Hikayat Pengeliling Indonesia

SEBAGAI pembaca, saya sudah menunggu lama munculnya buku seperti ini. Buku tentang Indonesia yang dituliskan demikian apa adanya oleh seorang penulis sekaligus petualang (travel writer). Buku yang tidak melulu melihat Indonesia sebagai obyek, tetapi sebagai subyek yang hidup. Buku yang bicara mengenai manusianya, sekaligus juga bagaimana manusia itu berinteraksi dengan alamnya.

Syahdan, diujarkan pada saya sebuah keprihatinan yang kemudian saya amini benar kejujurannya bahwa setiap kali kita bicara tentang Indonesia, kita selalu bicara tentang Indonesia yang sedemikian besar, terutama kekayaan alamnya, tetapi di sisi lain kita disodorkan pada fakta bahwa demikian kerdil manusia-manusia Indonesianya.

Begitu sempit kita memaknai Indonesia. Serba sepotong. Indonesia dari mereka yang Islam. Indonesia dari mereka yang sosialis. Indonesia dari mereka yang berbisnis. Sosok Indonesia yang begitu luas dipahami oleh Soekarno di bawah pohon di Ende, Flores, tempat ia dibuang oleh penjajah Hindia-Belanda, seolah pudar. Indonesia yang toleran itu dan seolah adil dan beradab, pada akhirnya disodorkan dengan vulgar justru berkebalikan. Situasi yang gelap, yang seringkali kita hindari dan berlindung di balik dusta-dusta atas realita sosial.


Tetapi buku ini mengembalikan porsi Indonesia pada gagasan awal Soekarno itu. Dengan menawarkan sebuah gerakan untuk meraba, gerakan yang biasanya efektif digunakan bilamana kita berada dalam lorong gelap, membiarkan syaraf sensitif pada jemari menemukan apakah sebenarnya Indonesia itu, siapakah Indonesia itu, dan lebih menarik lagi, dikisahkan bukan dari tokoh-tokoh publik, melainkan dari mereka yang sehari-hari justru mempertanyakan dimanakah Indonesia, mereka yang hidup di garis terdepan (atau dikatakan dengan sumir, ada di garis terluar dari Jawa).

Maka dikisahkan sebuah hikayat yang berbeda dari cerita mainstream kebanyakan tentang Indonesia. Hikayat yang justru bercerita tentang lautan begitu indah hancur karena penambangan karang. Hikayat yang bercerita istri-istri penyelam yang hidupnya semakin berat karena suaminya meninggal karena terbiasa menyelam menggunakan kompresor -- sehingga disebut janda kompresor -- hanya karena ketidakmampuan menyediakan peralatan selam yang aman. Hikayat yang bercerita sungai terlebar di Kalimantan kering kerontang sehingga tersedia gratis lapangan sepakbola yang demikian luasnya untuk masyarakat. Hikayat yang diceritakan dengan pedih, misalnya tentang pembantaian juga terjadi di Flores, basis warga Katolik, pada orang-orang yang dituduhkan komunis pasca 65.

Simak Kupasan Buku "Meraba Indonesia" dalam video ini:


Hikayat ini dituturkan dari seorang jurnalis muda yang turut dalam petualangan mengelilingi Indonesia menggunakan sepeda motor. Bukan motor besar, tapi motor jenis bebek yang dimodifikasi sedikit. Hikayat dari pengeliling Indonesia yang bernama Ahmad Yunus. Bersama Farid Gaban, mereka mengelana membawa bendera Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Semula hanya untuk memotret dan mendokumentasikan tempat-tempat di Indonesia, tetapi di awal perjalanan, Ahmad Yunus mengaku tersadar bahwa ia harus menulis. Ia harus memaparkan apa yang ditemuinya selama perjalanan yang menghabiskan waktu hampir selama setahun dalam hidupnya.

Ia berjalan ke banyak tempat, sekaligus menulis, mengambil gambar, memikirkan hendak dijadikan apa semua bahan yang telah dikumpulkan ini nantinya. Ia tidak pertama-tama berpikir akan menjadi seorang penulis pengelana terkenal. Ia menulis terutama karena ada kebutuhan untuk menceritakan hikayat manusia-manusia Indonesia yang ditemuinya di pulau-pulau di garis depan Indonesia, membeberkan kisah hidup mereka, mencoba mengetuk mata hati pembaca dan menyodorkan secara gamblang: inilah Indonesia yang sesungguhnya. Indonesia bukan sekedar Jakarta dan kompleksitasnya.

Buku ini penting untuk dibaca, sehingga saya sebagai pembaca merasa perlu untuk merekomendasikannya kepada pembaca lain. Memang bila dibandingkan dengan teknik menulis perjalanan yang dikuasai penulis muda lain, tampak benar tulisan Ahmad Yunus masih terlalu linier, kronologis, di permukaan, dan kurang figuratif, juga kecerobohan penulis dan penerbit untuk membiarkan kesalahan cetak yang demikian banyak, akan tetapi di balik semua itu, siapapun pasti akan bersepakat dengan saya, betapa buku ini mempresentasikan Indonesia terkini sekaligus kepedulian untuk membangun Indonesia yang lebih baik dengan cara yang inspiratif.

Bila perlu, penulis bisa menulis ulang kembali bahan-bahan yang demikian banyak yang berhasil dikumpulkannya, disebutkan sekitar 10.000 frame foto, 70 jam durasi video, dan ratusan lembar catatan perjalanan, dengan teknik menulis yang lebih memikat, maka dapat saya angankan buku ini nantinya pantas diunggulkan sebagai buku travel writing tentang Indonesia terbaik sepanjang masa.

DETIL BUKU
Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara
karya Ahmad Yunus
Terbit Juli 2011 oleh Penerbit Serambi
Binding: Paperback
ISBN: 9789790242852
Tebal: 372 halaman
Disertai video dan foto perjalanan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa
Rating: 3/5

2 balasan:

BAYU ANDRA mengatakan...

SANGAT BANGGA SEKALI TEMAN SEPROFESI SUDAH MENCIPTAKAN KARYA KISAH PERJALANANNYA.SAYA MASIH BODOH DARI TH.87-89 BAHKAN HINGG KINI.MASIH NOL ROSOKAN SEJARAH TERPAMPANG DIDINDING PALEREMAN RUMAH.

Muhammad Syaifudin mengatakan...

Kakek saya juga pengeling indonesia berjalan kaki selama 10 tahun dari 1959-1969 dan ada tanda tangan dan setempel dari pihak yang ia kunjungi

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator