Perempuan dan Anak dalam Konflik

Bukavu
karya Helvy Tiana Rosa

Terbit April 2008 oleh Lingkar Pena Kreativa | Binding: Paperback | ISBN: 9791367337 (isbn13: 9789791367332) | Halaman: 228


KUMPULAN cerpen ini memuat 18 karya Helvy Tiana Rosa dalam rentang waktu 1992-2005. Meski terbit tahun 2008, ada beberapa cerpen yang ditulis dalam jarak waktu yang lumayan lama. Ada yang 16 tahun silam ditulis, 10 tahun silam hingga 3 tahun silam. Namun meskipun begitu, kesemua cerpen di dalam kumpulan cerpen Helvy ini mempunyai benang merah.

Benang merahnya adalah di dalam setiap cerpennya Helvy sering memilih lokasi konflik sebagai setting cerita. Mulai dari Aceh jaman konflik GAM-TNI dulu (Cerpen "Cut Vi"), Kalimantan jaman konflik etnis Dayak-Madura (Cerpen "Darahitam"), Timor Leste jaman konflik sipil pro-integrasi dan pro-otonomi (cerpen "Ze Akan Mati Ditembak"), perseteruan Israel-Palestina (Cerpen "Hingga Batu Bicara") dan lainnya. Tetapi di sini juga, konflik dapat hadir dalam konflik antarpribadi yang marak ada di ruang-ruang domestik seperti dalam cerpen "Pertemuan di Taman Hening", yang berkisah tentang konflik batin seorang istri yang bersuamikan seseorang yang ringan tangan.

Bila berbicara tentang kumpulan cerpen konflik, aku tiba-tiba teringat kumpulan cerpen konflik yang pernah ditulis Seno Gumira Adjidarma dalam Saksi Mata dan Jazz, Parfum dan Insiden. Dalam kedua kumpulan cerpen itu, Seno membaur cerita fiksinya dengan konflik di Timor Leste yang penuh darah. Memang, tema-tema dalam konflik selalu tidak jauh dari persoalan kemanusiaan. Gambaran manusia dalam titik tergelapnya ketika hidupnya dihantui oleh kengerian dan kecemasan akankah masih hidup esok hari, dibalur oleh darah, dendam yang kesumat, dan pertanyaan dasar tentang penyelamatan Tuhan, dan lain sebagainya. Perang sejatinya adalah bukti runtuhnya kemanusiaan.

Seperti itu pulalah aku membaca kumpulan cerpen Helvy Tiana Rosa ini. Ada sebuah tali dibentangkan begitu tipis antara kemuliaan manusia dan kedegilan hati manusia. Dan dalam tali yang begitu tipis ini, Helvy menjatuhkan pilihan karakter tokoh pada perempuan dan anak-anak.

Mengapa perempuan dan anak? Aku pikir karena perempuan dan anak adalah korban sesungguhnya dari sebuah konflik. Dalam konflik bersenjata, merekalah yang tidak menyandang senjata. Lelaki selalulah yang pongah memanggul senjata. Sementara perempuan dan anak menderita atas kepongahan mereka. Dalam konflik domestik, merekalah yang senantiasa jadi korban. Dipukul, dikerasi, dirampas hak kemanusiaannya.

"Diam ikam!" teriak yang berkumis tebal. "Ayo kita bopong dia!!"
Aku meronta-ronta. Selendang penutup rambutku jatuh ke tanah! Sambil
terkekeh-kekeh mereka berusaha membawaku secara paksa!.
Aku menjerit-jerit. Mencoba mencakar, menjambak, meludahi mereka! Ya
Allah... aku bingung dan begitu lemah. Tak mampu mematahkan mereka!

(cerpen "Idis", halaman 23)

Tokoh aku dalam cerpen "Idis" itu tentulah perempuan, yang dalam konteks konflik, ia selalu terancam dalam bayang-bayang kesewenangan laki-laki. Itu hanya salah satu contoh. Contoh lain, bisa ditemukan dalam cerpen "Lorong Kematian" yang mencontohkan kejamnya perang Serbia-Bosnia.

Sekali lagi, aku pikir apa yang diperbuat Helvy dengan cerpen-cerpennya tentulah tidak bisa tidak mewakili pandangan Helvy akan konflik, bagaimanapun bentuk dan macamnya. Dan memang sebagai penulis Helvy kreatif mencari ruang gerak dalam tema-tema seperti ini. Ia selalu bisa menemukan masalah, yang barangkali tidak pernah kita perkirakan ada sebelumnya. Masalah yang periferi, bergerak di luar kerangka siapa memihak siapa, namun krusial dalam kemanusiaan.

Nah, dalam hal pemilihan tema ini, aku pikir Helvy memang unggul menampilkan sisi yang berbeda daripada apa yang ditawarkan Seno Gumira dalam cerpen-cerpennya. Pesan yang mau disampaikan pun jelas.

Hanya saja aku punya pandangan berbeda atas cara bertutur Helvy. Tuturan Helvy dalam cerpennya senantiasa mengandung bahasa puitis, yang terkadang mengaburkan makna. Ada yang masih tersembunyi dan perlu kepekaan puitis atas apa yang ia tuliskan. Sehingga aku pribadi agak kewalahan, ya mungkin karena baru berkenalan pertama kali dengan karya-karya Bunda Helvy ini. Memang indah, tetapi bila diharuskan memilih antara cerpen yang indah dan cerpen yang jelas maknanya, aku lebih memilih kejelasan makna agar semakin benderang maksudnya.

3/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator