Tampilkan postingan dengan label non-fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label non-fiksi. Tampilkan semua postingan

Kitab Memulai Bisnis Startup

JUMLAH orang kreatif dan ulet berusaha di Indonesia cukup banyak. Apalagi Indonesia menikmati bonus demografi dengan jumlah angkatan kerja yang melimpah. Itu membuat Indonesia selain menjadi kantong pasar yang gemuk juga menyimpan daya produktivitas yang siap memberi perbedaan.

Hal ini bisa dilihat dari sekian banyak wirausaha yang muncul dari Indonesia dan gerakan usaha kecil menengah. Misalnya saja pukau dari Tokopedia, Gojek, Touchten hingga usaha menghidupkan kembali Pasar Santa yang diusung anak-anak muda Jakarta. Bagi saya itu sudah menunjukkan Indonesia memang punya potensi dan bila ada jalan maka akan menjadi negara yang sarat usaha.

Solusi Kendala Klasik

Saya juga melihat ada crowdsourcing hingga inkubator bisnis wirausaha yang kini bisa menjadi solusi dari kendala klasik: modal dan manajemen bisnis. Tapi bagi banyak orang, semua terasa tidak mudah ditembus. Bahkan ada yang tidak tahu dari mana harus memulai jika sudah memiliki ide bisnis yang bagus.

Nah di titik inilah sharing pengetahuan dan pengalaman Anis Uzzaman sebagai CEO Fenox Venture Capital sekaligus penulis buku Startupedia ini menjadi penting. Fenox adalah perusahaan Venture Capital yang berperan besar pada kesuksesan banyak start up lokal maupun global.

Anis Uzzaman tidak pelit membagi pengetahuan dasar yang perlu diketahui para pembaca yang ingin mempunyai wirausaha, mulai dari bagaimana memulainya, memilih tim, memasarkan hingga mencari solusi pendanaan. Ia tidak segan-segan memberi catatan kaki untuk istilah-istilah yang terlalu teknis, menggambarkan bagan hingga membagi sharing pengusaha startup yang berhasil. Ia menulis dengan cermat seperti menghadapi dengan tenang semua pertanyaan dari para pembaca.

Bukan Buku Jitu Atau Cara Cepat

Yang patut diacungi jempol adalah buku ini tidak bombastis memberikan janji cara jitu atau cepat sukses dan kaya raya yang menggampangkan banyak hal. Penulis meletakkan semua dalam proporsi bahwa apa yang ditulisnya merupakan acuan praktis dalam menjalani bisnis start up. Padahal ia bisa saja dan cukup legitimate untuk mengatakan hal tersebut dengan segudang pengalaman dan pengetahuan.

Hal lain yang positif direspon dari buku ini adalah kesederhanaan bahasa. Saya yakin tidak banyak orang yang cukup sabar untuk menyederhanakan pikirannya ke bahasa yang mudah dipahami bahkan bukan oleh orang yang terbiasa membaca buku bisnis.

Namun buku ini bisa diperbaiki dan dilengkapi dengan pengantar yang lebih memadai mengenai Silicon Valley dan detil proses pembuatan start up di Indonesia menyangkut status hukum dan pajak.

Detil buku:

Judul: StartupPedia
Karya Anis Uzzaman

Terbit: Maret 2015
Penerbit: Bentang Pustaka.
ISBN: 9786022910923
Tebal 245 halaman.
Binding: Paperback
Rating: 4/5

Menyelamatkan Warisan Budaya Visual Indonesia

Buku dan blog film Lewat Djam Malam
RESTORASI. Seketika kata itu menjadi magis di dunia film Indonesia. Tidak sedikit yang bertanya apa artinya, tetapi kurang lebihnya disimpulkan sebagai 'upaya penyelamatan'. Sebetulnya, restorasi sendiri bermakna mengembalikan ke kondisi semula, tetapi semua kita tahu film-film tua bermasalah banyak karena "vinegar syndrome".

Ini persoalan yang tak muncul saat terjadi pergantian bahan film dari bahan film nitrat yang mudah sekali terbakar yang kemudian pada tahun 1948 digantikan dengan cellulose acetate film atau yang biasa disebut film aman. Tapi ternyata terminologi "aman" itu sendiri akhirnya disangsikan semenjak film-film yang menggunakan materi ini kemudian disimpan di tempat yang panas, lembab, akibatnya malah rusak parah. Laporan ini muncul pertama kali dari Pemerintah India, lalu kemudian studi digelar oleh laboratorium Kodak pada tahun 1960-an. Intinya, materi film ini kelak akan "membusuk" dan seperti bom waktu akan menghancurkan film itu sendiri.

Inilah yang dilawan dengan upaya restorasi. Film-film klasik Indonesia, yang dibuat lampau, rentan terhadap "vinegar syndrome" ini dan karenanya sebuah upaya penyelamatan serius sebaiknya segera dilakukan. Yang pernah menonton film "Lewat Djam Malam" sebelum direstorasi pastilah ingat bagaimana film tersebut sudah buram, goyang, penuh goresan dan suaranya buruk. Tetapi setelah direstorasi, gambarnya menjadi demikian mulus, suara pun jernih, meski tidak 100% tanpa cacat.

Buku berjudul "Lewat Djam Malam Diselamatkan" ini berisi upaya penyelamatan film terbaik karya Usmar Ismail yang berjudul "Lewat Djam Malam" atas kerja banyak orang (non-pemerintah). Seperti halnya film ini, yang produksi swasta, akhirnya orang-orang non-pemerintah yang menyelamatkannya juga. Film "Lewat Djam Malam" ini dibuat pada tahun 1954, produksi bersama dua perusahaan film swasta pribumi, Perfini yang diketuai oleh Usmar Ismail dan Persari yang diketuai oleh Djamaluddin Malik.

Buku ini terdiri dari 3 bagian, setiap bagian berisi esai-esai dan catatan yang dengan jernih menceritakan bagaimana terpilihnya film ini untuk direstorasi, proses kerja restorasi itu sendiri, juga mengenai sutradara Usmar Ismail, dan terakhir mengenai Sinematek Indonesia yang sekarang ini menaungi film-film Indonesia. 


Menyoal Ganja di Kehidupan Kita

ILEGAL, begitulah keberadaan ganja ke ruang-ruang privat kita. UU Narkotika No. 35 tahun 2009 menetapkan ganja sebagai narkotika golongan I, yang bersifat adiktif dan berbahaya bagi pemakainya. Di mata hukum, dalam UU Narkotika No. 35 tahun 2009, ganja termasuk jenis narkotika yang dilarang digunakan secara bebas, bahkan untuk kepentingan pelayanan kesehatan sekalipun (Pasal 8 ayat 1). Alasan yang sering kali dijadikan landasan medis UU tersebut adalah kandungan tetrahidrokanabinol (THC) yang menyebabkan pemakainya kecanduan dan merusak sel-sel otak hingga tersiksa secara fisik. Di samping itu, disebabkan juga ganja mengandung zat psikoaktif (zat memabukkan) yang bisa menghilangkan kesadaran akal penggunanya. Di luar ranah hukum, ganja diilegalkan karena sifatnya yang memabukkan itu sebagai tindakan yang amoral. Bahkan ada upaya keras dari kelompok dan organisasi, baik sipil maupun keagamaan, untuk melakukan 'perang suci' terhadap tumbuhan yang bernama latin Cannabis Sativa ini. Apa sebenarnya salah tanaman ganja ini?

Dalam pengantar buku ini, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, seorang spiritualis dan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, memberi pandangan berbeda dari sudut pandang agama. “Tiada ciptaan Tuhan yang sia-sia, termasuk pohon ganja,” tulisnya merujuk pada kitab suci Surah Asy-Syu’ara’ ayat 7 yang berbunyi: "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik." Dalam pengantar pendeknya itu, ia memberi pembenaran dan pembelaan kepada tanaman ganja dari tuduhan selama ini. Tuduhan ini kemudian dinamai oleh penyusun buku ini sebagai proses kriminalisasi pada ganja, sesuatu yang justru merugikan masyarakat Indonesia sendiri pada akhirnya.

Kegelisahan Pandji Atas Indonesia

GELISAH. Atau anak muda sekarang menamakannya galau. Serupa saja. Dua-duanya memiliki arti yang sama. Tinggal bagaimana cara memandangnya. Kaum pesimis akan mengatakan gelisah itu ibarat mendung hitam gelap pekat yang merupakan awal dari kiamat yang kelak akan datang, sedang kaum optimis akan mengatakan gelisah itu adalah sebuah "pertanda" saatnya melakukan sesuatu untuk mengatasi kegelisahan.

Umumnya kegelisahan itu wajar. Yang menjadikannya tidak wajar adalah bila selama bertahun-tahun gelisah terus. Barangkali karena terus-menerus gelisah itu, banyak dari yang tadinya gelisah kemudian apatis. Dan apa yang digelisahkan bisa apa saja. Namun dalam buku ini, yang dikisahkan oleh Pandji Pragiwaksono adalah kegelisahan yang melanda bangsa Indonesia ini. Kegelisahan ini akut sifatnya dan sudah menahun. Dibiarkan saja tanpa solusi. Disuarakan berkali-kali dengan nada miring (satir), semisal penyair Taufiq Ismail menulis sajak Malu Aku Jadi Orang Indonesia (1998), lalu menyusul pengamat politik Eep Saefulloh Fatah mengutarakannya hal serupa dengan menulis buku Bangsaku yang Menyebalkan.

Kemudian sepuluh tahun sejak reformasi, kegelisahan ini muncul kembali, tapi kali ini dengan semangat yang berbeda. Bukan satir lagi. Mulai reflektif. Mulai mendalam dengan semangat kritis oleh para penulis anonim yang menelurkan buku Kopi Merah Putih. Pertanyaan-pertanyaan khas kelas menengah yang menyuarakan bahwa Indonesia bisa lebih baik lagi sekarang. Dan berselang dua-tiga tahun berikutnya lahirlah buku yang ditulis Pandji Pragiwaksono ini. Awalnya beredar di internet sebagai bu-el (ebook) tetapi kemudian lewat kesepakatan dengan Bentang, buku ini naik ke mesin cetak. Kesepakatannya sederhana, setiap satu buku yang terjual, penerbit berjanji akan mendistribusikan satu buku gratis ke pelosok daerah.

Simbah Sepeda Yang Dicari-Cari

SUKA sepeda fixie? Sepeda lipat? MTB? BMX? Sepeda mini? Baiklah, sebaiknya membungkuk beri hormat pada simbahnya sepeda: Pit Onthel.

Simbah sepeda, yang disebut pit onthel ini punya riwayat yang lebih agung daripada jadi sekedar ojek sepeda di Stasiun Beos Kota. Paling tidak, dari dua generasi di atasku, membicarakan pit onthel ini seperti membicarakan sebuah kejayaan masa lampau yang tak lekang waktu. Di zaman ibuku sekolah misalnya, mereka yang naik pit onthel kena pajak sepeda. Betul! Ada pajaknya... barangkali terdengar aneh, tapi itu betul nyata terjadi tahun 1950-an.



Sepeda onthel merek Union Simply Bike tahun 1899 asal Amerika Serikat disinyalir sebagai Pit Onthel tertua di Indonesia. (Sumber: kompas.com)


Pit Onthel ini merevolusi moda transportasi. Yang dulunya bersandar pada angkutan di atas hewan, dengan adanya pit onthel, semua bisa diangkut tanpa perlu memberi makan/minum pada alat angkutnya. Tak sulit membayangkan bagaimana pit onthel ini dengan cepat menggantikan moda transportasi tradisional. Ada warna modernisasi yang menyemburat di balik mereka yang menggunakan pit onthel.

Lewat buku yang dikembangkan dari katalog yang pernah diterbitkan Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Pit Onthel atau juga terkadang disebut sebagai sepeda unta, sepeda kebo, atau pit pancal, dikupas satu persatu. Mulai dari semua merek Pit Onthel yang ada di Indonesia Simplek, Triumph, Gazelle, dan lain-lain, masing-masing dilengkapi penjelasan sejarah perusahaan dan gambar merek itu. Juga ada gambar sepeda onthel dari berbagai merek yang masih eksis, yang merupakan koleksi para pecinta sepeda onthel.

Hikayat Pengeliling Indonesia

SEBAGAI pembaca, saya sudah menunggu lama munculnya buku seperti ini. Buku tentang Indonesia yang dituliskan demikian apa adanya oleh seorang penulis sekaligus petualang (travel writer). Buku yang tidak melulu melihat Indonesia sebagai obyek, tetapi sebagai subyek yang hidup. Buku yang bicara mengenai manusianya, sekaligus juga bagaimana manusia itu berinteraksi dengan alamnya.

Syahdan, diujarkan pada saya sebuah keprihatinan yang kemudian saya amini benar kejujurannya bahwa setiap kali kita bicara tentang Indonesia, kita selalu bicara tentang Indonesia yang sedemikian besar, terutama kekayaan alamnya, tetapi di sisi lain kita disodorkan pada fakta bahwa demikian kerdil manusia-manusia Indonesianya.

Begitu sempit kita memaknai Indonesia. Serba sepotong. Indonesia dari mereka yang Islam. Indonesia dari mereka yang sosialis. Indonesia dari mereka yang berbisnis. Sosok Indonesia yang begitu luas dipahami oleh Soekarno di bawah pohon di Ende, Flores, tempat ia dibuang oleh penjajah Hindia-Belanda, seolah pudar. Indonesia yang toleran itu dan seolah adil dan beradab, pada akhirnya disodorkan dengan vulgar justru berkebalikan. Situasi yang gelap, yang seringkali kita hindari dan berlindung di balik dusta-dusta atas realita sosial.


Srimulat dalam Pergulatan

DALAM lanskap bangsa terkini yang di dalamnya terjadi tarik-menarik kekuatan ekonomi, sosial, politik, dan budaya di Indonesia yang disertai ketegangan penuh kontradiksi antara yang tulus dan munafik, yang jujur dengan pembohong, kasus Manohara, pembunuhan Nasruddin yang melibatkan Ketua KPK Antasari Ashar, flu babi, manuver partai-partai menjelang pemilu presiden Juli 2009 nanti, kebutuhan akan lawakan dan humor sudah barang tentu menjadi niscaya. Sebagai bangsa, kita betul-betul butuh lawakan dan humor. Bahkan boleh kita amini pernyataan seorang filsuf Barat bernama Immanuel Kant yang mengatakan lawakan atau humor dapat mencairkan manusia dari ketegangan. Karena lawakan dan humor akan menghadirkan senyum di wajah rakyat dan bukan tidak mungkin menghasilkan tawa terbahak-bahak karena gembira.

Dulu kita punya barisan pelawak yang humoris. Sebut saja Srimulat, Warkop DKI (dulu Warkop Prambors), Bagito, dan lainnya. Tekanan hidup akibat Orde Baru hingga krisis 1997 menemukan titik perimbangannya dengan kehadiran lawakan yang segar. Pada masa itu, kita bahkan menyebutnya "obat stress". Tapi sayang kini tinggal sejarah. Warkop, sepeninggal Dono dan Kasino, praktis tidak ada lagi. Bagito pun bubar karena habis. Miing Bagito tampaknya lebih sibuk ingin jadi caleg DPR RI suatu partai untuk daerah pemilihan Banten. Srimulat yang disebut pertama, rontok karena banyak pelawak yang bergabung di dalamnya meninggal: Asmuni, Basuki, hingga yang terakhir Timbul, menyusul para penggagasnya Teguh dan istrinya Raden Ajeng Srimulat, putri wedana Bekonang, Solo.

Sejarah Otista Yang Terungkap

BANDUNG bagiku lebih dari sekedar kota yang penuh makanan enak: batagor Riri, mie ayam Akung, yoghurt Cisangkuy, klappertart, dll. dan deretan Factory Outlet yang menyediakan kebutuhan sandang mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sekedar mengingatkan seandainya lupa bahwa Bandung pernah jadi tempat Soekarno menempuh pendidikan di THS (sekarang ITB) dan mendekam di penjara Sukamiskin karena idealismenya. Tapi lebih dari itu Bung, Bandung pernah melahirkan tokoh besar bagi bangsa ini, seorang yang dari suaranya saja bisa membuat kakimu bergetar mendengar, tapi entah bagaimana kisahnya hampir saja hilang ditelan waktu. Suara kritikannya pedas dan keras, itulah sebabnya ia dijuluki "Si Jalak Harupat" -- ayam jago yang pintar berkokok dan selalu menang jika diadu. Julukan ini berasal dari salah seorang guru HIS Cianjur bernama Wirasendjaja, kakak Sutisna Sendjaja pemimpin redaksi pertama surat kabar sunda Sipatahoenan. Namanya Oto Iskandar Di Nata. Disingkat Otista. Atau Otis demikian ia menyebut dirinya sendiri.

Nama Otista sekilas kukenal sebagai nama jalan di Jakarta dan di Bandung, namun pelajaran sejarah di sekolah tidak menyisakan secuil pun kisahan untuk didengar murid-muridnya. Tapi untunglah kisah hidup Si Jalak Harupat ini terangkum dalam buku ini, disampaikan dalam bentuk biografi politik yang menarik oleh Iip D. Yahya dengan teknik flashback yakni dengan terlebih dulu menceritakan kematiannya baru kemudian sepak terjangnya di dunia pergerakan, meski harus diberi catatan bahwa buku ini bukanlah buku satu-satunya dan pertamakalinya yang mengisahkan diri Oto Iskandar Di Nata. Ada paling tidak empat buku lainnya, termasuk buku Si Jalak Harupat: Biografi Oto Iskandar Di Nata karangan sejarawan wanita pertama Nina H. Lubis yang terbit tahun 2003 lalu.


Bunga Rampai tentang Pramoedya Ananta Toer

DULU, setiap tahun hatiku selalu berdebar-debar mendekati tanggal 6 Februari. Aku jadi gelisah mencari-cari kabar, apakah tahun itu akan ada perayaan ulang tahun Pramoedya Ananta Toer atau tidak. Biasanya selalu ada, dan biasanya selalu dipenuhi orang. Bila ada dan sempat, aku datang.

Luar biasa animo orang untuk mengenal sastrawan yang satu ini; tua-muda, perempuan pun ada, ada yang berbaju necis hingga gembel bulukan macam aku. Tak ada itu yang berbaju merah lambang palu arit, mengepal tangan tinggi-tinggi menyanyi lagu Internasionale.

Karena setelah membaca karyanya dan berpikir, akhirnya upaya untuk menempatkan Pramoedya dalam kelompok tersebut hanya akan mengecilkan dan menyempitkan arti sastrawan yang berulang-ulang menjadi Kandidat Nobel Sastra Dunia itu.

Rutinitas itu terus kulakukan sejak suatu persinggungan dengan dirinya di tahun '90-an hingga Pram merayakan ultah ke-81 di Teater Kecil TIM Jakarta. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dengan berbaju batik, di ultah ke-81 Pram datang dengan baju putih bersih, wajah cerah, dan murah senyum. Pram seperti hendak menyampaikan kata berpisah. Dan akhirnya benar, 30 April 2006 ia berpisah dari bumi manusia.

Kusut Masainya Catatan Tentang Masa Lalu Indonesia

CUKUP sering bukan kita mendengar frase Alex Haley yang menulis "Sejarah adalah milik mereka yang menang (History is written by the winners)"? Hampir selalu malah kudengar ini di fora pembahasan mengenai sejarah. Historiografi Indonesia adalah salah satunya.
Sewaktu negeri ini masih berupa nusantara di masa kolonial Belanda, penulisan sejarah melulu hanya mengungkap Belanda sebagai pemeran penting sejarah di nusantara. Bahkan perspektif kemajuan bangsa Indonesia dipandang sebagai bagian dari "kebaikan hati" kaum liberal Belanda. Begitu tidak dipandangnya perjuangan rakyat melawan Belanda, membuat narasi penulisan sejarah kolonialisme hanya pendek, tidak sebanding dengan ratusan tahun usia penjajahannya. Begitu merdeka, di tahun 1950 buru-buru dituliskan berbagai perjuangan rakyat di seluruh nusantara, seolah-olah mereka berada dalam satu komando. Soekarno berada di balik upaya penulisan kemenangan perjuangan rakyat itu. Siapa pahlawan siapa bukan, ditentukan olehnya. Tan Malaka, Sultan Hamid II, dan lain-lain dimasukkan dalam jajaran mereka yang tidak punya peranan sejarah.


'Membaca' Sketsa, Membaca Masyarakat

BUKU ini sebenarnya pemberian kepada istriku, yang sengaja melepaskan dunia kearsitekturannya dan memilih pada dunia pendidikan. Sang pemberi mungkin bermaksud agar istriku tidak melupakan dunia yang pernah mewarnai hidupnya itu. Demikian maksud sang pemberi itu kusampaikan pada istriku di suatu malam. Lalu pertanyaan ajaib muncul dari istriku: "Lha, kok aku yang dikasih? Kamu yang temannya kok malah nggak diberi?" Aku garuk-garuk kepala... Maka jadilah buku ini kami sepakati untuk dibaca berdua.

Buku ini memiliki judul yang atraktif: "2x50=100". Buku tentang berhitung? Oh tentu tidak. Lebih lengkap, buku ini berjudul "2 eyes x 50 years = 100 sketches". Cool. 2 mata siapa dan 50 tahun siapa? Pertanyaan itu baru terjawab ketika lembaran itu kita buka, inilah kado persembahan 50 tahun dari seorang arsitek Yogya yang terkenal Eko Prawoto. Isi kado persembahan itu adalah 100 sketsa yang dipilih oleh Eko dan sejumlah sejawatnya (yang barangkali sesama dosen UKDW Yogyakarta).

Bagaimana membaca buku ini? Secara fisik, tidak ada aksara yang malang melintang dalam buku ini, kecuali bagian pengantar yang diisi oleh seorang kurator seni (lho kok?) dan 2-3 orang terdekatnya. Pada bagian sketsa, terdiri dari bagian kanan berisi sketsa saja dan bagian kiri berisi penjelasan/caption atas sketsa itu. Karena berisi sketsa, aku dengan senang hati membolak-baliknya dan mulai dari bangunan yang aku kenal lebih dulu: tamansari, seputaran malioboro, dan lain-lain yang ada di kota Yogya. Baru kemudian, aku lihat sketsa rumah/kuil di Jepang, duplex yang ada di Sydney, bangunan bersejarah Aya Sofya yang ada di Turki, dan tempat-tempat lain.


Sumpah Yang Kehilangan Nilai Sakral

SEBUAH pesan singkat kuterima malam sebelum tanggal 28 Oktober 2008. Isinya begini: Persatuan Indonesia di tangan kita! Mari rayakan 80 tahun Sumpah Pemuda dengan mengenakan nuansa merah putih, Selasa 28 Oktober 2008. Mohon forward ke teman2 lain. Ealah...

Ada yang menggelitik pikiranku setelah membaca isi pesan singkat itu. Sederhana saja. Apakah setelah 80 tahun sumpah itu dibuat, sumpah itu masih punya makna sakral bagi para pemuda sekarang? Apakah dengan bernuansa merah putih seperti baju yang kukenakan hari ini, dengan serta merta persatuan di Indonesia terjadi? Apakah tantangan yang dihadapi pemuda di zaman 1928 masih aktual di tahun 2008 ini?

Lalu aku ingat buku ini, yang diterjemahkan dari tulisan Keith Foulcher di jurnal Asian Studies Review edisi September 2000, “Sumpah Pemuda: The Making and Meaning of a Symbol of Indonesian Nationhood”. Dan begitu cepat dalam tempo 1 bulan setelahnya, sudah diterbitkan oleh Komunitas Bambu yang dikomandani oleh J.J. Rizal, dosen sejarah di FIB Universitas Indonesia. Buku ini kecil, tapi bernas seingatku. Nah, tampaknya dia minta dibaca ulang tadi malam karena aku lupa beberapa detilnya.

Dalam buku ini, sejarah Sumpah Pemuda ditulis secara runut, sesuai kronologi waktu mulai dari tahun-tahun menjelang Kongres Pemuda II di akhir bulan Oktober 1928 (masa kolonial), masa kemerdekaan, masa Orde Lama, masa Orde Baru hingga Reformasi. Secara kasat mata, Keith menunjukkan bahwa sejarah Sumpah Pemuda sebagai simbol nasional banyak tersangkut paut pada konteks ideologi, kepentingan penguasa.

Adalah Muhammad Yamin, pemuda 25 tahun yang menjadi pemimpin Jong Sumatranen Bond dan anggota dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia menyodorkan resolusi yang dihasilkan Kongres Pemuda II di bulan Oktober 1928.


Ketika "Man of Letters" menuliskannya untuk kita...

KALI terakhir aku membaca Sindhunata adalah lewat kolom-kolom ulasan sepakbolanya di harian nasional Kompas (yang kemudian dibukukan). Itu pun caranya menulis sudah memukau. Begini pernah ditulisnya: "Sepak bola bukan sekadar permainan keras. Sepak bola juga bagian dari alam rasa." Lalu Sindhunata bercerita tentang kaitan sepakbola dengan musik. Dituliskannya banyak pemain-pemain dan pelatih kesebelasan dunia menyukai musik dan musik itu membantu semangat timnya untuk menang. Ada yang suka musik klasik, tapi ada juga yang suka musik rock.

Terlepas dari suka tidaknya orang pada caranya menulis kolom sepakbola, ciri tulisan Sindhunata telah tertera jelas: ia mampu menghidupkan aktivitas 22 orang yang berebutan bola putih bundar itu jadi lebih dekat dan manusiawi. Ciri ini ternyata memang sudah tampak dari tulisan feature-nya yang sudah hilir-mudik sejak tahun 1979, seperti yang terdapat pada kumpulan featurenya yang berjudul Segelas Beras untuk Berdua ini.

Cerita Mbok Tukinem yang buta, bukankah sedemikian hidup sehingga seolah-olah Mbok Tukinem sendiri sedang bercerita di depan hidung kita? Pak Guno guru STM? Johanna istri Douwes Dekker yang di akhir hayatnya malah kesepian dan miskin? Bukankah sepertinya diri ini ikutan dikutuk karena tidak ikut serta dalam pemakamannya dan mendoakannya?

Sejak karyanya yang klasik Anak Bajang Menggiring Angin, aku pikir tidak berlebihan bila orang menyebut Sindhunata sebagai puncak kecerdasan berbahasa. Ia memang "Man of Letters", yang total dan setia membaktikan hidupnya bertekun di semak belukar makna huruf-huruf. Ia menaruh ruh di setiap huruf agar setiap huruf itu mengetuk-ngetuk hati pembacanya, bahkan pembaca seperti batu pun akan menitikkan air mata membaca feature-feature yang ia tuliskan di buku ini.


Jungkir Balik Dalam Sastra

TERGERAK ingin tahu jawaban apakah "sastra merupakan dunia jungkir balik", aku baca buku pinjaman dari Ronny ini. Secara sederhana (tidak rumit), Budi Darma menjelaskan apa saja yang berlaku di dalam sastra. Bahwa apa yang melawan logika, itu bisa diterima dalam sastra bahkan bisa dikatakan indah. Sesuatu yang barangkali menjadi ciri khasnya.

Aku jadi ingat pembicaraan seorang teman yang mendapat keluhan dari teman kantornya. "Ngapain sih baca sastra?" Atau kernyitan istriku sendiri menyaksikan penampilan Gieb di acara Halal Bihalal kemarin. "Gieb, ngapain sih kok tiba-tiba jatuh?" Oalaaaaaahh.... Harusnya mereka kusodori saja buku ini. Barangkali dengan demikian bisa memahami sastra.


Pramoedya Dari Pembaca Terdekat

Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali: Catatan Pribadi Koesalah Soebagyo Toer
Karya Koesalah Soebagyo Toer

Terbit Juli 2006 oleh Kepustakaan Populer Gramedia | Binding: Paperback | ISBN: 979910047X | Halaman: 266


AKU pernah menuliskan puisi ini untuk sosok pengarang terhormat itu.

"tulisanmu, Pram
yang kini jadi berbilang buku
tak mengapalah 'tuk gantikan kitab suciku
meski pastor bisa marah kepadaku

karena nyanyi sunyimu
lebih membekas daripada kidung Daud
lagi luka itu dan penjara di pulau buru
benarlah teramat menyentuh hatiku

tulisanmu, Pram
yang kini jadi bertumpuk di kamarku
kukenal belumlah lama

hingga satu malam itu
kutemui kau di simpang jalan
saat semua kita berjuang
lawan rezim yang tiran
lalu sama-sama kita kecam

orasimu, Pram, di panggung kecil itu
di depan lukisan tentang revolusi
dan didekapan yel-yel pembaruan
semua kita sadari
itu benar-benar kini terjadi

orasimu, Pram, tentang negeri ini
terdengar lantang pekat memenuhi
tulisanmu, Pram, tentang derita dan ironi
masih 'kan membekas 'tuk beberapa generasi

padamu, Pram
ingin kukatakan ucapan kecil ini:
- Pram, terima kasih -
Dan mari, biarlah kupeluk kau
dan kujabat erat-erat tanganmu"

Jakarta, 14 Juli 1999, Sekitar aula Perpustakaan Nasional

Seolah tak mau kalah dengan Koesalah, sajakku berjudul "Padamu Pram" ini semoga melengkapi gambaran tentang PAT. Gambaran yang coba dipasang satu persatu seperti sebuah puzzle tentang kehidupan penulis yang wafat menyisakan rasa prihatin.

Koesalah adalah adik Pramoedya yang diajak ke Jakarta pertama kali. Karena Koesalah pula, Pramoedya pernah disemprot polisi. Kakak-beradik ini yang diikat oleh kesamaan nasib ditelantarkan orang tua, hingga harus mengadu nasib ke Jakarta dari kampung kecil mereka di Blora, pun harus sama-sama menderita sebagai eks-tapol. Koesalah bisa dibedakan dengan Pramoedya secara kasat mata. Ia lebih pendiam, sedang kakaknya yang biasa dipanggil Mas Muk, lebih terang benderang dalam berucap kata.

Memoar, seberapa pun sederhananya dan tidak sempurnanya, selalu membantu dalam merekonstruksi kejadian yang sebenarnya: dalam hal ini kisah hidup sang kakak, Pramoedya Ananta Toer.

4/5

Seia Sekatanya Multatuli

Buah Renungan
Karya Multatuli

Terbit 1974 oleh Pustaka Jaya | Binding: Paperback | Halaman: 146

Dipilih oleh Asrul Sani dan Gerard Termorshuizen dari buku Volledige Werken, 7 jilid, karangan Multatuli, terbitan Van Oorschot, Amsterdam, 1950-1953
Penerjemah: Asrul Sani

Berisi 6 pemikiran Multatuli yang tertuang dalam:
1. Keyakinan
2. Tunjukkan aku tempat, dimana aku telah menabur
3. Surat-surat cinta
4. Buah fikiran
5. Sekolah raja-raja
6. Aforisme

ANTARA tahu dan mau adalah dua hal yang memiliki derajat berbeda. Berbahagialah orang yang tahu akan sesuatu, dan mau melakukan sesuatu akan yang ia tahu itu. Karena dia adalah orang yang seiya sekata pikiran dan perbuatannya. Tetapi orang yang tahu akan sesuatu, tetapi tidak mau sama saja dengan dari orang yang tidak tahu, tetapi mau melakukan sesuatu. Keduanya sama-sama kebiasaan buruk.

Multatuli adalah orang berbahagia itu. Barangkali salah satu orang Belanda yang paling berbahagia yang aku kenal. Antara apa yang dipikirkannya dengan apa yang dilakukan sebangun sejalan. Pikirannya yang cerlang dan jelas tentang kolonialisme di nusantara membuatnya seringkali berkonflik dengan golongan Kristen dan orang-orang Belanda moralis lainnya (dari golongan yang tahu, tetapi tidak mau).

Lewat buku yang setaraf dengan memoar ini, kita bisa menyelami diri Multatuli, bagaimana pemikiran-keterlibatannya dan kepeduliannya pada mereka yang terjajah tertera jelas di dalamnya. Aku kutipkan yang menarik:

Siapa yang tidak bekerja tidak makan, kata seorang ahli ekonomi.
Dan rakyat yang menderita lapar menjawab: "Yang tidak makan, tidak bisa bekerja"

Siapa yang tidak bekerja, tidak makan, kata seorang menteri.
Dan buruh yang tidak punya pekerjaan menjawab "Yang menghalangi orang bekerja, juga demikian"


Meski kesannya berseloroh, Multatuli menggarisbawahi bahwa golongan Kristen dan moralis Belanda perlu membuka mata lebar-lebar atas penderitaan rakyat nusantara. Mereka perlu menyatukan pikiran dan perbuatan. Suatu hal, yang sebenarnya, pantas juga dilontarkan untuk para pemimpin kita. Agar mereka seiya sekata pikiran dan perbuatannya.

5/5

Jadilah Mercurian seperti para Hoa kiau...

Hoa kiau di Indonesia
Karya Pramoedya Ananta Toer

Terbit 1960 oleh Bintang Press | Binding: Paperback | Halaman: 299

BUKU ini mengupas masalah Hoa kiau di Indonesia ketika marak pembatasan etnis Tionghoa. Buku ini dibagi dalam sembilan surat yang dituliskan Pram kepada sahabat penanya di luar negeri yang berisikan pendapat dan pandangannya terhadap masalah hoa kiau di Indonesia. Namun bagi saya, buku ini bukanlah an sich mempersoalkan Hoa kiau di Indonesia sebagaimana judulnya, tetapi persoalan ruang untuk dialog perbedaan pendapat dan etika untuk menjawab perbedaan itu dengan pendapat yang wajar.

Saya sebenarnya bersepakat untuk lebih memakai kata “Hoa kiau” atau overseas Chinese daripada kata “Cina” maupun “Tionghoa.” “Tionghoa” atau “Zhonghua” artinya “orang (kerajaan) Tengah. ” Zhongguo" adalah nama Republik Rakyat Tiongkok dalam bahasa Mandarin. Nama “Cina” berasal dari kata dinasti Cin. Namun “Cina” resmi dimaksudkan untuk menghina pada zaman Presiden Soeharto. Mengucapkannya saja kadang-kadang saya kagok... huh :(

Leo Suryadinata dalam buku The Culture of the Chinese Minority in Indonesia membuat dua kategori orang Hoakiau: peranakan dan totok. Dua kategori ini mulai muncul pada awal abad ke-20 ketika migrasi orang Cina ke Jawa meningkat. Menurut Suryadinata, kaum peranakan atau babah kebanyakan tak menguasai bahasa etnik mereka, entah Hokkian, Hakka atau Teochiu. Ada sedikit yang bisa bahasa Mandarin. Mereka mengirim anak-anaknya ke sekolah dengan kurikulum Belanda. Orientasi kewarganegaraannya Belanda. Mereka bekerja sebagai profesional, dokter, arsitek, penulis dan sebagainya.

Yuri Slezkine mungkin bisa membantu menerangkan fenomena Hoa kiau ini. Slezkine cendekiawan Rusia, dosen University California, Berkeley, menulis sebuah buku berjudul The Jewish Century, tentang etnik Yahudi, yang diganyang di Eropa sejak akhir abad ke-19, lalu melakukan migrasi besar-besaran ke negara lain. Analisisnya, bisa diterapkan pada minoritas lain seperti pada Hoa kiau di negeri ini. Slezkine menulis bahwa orang Yahudi hidup dalam suatu masyarakat dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu, dengan cara hidup tertentu pula, yang menimbulkan sentimen dari masyarakat sekitarnya. Namun orang Yahudi tak sendirian. Di dunia ini, di berbagai tempat dan waktu berbeda, selalu ada kelompok, yang secara eksklusif menyediakan jasa untuk masyarakat di sekitarnya. Mereka termasuk Roma-Gypsi di Eropa, orang Fuga di Ethiopia, Sheik Mohammadi di Afghanistan, etnik Armenia, orang India di Afrika Timur, etnik Lebanon di Afrika Barat dan Amerika Latin serta Hoakiao di Asia Tenggara.

Slezkine menyebut mereka, kaum "Mercurian," sebagai lawan kata dari apa yang disebutnya, "Apollonian.” Dalam kepercayaan Romawi, Apollo adalah dewa pertanian dan peternakan. Masyarakat Apollonian utamanya petani, plus ksatria dan ulama, yang hidup dengan cara mengatur akses para petani tadi ke tanah dan surga. Mercuri adalah dewa para pengembara, pedagang, penerjemah, tukang, penunjuk jalan, pengobat dan semua pelintas batas. Kaum Mercurian adalah kelompok etnik yang tak terlibat produksi makanan. Mereka hidup dengan menyediakan jasa kepada kaum Apollonian. Zaman dulu, masyarakat Apollonian menganggap ada pekerjaan yang berbahaya atau kotor, untuk dikerjakan warga mereka sendiri. Contohnya, berhubungan dengan negeri asing; mengatur uang; mengobati orang sakit; bekerja dalam penempaan logam misalnya. Semua ini adalah kemahiran kaum Mercurian. Para pengembara kebanyakan mulai sebagai tukang. Kakek buyut Slezkine adalah tukang besi Yahudi.

Kaum Mercurian sering pindah tempat. Mereka memahami pentingnya menguasai bahasa-bahasa. Kaum Apollonian memandang Mercurian berbahaya, kotor dan asing. Kaum lelakinya bukan ksatria, jarang ikut perang. Kaum perempuannya dianggap cantik namun juga genit, menggoda. Makanan mereka berbeda. Mereka hanya membeli, menjual dan kemungkinan mencuri, barang maupun ide. Mereka dibenci dan puncak kebencian terhadap kaum Mercurian adalah Holocaust –pembunuhan lebih dari enam juta orang Yahudi di Jerman oleh rezim Adolf Hitler. Penjagalan manusia terbesar dalam dunia modern saat Perang Dunia II.

Holocaust bikin jutaan orang Yahudi lari dari Eropa. Slezkine menyebut tiga tujuan utama: Palestina dimana mereka mendirikan negara Israel; Amerika Serikat dimana ada nasionalisme liberal non-etnik; dan Uni Soviet dimana ada komunisme –dunia tanpa kapitalisme dan nasionalisme. Semua berhasil dengan variasi masing-masing. Kaum Yahudi lantas jadi lambang dari penganyangan massal sekaligus kesuksesan.

Slezkine menyebut Mercurian berhasil karena sudah lama sekali jadi kaum urban, melek sastra, artikulatif dan secara pekerjaan fleksibel. Mereka mementingkan akal sehat, keuletan, kebersihan, melintasi batas serta memilih “memelihara” hubungan dengan orang daripada memelihara ternak.

“Hari ini kita semua diharapkan jadi orang Mercurian,” kata Yuri Slezkine. Saya kira, barisan Mercurian ini bertambah di Indonesia dengan pendatang Madura di Kalimantan, orang Jawa di Sumatra, perantau Bugis, Buton, Makassar di Maluku atau orang Rote di Pulau Timor. Jadi hidup hoa kiau, hidup kaum mercurian.

5/5

Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas

Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas
Karya Albert Camus

Terbit 1999 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback | ISBN: 9796553295 | Halaman: 180

Diterjemahkan dari "Le mythe de Sisyphe".
Penerjemah: Apsanti Djokosujatno

"Kiri" adalah kebutuhan tak tercegah. Itu kritik filsuf Jean Paul Sartre atas sastrawan Albert Camus. Pada tahun 1952 hampir semua media di Perancis menyoroti perdebatan antara Camus dan Sartre soal komunisme setelah Camus menerbitkan buku L'homme Revolte setahun sebelumnya. Buku ini bisa dikatakan memuat penolakan Camus atas komunisme. Sikap Camus itu oleh Sartre dikecam berada di luar sejarah.

Pada waktu itu, Marxisme seolah jadi spirit zaman. Banyak intelektual yang menggebu menganut paham itu dan lantas berubah jadi partisan. Tapi, Camus memandang tawaran pembebasan Marxisme semacam tawaran penyelamatan semu. Camus seorang agnotis. Ia mengkritik konsep gerakan kiri yang bagi dia tak banyak berbeda dengan ziarah eskatologis kristiani: sama-sama menuntun manusia ke pengharapan apokaliptik.

Terhadap kekuasaan, sikap Camus -yang tak pernah jadi "neutral man"- tidaklah diragukan. Saat Perancis diduduki oleh Jerman, ia menerbitkan sebuah jurnal perlawanan "Combat". Sebagaimana dapat kita baca terjemahan Inggrisnya yang berjudul Night of Truth, Blood of Freedom, Letter to a German Friend, artikel-artikelnya itu pendek-pendek tetapi menggugah. Ia juga mengecam rezim Franco di Spanyol, menolak melakukan perjalanan ke Spanyol, dan keluar dari UNESCO karena badan dunia itu mengakui rezim Franco. Dalam pidato penerimaan Nobel Sastra 1957, ia menegaskan bahwa sastrawan tidak hanya menulis, tetapi "terlibat".

Seluruh aktivitasnya menentang pemerintahan totaliter itu tidak berangkat dari ideologi politik atau iman tertentu, tetapi berdasar suatu sikap moral "nekat" tertentu. Bangunan moral itulah yang dapat kita baca dalam Le Myte de Sysyphe (Mite Sisifus), yang pertama kali terbit pada tahun 1942. Inilah buku kumpulan esai yang mendasari pemikiran L'homme Revolte atau L'Etranger (1954) dan La Peste (1956) - dua novel terbesar yang membuatnya diganjar hadiah Nobel.

Dalam buku ini terbentang argumentasi Camus mengapa dunia ini bagi dia tanpa makna. Bagi Camus, sesuatu yang absurd terjadi ketika pikiran manusia tak terbentung membutuhkan suatu kejelasan sampai ke lubuk hati terdalamnya tapi justru tidak mendapatkannya. Fakta kematian adalah fakta absurditas terbesar. Karena itu, memahami kematian adalah kesia-siaan. Kodrat manusia sesungguhnya mengalami penderitaan absurd. Tapi, Camus tidak melakukan seperti Nietzsche yang "membunuh Tuhan". Sebagai gantinya, ia menyerukan pemberontakan. Bagi Camus, tidak adanya hari esok justru titik tolak kebebasan yang mendalam. Ia meminjam kisah mitologi Yunani, Sisifus, yang menggelindingkan batu ke puncak bukit yang tidak pernah ia capai. Setiap kali ia hendak sampai puncak, batu itu terguling, tapi kemudian ia mengulanginya lagi, demikian seterusnya. Sisifus menyadari itu sebagai kesia-siaan, tetapi dia terus berjuang.

Manusia, menurut Camus, seperti Sisifus: harus pertama-tama mengerti ketidakrasionalan dirinya. Kemudian, ketidakrasionalan itu harus dijadikan titik tolak pemberontakan yang berani. Berani di sini artinya berani berkonfrontasi dan bersikap terhadap kegelapannya sendiri. Pandangan ini dapat dilihat pada sikap tokoh-tokoh novelnya.

Terbitnya terjemahan utuh Le Myte de Sysyphe ini membuat kita dapat mencerna nada dasar pemikirannya yang sesungguhnya optimis, tidak lagi nihilis seperti yang disangkakan banyak esais. Timbulnya penafsiran Camus adalah seorang nihilis dan pesimistis bisa jadi lantaran Camus menganjurkan bunuh diri di beberapa bagian buku ini. Soal ini harus dibaca hati-hati. Sebab, yang ia maksudkan dengan bunuh diri bukanlah bunuh diri karena kekecewaan atau keputusasaan yang baginya merupakan pelarian, melainkan bunuh diri dalam arti prinsip gairah untuk mati yang sejajar dengan gairah untuk hidup

Orang Miskin Bangladesh Boleh Berbahagia...

Bank Kaum Miskin
Karya Muhammad Yunus

Terbit 2007 oleh Marjin Kiri | Binding: Paperback | ISBN: 979126001X | Halaman: 269

Edisi Indonesia dari "Vers un monde sans pauvreté".
Penerjemah: Irfan Nasution


ORANG miskin di Bangladesh boleh berbahagia sekarang. Terima kasih pada bank-bank yang tersebar di negeri banjir itu yang bernama Grameen. Dalam Bank ini semua orang miskin, juga para pengemis, dapat memperoleh kredit tanpa agunan.

Hingga akhir 2006, Bank Grameen telah mengucurkan kredit kepada hampir 7 juta peminjam di 73.000 desa. Para peminjamnya kebanyakan perempuan. Mereka memakai kredit untuk memulai usaha kecil, membangun rumah dan membiayai sekolah. Khusus untuk para pengemis, Bank Grameen menyediakan kredit tanpa bunga. Peminjam boleh membayar kapan pun dengan jumlah berapa pun. Mereka diberi ide agar membawa barang seperti makanan, mainan dan kebutuhan rumah tangga saat mereka meminta-minta dari rumah ke rumah. Lebih dari 85.000 pengemis ikut program ini. Pinjaman untuk mereka biasanya sekitar Rp 120.000,-

Semua itu dimungkinkan karena Muhammad Yunus, pendiri Bank Grameen, percaya bahwa jika diberi modal, jutaan orang miskin dapat menciptakan keajaiban dengan usaha kecil mereka.

Dengan memberikan kredit kepada orang miskin, Yunus melawan kemiskinan sebagai langkah awal untuk perdamaian. "Perdamaian," kata Yunus, "terancam oleh tatanan ekonomi, sosial dan politik yang tidak adil, tiadanya demokrasi, kerusakan lingkungan dan pelanggaran hak-hak asasi manusia."

Jangan bayangkan semua itu terjadi semudah membalikkan tangan. Semua jerih payah itu butuh waktu 30 tahun. 30 tahun lalu Bangladesh sedang dilanda kelaparan hebat. Yunus mengajar di salah satu universitas di negerinya. Di ruang kelas ia mengajarkan teori ekonomi yang muluk-muluk dengan antusiasme seorang yang baru lulus dari Amerika Serikat. Namun, selesai mengajar, begitu keluar kelas, ia langsung melihat kerangka hidup berkeliaran di sekelilingnya: orang-orang yang sekarat, tinggal menunggu ajal.

"Saya merasa," tutur Yunus, "apa pun yang telah saya pelajari, apa pun yang saya ajarkan, hanya merupakan khayalan, yang tak punya arti bagi kehidupan orang-orang itu. Karena itu, saya mulai mencoba mengetahui bagaimana orang-orang yang tinggal di kampung sebelah universitas kami itu menjalani kehidupan mereka. Saya ingin tahu apakah ada sesuatu yang dapat saya lakukan sebagai sesama manusia, untuk menunda atau menghentikan kematian, walaupun hanya menyangkut satu orang saja. Saya pun meninggalkan pola pandang seekor burung, yang memungkinkan kita untuk melihat segala-galanya jauh dari atas, dari langit. Saya mulai mengenakan pandangan mata seekor cacing, yang berusaha mengetahui apa yang saja yang terpapar persis di depan mata – mencium baunya, menyentuhnya, dan melihat apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan."

Yunus menanggalkan ke-priyayi-annya dan bergumul langsung dengan rakyat yang membutuhkan kepintarannya. Berbeda dengan orang-orang perbankan, Yunus memilih untuk percaya pada orang-orang miskin. Ia sendiri mulai meminjami dan herannya setiap kali dipinjam, uangnya selalu kembali setiap sennya.

Akhirnya, pada tanggal 2 Oktober 1983 berdirilah Bank Grameen, Bank Orang Miskin. "Betapa bersemangatnya kami semua, ketika kami memiliki bank kami sendiri, dan kami dapat melakukan ekspansi sekehendak kami. Dan nyatanya kami terus berkembang."

Berkat Bank Grameen, separo lebih nasabah telah melewati garis kemiskinan dan 5.000 pengemis berhenti meminta-minta. Lalu Panitia Nobel 2006 menganugerahkan penghargaan Nobel Perdamaian kepada Muhammad Yunus dan Bank Grammen.

Contoh yang patut ditiru bukan? Nah, cendekia... jangan malu-malu untuk mengikuti jejak pak Yunus untuk membuat orang miskin di Indonesia bahagia.

Epigraf dan Cinta Sejarah

Inskripsi Islam Tertua di Indonesia
karya Claude Guillot, Ludvik Kalus

Terbit: 2008 oleh Kepustakaan Populer Gramedia, Ecole francaise d'Extreme-Orient, Forum Jakarta-Paris | Binding: Softcover | ISBN: 9799101034 (isbn13: 9789799101037) | Halaman: 181 | Penerjemah: Laddy Lesmana, Rita Parasmanan, Soegeng Saleh, dkk.

MENEMUKAN buku ini, seperti mengenang kembali guru sejarah yang disebut E.S. Ito dalam Rahasia Meede sebagai Guru Uban. Guru sejarahku tidak cocok disebut Guru Uban, tetapi Guru Botak, ya karena memang kepalanya botak plontos. Tetapi dia guru sejarah yang luar biasa.

Pada periode ketika pembahasan sejarah masuknya Islam, Guru Botak tiba-tiba bicara bahwa dunia sejarah Indonesia sedang goncang karena makam Leran ternyata hanyalah sebuah jangkar kapal. Dengan mata-mata takjub, kami sekelas memandang Guru Botak. Guru Botak melanjutkan penjelasannya bahwa makam Leran selama ini dipandang penting karena merupakan prasasti tertua yang memuat huruf Arab dan ayat-ayat Al-Quran di Indonesia. Makam Leran merupakan penanggal waktu masuknya Islam di Indonesia. Nah, bila ia ternyata hanya sebuah jangkar kapal, lalu kapankah tepatnya Islam masuk ke Indonesia. Kami semua termangu, darimana guru sejarah yang satu ini tahu semua hal itu, sementara semua buku yang kami baca tidak menyatakan demikian.

Sampai akhirnya 15 tahun kemudian, aku menemukan buku ini lagi di bulan Maret 2008 terbitan KPG. Secara menakjubkan, kedua peneliti ini mengulas keberadaan inskripsi yang ada di Indonesia. Epigrafi (ἐπιγραφολογία, dari bahasa Yunani ἐπιγραφή — "inskripsi") merupakan studi inskripsi atau epigraf yang dipahat pada batu atau material lainnya, atau pada lempeng besi, suatu ilmu yang mengklasifikasikan seperti pada konteks kultural dan waktu, memahaminya dan kemudian menarik kesimpulan dari temuannya. Temuan mereka sama persis dengan apa yang diucapkan Guru Botak. Wah!

Tapi itu cuma salah satu yang menarik di buku ini. Banyak isi di dalamnya memutar balikkan pengetahuan sejarah yang telah dinarasikan oleh banyak buku sejarah. Tentang penyebaran Islam, tentang siapa yang dimakamkan di Gresik, tentang keberadaan masjid di Kudus. Semua dilandaskan pada argumen sejarah yang kuat.

5/5
 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator