang menarik adalah ceritanya mengenai burung liar dan burung jinak.

Burung jinak di sangkarnya, burung liar di rimba-raya
Bersua keduanya di suatu masa, telah demikianlah takdir.

Burung liar memanggil: "Kekasihku, mari lari ke rimba-raya"
Berbisik burung tertangkap: "Mari diri, bersama kita di dalam sangkar"

Kata burung bebas: "Dimanakah lapang di celah jerejak mengembangkan sayap?"
"Wah", himbau burung di sangkat, "Dimanakah aku bertengger di awan terbentang"

Menghimbau burung bebas: "Cahaya-mataku, nyanyikan daku laguan hutan"
Menjawab burung di sangkar: "Duduk tuan di sisiku, biar kuajari bahasa budiman"
Menjawab burung rimba: "Tidak! Tidak! Adakah lagu mungkin dipelajari?"
Berkata burung di sangkar: "Aduh! Tiada kuketahui laguan rimba"

Kasih mereka bergelombangkan hasrat, tetapi tiada mungkin terbang beradu sayap. Berpandangan mereka dari celah jerejak, percumalah kehendak akan berkenalan. Menggelepar-gelepar mereka penuh gairah, sambil berlagu: "Mari rapat kekasihku!"

Menghimbau burung bebas: "Percuma, takut aku kan pintu sangkar yang terkunci."
Berbisik burung di sangkar: "Wah, kepakku tiada berkuasa dan mati"

(Rabindranath Tagore)


Hmm... kasihan sekali nasib burung-burung itu kan. Cerita burung itu sebenarnya simbolisasi dari nasib masyarakat India yang saat itu mulai hidup terkurung di bawah Kerajaan Inggris. Lewat medium yang sama, Rabindranath juga pernah mengkritik kalangan Ortodoks di India. Cerita ini hanyalah sedikit cetusan pemikiran Rabindranath tentang nasionalisme India. Secara lugas pemikiran politiknya pernah ia tuangkan dalam "Chitto Jetha Bhayshunyo" ("Saat Pikiran Tanpa Rasa Takut") dan "Ekla Chalo Re" ("Jika mereka tak menjawab panggilan-Nya, jalan terus").

Sungguh buku yang menarik dan menuai decak kagum karena dari sini aku bisa belajar sastra dari negara-negara Timur lain. Salut untuk kerja keras Amir Hamzah!

5/5

Dari Realisme ke Absurdisme Budi Darma

Fofo dan Senggring (Kumpulan Cerpen)
karya Budi Darma

Terbit 2005 oleh Grasindo | Binding: Paperback | ISBN: 9797592839 (isbn13: 9789797592837) | Halaman: 178


SEBUAH kilas balik. Napak tilas. Benang merah. Atau apapun namanya, sah-sah saja dilakukan. Niatan Wahyudi Siswanto (Doktor S-3 yang mengupas habis-habisan Budi Darma) itu untuk "nglumpuke balung pisah" atau dalam konteks sastra ini adalah mengumpulkan karya-karya Budi Darma yang tercecer sungguh patut diacungi jempol. Sebagaimana yang teman-teman tahu, aku telat mengenal Budi Darma. Kata Gieb, dia sezaman dengan Iwan Simatupang yang kental dengan karya-karya kegilaan. Tapi aku sudah selesai membaca Iwan tahun 1994, sedang Budi Darma baru mulai 2008 dengan membaca karyanya berjudul "Orang-Orang Bloomington".

Kenapa niatan Wahyudi Siswanto ini patut diacungi jempol? Karena buat orang-orang yang baru mengenal Budi Darma, menyaksikan transformasi dari realisme hingga ke absurditas yang psychotic sungguh amat mencengangkan. Di kumpulan cerpen yang terdiri dari 18 cerpen ini, yang tersusun secara runut, seluruh jejak perjalanan sastra Budi Darma dari karya-karyanya yang paling awal hingga yang paling mutakhir dapat dibaca. Dengan mudah dapat aku amati seluruh perkembangan gaya penulisan, pilihan tema dan juga tehnik kepengarangannya.

Bahwa ternyata Budi Darma dulunya adalah penulis realis, sebagaimana yang terdapat pada 3 cerpen pertama di kumpulan ini: "Kecap nomer satu di sekeliling bayi", "Manggut-manggut seperti ini biasakah?", dan "mBah Jambe". Ia menarik sejumput cerita kehidupan, memotretnya dengan detil, kemudian menceritakannya pada pembaca.

Ia bisa dengan santai menceritakan apa yang terjadi di seputar kematian seorang anak bahwa orang-orang yang datang senang "jualan kecap" pada orang lain tentang siapa dia dan di posisi apa anaknya sekarang, dan berlaku sok peduli pada yang berduka. Di "Manggut-manggut...", Budi Darma mengajak orang Indonesia untuk bangga pada produk "kecap" karena cuma itulah kelebihan orang kita dibanding negara lain: negeri ini negeri penghasil "kecap nomer satu". Gurauan-gurauan realis yang kritis ini, ia tuangkan lagi pada cerita ketiga tentang orang gila yang didaulat jadi pesohor gara-gara jago nebak nomer.

Kesemua gaya itu ia lakukan sejak tahun 1969 sampai 1970. Lalu tiba-tiba begitu saja, ia menohokku dengan cerita "Pistol" yang boleh dibilang embrio absurdisme, tema yang diusungnya hingga kini itu. Bagian akhirnya membuatku mual, perasaan mual yang sama ketika membaca Orang-Orang Bloomington. Begitu juga dengan cerita-cerita selanjutnya. Tampaknya Budi Darma sudah tergila-gila dengan tema ini.

Pantas saja, Budi Darma seperti enggan untuk menengok kembali ke masa lalu, dalam artian bahwa setiap kali ia membaca karya-karyanya yang terdahulu senantiasa ada hasrat dalam dirinya untuk kembali merombak karya-karya itu dan menyesuaikannya kembali dengan tema besar yang diusungnya itu. Lewat buku ini, gambaran sesungguhnya dari wajah kepenulisan Budi Darma secara utuh terlihat jelas.

5/5
 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator