Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Orang Jawa yang Berbeda

Rumah Panggung
karya Linus Suryadi AG

Terbit 1988 oleh Penerbit Nusa Indah | Binding: Paperback | ISBN: - | Halaman: 160

ORANG Jawa yang satu ini berbeda.

Pertama, Linus berbeda atas kelincahannya mengusung Pariyem ke derajat sastra yang dibicarakan orang. Bukan saja soal teknis dari gaya yang ditulis prosa liris, tetapi keberanian mengangkat tema seorang babu yang hidup di keluarga ningrat/priyayi.

Kedua, Linus berbeda karena ia tidak kenal kata 'minder' dengan orang bule.

Nah, mengenai perbedaan yang kedua ini bisa ditemui dalam 108 puisi-puisi Linus yang terkumpul dalam buku puisi berjudul Rumah Panggung ini. Orang bule yang kumaksud adalah gadis bernama Stephanie yang menurut penuturan Bakdi Soemanto dalam pengantar kumpulan puisi ini adalah gadis Amerika yang dikenal Linus dan bahkan mereka berjalan-jalan sampai ke Bali.

Linus tidak minder. Linus fasih mengemukakan apa yang jadi pikirannya. Ini seperti pertemuan Barat dan Timur, dengan Stephanie sebagai duta besar pikiran Barat dan Linus sebagai duta besar perasaan dan pikiran Timur. Pertemuan keduanya tidak menimbulkan konflik, tetapi menimbulkan kesepakatan bahwa keduanya berbeda atas apa yang mereka alami. Simak puisi "Dari Ulu Watu" ini.

Bagiku dia tak lebih dari gubuk tua
Bagimu dia tak lebih eksotisme purba
Tapi senja kapan hari kita ke sana
Tercitra matahari kembar di cakrawala


Puisi ini cuma salah satu dari sekian puisi yang dituliskannya bagai sebuah gambaran pertemuan Barat dan Timur tadi.

"Kuta"

Bagimu dia arena mandi yang menggairahkan
Bagiku dia pemandangan yang lapar korban
Baginya kraton Dewa dan abu maut dilabuhkan
Tapi bagi siapa dia lambang dan suka kehidupan?

Karena itu aku berani hanya mandi di tepian
dalam bayangan hiu, paus dan 1000 teripang
Siap mencaplok dan lenyap ke dasar kegelapan
Tapi bagimu, Cucu Odysseus, lautan menantang


Begitulah Linus mengatakan Stephanie sebagai orang yang bertentangan pikir dengannya dan merupakan cucu dari Odysseus dewa lautan Yunani, yang berarti dia tidak seperti Linus yang cuma berani mandi di pinggir laut, tetapi malah berenang sampai ke tengah. Dan yang aku suka, tidak ada keminderan di dalamnya. Semua berderajat sama.

Andai lebih banyak orang Jawa macam Linus

5/5

Saat Sastra Menziarahi Mantra

Mantra Orang Jawa
Karya Sapardi Djoko Damono

Terbit Januari 2005 oleh Indonesia Tera | Binding: Paperback | ISBN: 9799375984 | Halaman: 80


DALAM bahasa Sansekerta, mantra atau mantera berarti pesona. Di pesisir timur Sumatra Utara yang didiami orang kampong dikenal beratus-ratus mantra yang dipergunakan untuk pengobatan atau kegiatan harian lainnya. Dari beratus mantra inipun seluruhnya berbentuk puisi yang mempunyai kekuatan. Puisi mantra ini diciptakan langsung oleh "mambang", "jembalang". Misalnya penggalan mantra yang digunakan mambang laut agar nelayan tetap sehat dan tangkapan ikannya melimpah:

Assalamualaikum/ Aku kirim salam kepada jin tanah/ Aku tahu asalmu/ Kau keluar dari air ketuban/ Bukan aku melepas bala mustaka/ Sang Kaka Sang kipat/ Melepas bala mustaka

Atau mantra untuk penawar bila orang yang tersengat racun hewan:

Aku tahu asal mulamu/ Bisa darah haid siti hawa/ Surga akan tempatmu/ Cabut bisamu/ Naikkan bisa tawarku

Di masyarakat Batak, mantra disebut Tabas, yang bermakna luas sebagai permohonan. Tabas-pun berbentuk bait-bait puisi (umpasa).

Inilah mantra-mantra yang tersebar di tanah air, tanpa terkecuali di dalam masyarakat Jawa. Mantra dipercaya mengandung kekuatan dan semangat supranatural. Ronggowarsito, misalnya, dalam kesusastraan Jawa di abad 19 cukup banyak menulis mantra dari tradisi lisan (tutur) yang ada di masyarakat Jawa. Bahkan mantra juga digunakan sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam karena orang Jawa pada waktu itu tidak lazim membaca teks kitab agama, sehingga agama diajarkan menggunakan tembang, kidung, atau kesenian rakyat seperti wayang kulit, ludruk, ketoprak, dan lain sebagainya, dalam hal ini mantra juga disisipi ajaran agama.

Oleh Sapardi Djoko Damono, mantra-mantra orang Jawa ini dituliskan kembali menjadi puisi-puisi. Ini adalah wilayah eksplorasi kreativitas penulis yang dapat disahkan sebagai creative license. Mantra bisa jadi "aji" seperti "Menghindari Peluru", jadi "doa" seperti pada "Doa Sebelum Mandi", "Doa Sebelum Sanggama", "Doa agar keinginan tersampai", atau jadi mantra kesembuhan dan mantra lainnya. Semua mantra-mantra ini dihadirkan kembali dalam bentuk kemasan puisi.

Seperti apakah kemasan puisi yang ditawarkan Sapardi Djoko Damono, mungkin ada baiknya dilihat di sini:

BISMILLAH

Bis: kulit
Mil: daging
Lah: tulang

Alrahman
Alrahim:
sepasang mata
kiri dan kanan


DEFINISI

Ashadu: rasa pun turun
Ilaha: hakikat rasa
Illalah: rasa pun menyawa

Mohammad sebagai ujud
Allah hakikat hidup


Lewat mantra yang sudah diubah jadi puisi ini, Sapardi Djoko Damono melakukan "perlintasan", yakni saat sastra menziarahi mantra, berkawin dan beranak jadi buku ini.

3/5

Kehadiran Bunyi dalam Puisi Saut Sitompul

Kongres Kodok: Kumpulan Puisi
karya Saut Sitompul

Terbit Maret 2001 oleh LSPP | Binding: Paperback | ISBN: -
(isbn13: 9799381088) | Halaman: 62


BARANGKALI bila tanpa desakan teman-teman baiknya, baik yang dikenalnya di Jaringan Kerja Budaya atau rekan-rekan seperjalanan seperti diriku, Saut Sitompul tidak akan membukukan puisinya. Saut Sitompul adalah salah satu penyair puisi yang dengan bangga berkata, "Puisiku bukan berada di galeri-galeri atau gedung-gedung penuh orang-orang wangi. puisiku akan kubacakan di biskota-biskota."

Demikian ia berandai dan menghitung, bila 1 biskota penuh sesak berisi di atas 52 orang, maka bila 10 biskota ia naiki dan bacakan puisinya, sehari ia meraih apresiasi 520 orang. Fantastis bukan?

Berapresiasikah mereka? Pada banyak kesempatan, para penumpang berapresiasi. Apalagi pada puisinya yang berjudul "Puisi" yang liriknya demikian kocak:

Jangan terlalu dipusingkan bagaimana menulis puisi/ Cukup berjongkok di taman/ dengan pena di tangan/ Ada daun jatuh tulis!

Para penumpang suka berseloroh:
+ "Ada bau ketek?"
- Jawab Saut: "Tulis juga!"
+ "Ada copet?"
- "Tulis, tulis, tulis!"

Itu tidak ada dalam teksnya, tetapi puisinya memang demikian cair hingga bisa melibatkan para pendengar. Kali lain, pernah aku temui, ia membacakan puisi yang menjadi judul buku ini "Kongres Kodok". Ia bagi penonton dalam dua kelompok bunyi. Lalu mereka bersama-sama berpuisi massal. Dari jauh, terdengar seperti bunyi nyanyian kodok di kolam. Ah, di titik ini "Kongres Kodok" sudah berbunyi.

Puisi itu berbunyi! Bunyi amat penting bagi Saut Sitompul yang sebenarnya sekolah di jurusan Musik Institut Kesenian Jakarta. Maka puisi baginya adalah semata-mata bunyi. Bila puisi "tidak berbunyi", maka ia tidak akan sampai di hati.

Saut Sitompul dan karyanya memang tidak bermegah-megah. Barangkali tak banyak yang kenal ia. Tetapi Saut Sitompul sekaligus puisinya hadir intens dalam pergumulan kreatifku dan memberi warna. Ini puisi yang kutulis seketika saat kudengar ia mati.

AJARKAN TUHAN BAGAIMANA MENULIS PUISI
: Kredo untuk almarhum Saut Sitompul

Biar kukisahkan lagi sebuah puisi
dari penyair yang mati ditabrak taksi

".... Tang!"
lantangmu berdentang panjang
kernyit di dahimu pun hilang
diganti siulan dan tepuk tangan orang

"Ada daun jatuh, tulis!"
ajakmu girang pergaulan
pada orang asing, sanak saudara, dan handai taulan
peziarah merah, pelawat berkudung hitam, dan juga rombongan kawan

karena menulis puisi
...... adalah menulis kehidupan
karena menulis kehidupan
...... adalah menulis kemenangan

"Tak usahlah terlalu dipusingkan bagaimana menulis puisi"
itu kalimat sekarang berlaku untukmu
karena tak lagi sempat, teman
karena tak sempat kau menulis baris-baris bunyi
dengan rima dan ketukan fantasi

Kini terbanglah kau! Bahkan lebih cepat
dari concorde mesin perancis yang melesat

Tegak lurus ke hadapan khalikmu,
tuhan yang kau sapa bapak!

Lalu kau ajak Ia menulis puisi,
karena puisimu amatlah indah.
Dan semoga ia turun dalam genderang bertalu
seiring deras hujan di malam minggu.

Jakarta, 14 Februari 2004


5/5

Bermain Kata Bersama Jokpin (lagi)

Kekasihku
karya Joko Pinurbo

Terbit 2004 oleh Kepustakaan Populer Gramedia | Binding: Paperback | ISBN: 9799100143X


PENULIS Ben Okri menulis demikian: "Manusia adalah homo fabulator" (A Way of Being Free terbitan 1998). Sang manusia kecil itu mulai bermain dengan kata, sambil belajar mengerti kata yang dimainkan. Demikianlah, bayi di umur enam hari dapat merekam kata/gerakan yang ia dengar/lihat. Dengan menyandang keserbabisaan itu, tentulah setiap kita sanggup bermain dengan kata.

Tak ubahnya Joko Pinurbo yang pandai memainkan kata "celana", "ranjang", "kuburan", "bulan" sebagai simbol/pertanda dengan piawai. Atas keahliannya ini, aku ikut tepok-tepok tangan di sebelah Roos, Gieb, Nanto, Mia, Dahlia, Syl, dan teman-teman Goodreads lain yang ikut membaca kumpulan puisi yang menang Khatulistiwa Award (KLA) tahun 2004 ini. Ikut senang seperti orang menonton sirkus juggling. Menikmatinya pun kusamakan seperti menyusu, makin kata-katanya tersedot ke dalam tubuh, makin berenergilah diri. Energi inilah yang menetap dalam tubuh dan lalu menghasilkan apresiasi atau bahkan melahirkan puisi yang baru. Semua sah-sah saja muncul.

Perkenalan kedua dengan karya Jokpin membuatku terpincut pada beberapa puisi berikut. Seperti puisi berjudul "Rumah Cinta", pandangan mataku terpikat pada kalimat ini: Miskin mungkin bencana, tapi kaya juga cuma karunia. Bukankah kata-kata itu getir, sekaligus manis?!

Rumah Cinta
buat Wien & A'an

Aku datang ke dalam engkau,
ke rumah rantau yang melindap
di antara dua bukit
di mana senja mengerjap-ngerjap
dalam kerlap biru langit.

Ada sejoli celana berkibar-kibar
di balik jendela:
Hai, kami sedang belajar bahagia.
Ada buku masih terbuka di atas meja
dan ada ayat rahasia:
Miskin mungkin bencana,
tapi kaya juga cuma karunia.

Aku pulang ke dalam engkau,
ke rumah singgah yang terlindung
di antara dua kubah
dimana ia datang berkerudungkan bulan,
merapikan tubuh yang berantakan
dan berkata: Supaya tidurmu makin sederhana.

(2003)


Celana dan bulan dalam puisi di atas bisa ditafsir bermacam-macam mengikuti tradisi pembacaan Jokpin yang ditawarkan Sapardi Djoko Damono. Tetapi aku tidak terlalu tertarik membahas itu sekarang.

Mataku yang dibuai oleh kelucuan dan kelincahan kata-kata Jokpin berhenti di puisi berikutnya, yang berjudul "Perjamuan Petang". Menurutku ada hubungan yang unik antara Jokpin dengan ayahnya, yang sesekali bisa kita lihat hadir dalam puisinya.


Perjamuan Petang (hal 3-4)

Dua puluh tahun yang lalu ia dilepas ayahnya
Digerbang depan rumahnya.
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.
Jangan pulang sebelum benar-benar jadi orang.”

Dua puluh tahun yang lalu ia tak punya celana
Yang cukup pantas untuk dipakai ke kota.
Terpaksa ia pakai celana ayahnya.
Memang agak kedodoran, tapi cukup keren juga.
“Selamat jalan. Hati-hati, jangan sampai
celanaku hilang.”

Senja makin menumpuk diatas meja.
Senja yang merah tua.
Ibunya sering menangis memikirkan nasipnya.
Ayahnya suka menggerutu,
“Kembalikan dong celanaku!”

Haha, si bangsat akhirnya datang.
Datang di akhir petang bersama buku-buku
yang ditulisnya di perantauan.
Ibunya segera membimbingnya ke meja perjamuan.
“Kenalkan, ini jagoanku.” Ia tersipu-sipu.
Saudara-saudaranya mencoba menahan tangis
melihat kepalanya berambutkan gerimis.
“Hai, ubanmu subur berkat puisi?” Ia tertawa geli.

Di atas meja perjamuan jenazah ayahnya
Terlentang tenang berselimutkan mambang.
Daun-daun kalender beterbangan.
“Ayah berpesan apa?” Ia terbata-bata.
“Ayahmu cuma sempat bilang, kalau mati ia ingin
mengenakan celana kesayangannya:
celana yang dulu kau pakai itu.”

Diciumnya jidat ayahnya sepenuh kenangan.
Tubuh yang tak butuh lagi celana adalah sakramen.
Celana yang tak kembali adalah testamen.
“Yah, maafkan aku. Celanamu terselip
di tetumpukan kata-kataku.”

(2003)



Ayah yang hampir tak pernah digambarkan berada satu garis dengan dirinya, yang di puisi ini digambarkan menuntut penulis untuk bersekolah tinggi-tinggi. Tetapi begitu penulis lulus, ayahnya tak bisa melihat anaknya lagi. Di puisi Jokpin lain di dalam buku Celana, malahan ada kisahan yang lebih pilu lagi tentang perselisihan ayah dan anak ini.

Benar kata Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo perlu mendapat perhatian. Aku jadi tak sabar ingin menikmati karyanya yang lain.

4/5

Berkenalan dengan Jokpin

Celana
Karya Joko Pinurbo

Terbit Juni 1999 oleh Indonesia Tera | Binding: Paperback | ISBN: 9799542820 (isbn13: 9789799542823) | Halaman: 74


TERSEBUTLAH nama Jokpin di sela-sela obrolan santai sore itu antara Gieb, Nanto dan Roos. Dari ketiga orang itu, cuma aku yang plongo. Aku tak kenal siapa Jokpin. Aku garis bawahi kata tak kenal itu yang artinya sama dengan belum pernah baca. Kalau nama Joko Pinurbo sih aku kenal. Kami sama-sama almamater dari sekolah yang sama, sekolah yang jadi inspirasinya.

Maka terjadilah perkenalan yang menarik dengan Jokpin dengan fasilitasi Nanto Sriyanto yang akrab dipanggil Pakde. Di buku ini, asal mula celana, ranjang, boneka, dan tafsir Sapardi Djoko Damono terkuak.

Jokpin itu ternyata sederhana. Puisinya enggan gaduh. Pendek. Kadang mengulas senyum, tapi seringkali menghadirkan suasana yang nglangut karena adanya getir dan hening di sana, seolah ia punya sesuatu untuk menggetarkan hati pembacanya.

Untuk melengkapi perkenalan yang unik ini, aku menulis sebuah puisi:

BUKU

Tadi malam aku menyusu pada
celana Jokpin
mataku merem melek meneguk
alfabetnya yang lucu-lucu
tapi mulutku menelan tangis getir
yang mengalir dari celana guru

Aku menyusu hingga merah puting buku kumainkan
"Auw! Jangan nakal," jerit pembatas buku
Aku pun menyusu lagi penuh semangat

Segantang penuh kuhabis tandaskan
tapi aku masih haus terus
lalu kurampas susu yang besar dari lemari
kusedot-sedot hingga kulelap sendiri
ternyata itu milik Ayu Utami

(2008)


Asyik ya, ternyata kenalan seperti ini bisa juga memberi ruang jelajah baru.

4/5

Sastra dari Negara-Negara Timur

Setanggi Timur
karya Amir Hamzah (ed.)

Terbit 1984 oleh Penerbit Dian Rakyat | Cetakan pertama: 1959 | Binding: Paperback | Halaman: 34

Setanggi Timur dikumpulkan oleh Amir Hamzah. Berisi puisi dan cerita dari lima bagian yakni:
1. Ajam
2. Hindi
3. Tiongkok
4. Jepun
5. Turki

AKU pikir jarang sekali bisa menikmati haiku (dibaca: haik) terjemahan. Barangkali jejak penerjemahan haiku tertua adalah dalam buku Setanggi Timur ini, yang dikumpulkan oleh Amir Hamzah. Sebagaimana dijelaskan Amir Hamzah, haiku adalah "nama sajak yang sependek-pendeknya dalam sastera Jepang, terbentuk dari 17 patah kata, terkandung dalam tiga baris. Keganjilannya lagi bahwa sajak ini tiada bersajak dan tiada pula berirama, tetapi tiada mengapa, sebab bahasa Jepang itu mahamerdu" (hal. 33)

Meskipun minim kata, tapi mampu bicara banyak. Misalnya bicara tentang kesepian, di dalam haiku Ukihashi dapat ditemukan seperti ini:

Mata terlayang...
tersentak jaga...
Aduh kelambu, alangkah lebarnya
Tiada berdua

Atau bicara tentang lukisan alam ini, seperti berikut:

Di genta-kelenteng raya
Kupu terlena cendera
Dengar! Air terjun,
Di sini, di sana, di celah-celah daun muda


Selain haiku, Amir juga memperkenalkan "Tanka" yakni nama bentuk sajak yang lain dalam sastera Jepang, mempunyai 31 patah-kata, terkumpul dalam lima baris.

Bukan cuma sastra Jepang yang dikumpulkan di sini, Amir juga mengumpulkan puisi dari India (Rabindranath Tagore misalnya), Cina (Li Tai Po, dkk.), Turki (Kemalpascha saidi Ahmad dan teman-temannya) yang rupa-rupanya menurut dia mewakili semangat Sastra Timur.

Karya Rabindranath yang menarik adalah ceritanya mengenai burung liar dan burung jinak.

Burung jinak di sangkarnya, burung liar di rimba-raya
Bersua keduanya di suatu masa, telah demikianlah takdir.

Burung liar memanggil: "Kekasihku, mari lari ke rimba-raya"
Berbisik burung tertangkap: "Mari diri, bersama kita di dalam sangkar"

Kata burung bebas: "Dimanakah lapang di celah jerejak mengembangkan sayap?"
"Wah", himbau burung di sangkat, "Dimanakah aku bertengger di awan terbentang"

Menghimbau burung bebas: "Cahaya-mataku, nyanyikan daku laguan hutan"
Menjawab burung di sangkar: "Duduk tuan di sisiku, biar kuajari bahasa budiman"
Menjawab burung rimba: "Tidak! Tidak! Adakah lagu mungkin dipelajari?"
Berkata burung di sangkar: "Aduh! Tiada kuketahui laguan rimba"

Kasih mereka bergelombangkan hasrat, tetapi tiada mungkin terbang beradu sayap. Berpandangan mereka dari celah jerejak, percumalah kehendak akan berkenalan. Menggelepar-gelepar mereka penuh gairah, sambil berlagu: "Mari rapat kekasihku!"

Menghimbau burung bebas: "Percuma, takut aku kan pintu sangkar yang terkunci."
Berbisik burung di sangkar: "Wah, kepakku tiada berkuasa dan mati"

(Rabindranath Tagore)


Hmm... kasihan sekali nasib burung-burung itu kan. Cerita burung itu sebenarnya simbolisasi dari nasib masyarakat India yang saat itu mulai hidup terkurung di bawah Kerajaan Inggris. Lewat medium yang sama, Rabindranath juga pernah mengkritik kalangan Ortodoks di India. Cerita ini hanyalah sedikit cetusan pemikiran Rabindranath tentang nasionalisme India. Secara lugas pemikiran politiknya pernah ia tuangkan dalam "Chitto Jetha Bhayshunyo" ("Saat Pikiran Tanpa Rasa Takut") dan "Ekla Chalo Re" ("Jika mereka tak menjawab panggilan-Nya, jalan terus").

Sungguh buku yang menarik dan menuai decak kagum karena dari sini aku bisa belajar sastra dari negara-negara Timur lain. Salut untuk kerja keras Amir Hamzah!

5/5

Puisi itu bisa menghibur dan melipur hati

Kerygma & Martyria
Karya Remy Sylado

Terbit Juli 2004 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Hardcover | ISBN: 9792209182 | Halaman: 1056


MENJURA aku pada puisi-puisi dan lukisan-lukisan yang disisipkan tentunya dengan maksud oleh Jopi Tambayong alias Remy Sylado di dalam buku ini. Jumlah puisinya? Jangan tanya... aku tak sanggup menghitungnya sendiri.

Puisi-puisi ini diserakkan begitu saja dalam 1.026 halaman. Pembagian Kerygma dan Martyra entah bagaimana ceritanya, itu tak jelas buatku. Maksudnya diserakkan, ya benar-benar harfiah, terserak, tanpa daftar isi, petunjuk kurun waktu, atau apapun. Bahkan pengantar pun tidak. Satu-satunya yang tegas tertulis hanyalah Apologia Jopi Tambayong sendiri, yang mengisi 30 halaman dari total 1.056 halaman.

Apa kira-kira maksud buku ini? Pengekalan karya-karyanya kah? Bisa jadi. Tapi aku memilih mengamini rangkaian pendapat Remy Sylado sendiri di dalam Apologia-nya bahwa dimaksudkan puisi-puisi ini dihadirkan sebagai bukti bahwa puisi bisa hadir sebagai penghibur, sebagai pelipur hati. Tak usah dipusingkan bagaimana ia dipentaskan atau dipanggungkan, cukup dituliskan untuk menghibur atau memuaskan hasrat hati. Hal ini ia maksudkan untuk memberi contoh kepada generasi bangsa (dalam ceritanya tentang pertemuan guru sastra SMP dan SMA). Jadi maksud buku ini semacam pernyataan terbuka, sebuah premis sekaligus kesimpulan dari pendapatnya mengenai puisi.

Tapi konon penerbitan buku yang diluncurkan pada usia Remy yang ke-59 ini pada tahun 2004 adalah sebuah penanda bahwa sebagai penulis beralih dari "fase telanjang" ke "fase berbaju". Jadi ini semata masalah puisi-puisi yang tak terkumpulkan kah? Lalu dikasih baju begitu? Bisa jadi...

Puisi-puisi Remy Sylado dalam buku ini dengan sendirinya menggambarkan pergulatan pikir Remy, yang kadang pilu seperti pada "Amboina", kadang jenaka, kadang cerdas seperti "Madonna dan Bayi", kadang sarkas menuntut soal moral beragama, sekaligus kadang beriman jua. Pokoknya serba-serbilah... nano-nano. Ada yang aku suka, ada yang tidak. Ada yang belum memutuskan apakah suka atau tidak, eh puisinya sudah selesai. Lho?! Satu-satunya pelarian dari buku ini adalah lukisan-lukisannya. Aku baru tahu kalau Remy Sylado bisa melukis. Ada lukisan perempuan minang, Soekarno, benda-benda lain. Semua lukisan itu patut diacungi jempol, selain halus dan hati-hati, sungguh berkonsep. Seperti lukisan perempuan minang tadi...

Apakah ini berarti buku ini juga suatu showcase bahwa Remy Sylado adalah orang serba bisa? Bisa nulis cerpen, novel, puisi, melukis, menulis skenario? Apa lagi? Wah.. betapa beruntungnya. Dan lebih beruntung lagi karena pesan moralnya pada kita di Apologia-nya itu: jangan takut menulis puisi, karena puisi itu bisa menghibur dan melipur hati.

4/5

Memoar Puisi Untuk Mengabadikan Pertemanan

Biru Hitam Merah Kesumba
Karya Olin Monteiro, Lulu Ratna, Oppie Andaresta dan Vivian Idris

Terbit Desember 2006 oleh Kelompok Perempuan Bukan Penyair | Binding: Paperback | ISBN: 9791546002 | Halaman: 120

ADA sebuah kesadaran baru yang muncul setelah membaca buku ini: bahwa "berteman itu penting". Lho, lalu apa hubungannya dengan buku yang berjudul serba warna ini? Wah, ternyata menurut Olin Monteiro, Oppie Andaresta, Lulu Ratna, dan Vivian Idris banyak hubungannya.

Dalam buku ini, keempat teman baik berkolaborasi untuk mengumpulkan puisi-puisi mereka, anak rahim pemikiran mereka, lalu menerakannya pada lembar-lembar kertas dan tinta cetak agar abadi. Tujuannya, belum tentu ketenaran karena paling tidak dua orang di antaranya yakni Oppie Andaresta dan Lulu Ratna sudah jauh lebih terkenal sebelum buku ini dicetak. Tujuannya kalau saya boleh menerka, ya itu tadi mengabadikan "pertemanan" mereka.

Jadi itu sebabnya, aku justru paling tertarik dengan kisahan bagaimana mereka menjadi teman di halaman 117 (hampir di buntut, padahal harusnya di awal saja). Ternyata Oppie pernah menabrak mobil ayahnya Vivian. Lalu Oppie dan Olin kuliah sama-sama di IISIP. Karena nongkrong di Potlot, Lulu pun akhirnya kenal Oppie. Gara-gara ngurusin film, Lulu, Oppie, dan Olin pernah ketemuan. Dan akhirnya Vivian bertemu dengan wajah si penabrak ayahnya.

Soal puisinya? Nah ini juga menarik... Karena keempatnya beda latar belakang, kita jadi tahu karakter masing-masing. Olin misalnya adalah perempuan yang sadar akan bentuk puisi seperti pada puisi "Marah & Hormon" dan "Sepi Memang Sepi". Ia menulisnya dengan bangunan struktur. Keindahannya ada pada struktur.

sepi
dengarkan desau angin awal Mei
saat petani
siap menuai panen
hasil keringat sekian lama

sepi
temani hari antara buaian kelapa
hijau daun jadi coklat
sawah rimbun di kejauhan
asap debu truk lewat


Lain Olin, lain Lulu. Lulu yang lulusan antropologi, nampaknya senang pada pencatatan serba sosio-antropologis yang mirip monografi. Lulu yang pengamat sekaligus perupa visual mencoba menuangkan perjalanannya ke dalam bait-bait puisi seperti dalam puisi "Blok M-ku".

lantai 1 jual pakaian dan alat-alat tulis
lantai 2 tempat obat dan kelontong
lantai 3 dan 4 cabang departement store murah meriah
...
kini semuanya hilang sudah
dimakan api dua hari lalu


Bagaimana dengan Oppie Andaresta, penyanyi itu? Dalam kacamata bacaku, Oppie paling sering mendudukkan diri sebagai perempuan yang juga manusia. Itu ia tegaskan pada salah satu puisinya berjudul "Karena Aku Manusia". Seperti juga lagunya, puisinya pun bernafaskan kritik sosial. Misalnya bagaimana sering ia memunculkan tokoh bernama Midah, yang mewakili para TKI, dan menyuarakan mereka dalam puisi.

Nah, tinggal Vivian Idris. Aku suka peranan yang ia ambil. Ia seperti tidak ingin memposisikan diri di awal. Ia bisa kita temui sebagai ibu, sebagai pembangkang, sebagai perempuan. Macam-macam, seolah ia hendak menunjukkan... inilah aku Vivian! Puisi-puisinya terasa jujur sekaligus beremosi.

Baca pembangkangannya dalam puisi berjudul "Awas" ini:

Hari ini aku panah yang lepas
menerabas jalan-jalan kota
menerbangkan debu-debu jalan
mengacaukan tenang daun-daun
menyambar api yang kusematkan di rambut-rambut kota
dan menari diiringi lagu kebangsaan
tuhan, bapak, ibu

aku ingin membangkang


Di samping karakter-karakter yang muncul dalam puisi-puisi personal mereka, pertemanan dan kisah hidup mereka pun mereka tuangkan dalam puisi. Coba baca puisi Oppie untuk Lulu yang akan menikah dalam "Lulu Nikah" atau curhatan Lulu tentang Beng Rahadian dalam "My Spiritual Journey".

Pendeknya, aku tak mau menyaingi telaah Seno Gumira dan Iman Budhi Santosa yang didaulat oleh mereka untuk memberi pengantar pada buku ini. Buku yang layak disebut memoar puisi akan pertemanan ini cukuplah dibaca, sekedar pengingat bahwa "pertemanan itu penting". Yuk berteman...

3/5

Memahami Langit Linus

Langit Kelabu: Sajak-Sajak 1971-1973-1974
Karya Linus Suryadi AG

Terbit 1992 oleh Balai Pustaka | Cetakan pertama: 1976 | Binding: Paperback | ISBN: 9794077912 | Halaman: 76

57 sajak Linus Suryadi ini terkumpul dalam kumpulan karyanya Langit Kelabu yang diciptakan pada periode 1971-1974 dan mengungkapkan nasib manusia, pengembaraan, Tuhan dan lain-lain yang dapat memberi kepuasan dan nikmat pada para pecinta sajak.

Menemukan langkah pertama Linus Suryadi AG dalam khasanah sastra, seperti menemukan telapak dinosaurus di dataran jurrasic, alias susah.

Itu sebabnya, hati merasa riang menemukan buku ini. Untuk kemudian tenggelam dalam sukacita membaca, tekun khidmat membaca bait-bait puisinya tak kalah seperti menaraskan kisah nubuat dalam kitab suci.

MENINGGALKAN KOTA, AKU DI AMBANG SENJA

meninggalkan kota, aku di ambang senja
segra malam pun tiba, hutan berganti warna
jika auto tiba pun jika kabut terjaga
aku tangguk rindu, engkau begitu rupa

mengombak awan disana, kelabumemanjang jua
wajahmu dikeheningan, membayang dalam angan
jika bukit selatan pun jika turun hujan
aku terus bertahan, menyongsong segala beban.



O, Linus. Kepekaan rasa puisiku rasanya kena di semua puisi Linus Suryadi ini.

4/5

Membaca Kuntowijoyo Bersajak

Isyarat
Karya Kuntowijoyo

Terbit 1976 oleh Pustaka Jaya | Binding: Paperback | Halaman: 84

Isyarat adalah kumpulan 72 sajak yang ditulis Kuntowijoyo selama ia bermukim di Amerika, yang sebahagian besar belum pernah dimuat dalam majalah. Dalam sajak-sajaknya ini, terasa benar ia banyak mempersoalkan hidup dan kehadiran manusia dari segi filosofis, bahkan jika melukiskan keadaan kotapun ia berusaha mencari dan melihat latar belakang yang lebih jauh lagi.

Mendapati kenyataan bahwa Pak Kuntowijoyo tak hanya berkreasi dengan cerpen sedahsyat "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga", "Sepotong Kayu untuk Tuhan" tetapi juga merambah ke ranah puisi, ya baru kutahu setelah membaca buku ini.

Dari 72 puisi yang ada, kehadiran yang transenden --yang biasanya lekat pada tema-tema cerpen Kuntowijoyo-- hanya hinggap di beberapa puisi-puisinya seperti puisinya berjudul "Bangun-Bangun" cerita tentang Engkau yang bicara pada awan, pada manusia, pada Pak Kunto. Aku suka kutipan ini:

"Tiba-tiba Engkau campakkan isyarat:
Bangun-bangun"

Atau puisinya yang berjudul "Perjalanan ke Langit" yang dibuka dengan kalimat semenarik ini:

"Bagi yang merindukan
Tuhan menyediakan
kereta cahaya ke langit"


Sedang yang lain, seperti puisi berjudul "Vagina" memiliki keunikan dari segi tema.

"VAGINA

Lewat
celah ini
engkau mengintip
kehidupan.
Samar-samar
dari balik sepi
bisik malam
menembangkan bumi.
Engkau tidak paham
mengapa laut tidak bertepi
padahal engkau berlayar setiap hari.
Tutup kelopak matamu
bulan mengambang
di balik semak-semak.
Menantimu.
Misteri itu
gugur
satu-satu
setiba engkau di sana
merebahkan diri."



Tema yang lain, seperti seks seperti pada puisi "Zina" dan "Perempuan Tak Setia" yang rupanya diminati oleh Roos, lalu Pak Kunto juga bicara cukup sering tentang rahim, kelahiran, dan perkawinan. Semua seliweran di buku ini, dibalut dengan filosofi.

2/5

Membaca Kuntowijoyo Bersajak

Isyarat
Karya Kuntowijoyo

Terbit 1976 oleh Pustaka Jaya | Binding: Paperback | Halaman: 84

Isyarat adalah kumpulan 72 sajak yang ditulis Kuntowijoyo selama ia bermukim di Amerika, yang sebahagian besar belum pernah dimuat dalam majalah. Dalam sajak-sajaknya ini, terasa benar ia banyak mempersoalkan hidup dan kehadiran manusia dari segi filosofis, bahkan jika melukiskan keadaan kotapun ia berusaha mencari dan melihat latar belakang yang lebih jauh lagi.

Mendapati kenyataan bahwa Pak Kuntowijoyo tak hanya berkreasi dengan cerpen sedahsyat "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga", "Sepotong Kayu untuk Tuhan" tetapi juga merambah ke ranah puisi, ya baru kutahu setelah membaca buku ini.

Dari 72 puisi yang ada, kehadiran yang transenden --yang biasanya lekat pada tema-tema cerpen Kuntowijoyo-- hanya hinggap di beberapa puisi-puisinya seperti puisinya berjudul "Bangun-Bangun" cerita tentang Engkau yang bicara pada awan, pada manusia, pada Pak Kunto. Aku suka kutipan ini:

"Tiba-tiba Engkau campakkan isyarat:
Bangun-bangun"

Atau puisinya yang berjudul "Perjalanan ke Langit" yang dibuka dengan kalimat semenarik ini:

"Bagi yang merindukan
Tuhan menyediakan
kereta cahaya ke langit"


Sedang yang lain, seperti puisi berjudul "Vagina" memiliki keunikan dari segi tema.

"VAGINA

Lewat
celah ini
engkau mengintip
kehidupan.
Samar-samar
dari balik sepi
bisik malam
menembangkan bumi.
Engkau tidak paham
mengapa laut tidak bertepi
padahal engkau berlayar setiap hari.
Tutup kelopak matamu
bulan mengambang
di balik semak-semak.
Menantimu.
Misteri itu
gugur
satu-satu
setiba engkau di sana
merebahkan diri."



Tema yang lain, seperti seks seperti pada puisi "Zina" dan "Perempuan Tak Setia" yang rupanya diminati oleh Roos, lalu Pak Kunto juga bicara cukup sering tentang rahim, kelahiran, dan perkawinan. Semua seliweran di buku ini, dibalut dengan filosofi.

2/5

Para Dewa di mata seorang Dewi

Pelacur Para Dewa
Karya Pranita Dewi

Terbit 2006 oleh Komunitas Bambu | Binding: Paperback | ISBN: 9793731079 | Halaman: 94

DI usianya yang ke-16, Pranita Dewi mengambil keputusan besar dalam hidupnya setelah ketemu penyair Bali Warih Wisatsana. Ia meninggalkan hingar-bingar generasinya yang gemuruh pada Sheila On 7 dan mengikuti hatinya untuk menekuni sastra dan menjadi lebih dari "perempuan sekadar".

Dalam buku kumpulan puisinya ini yang memuat 61 karyanya ini, mayoritas adalah puisi yang ditulisnya ketika dirinya mengawali dunia sastra di tahun 2003. Nah semua puisinya ini, dikatakan oleh Pranita sebagai caranya untuk melihat dunia secara berbeda, dengan kacamata puisi. Seperti apa sih? Karena penasaran, akhirnya satu persatu puisinya kubaca. Dengan telanjang, aku bisa menemukan idealisasi remaja kebanyakan akan cinta dalam "Sajak Cinta"

SAJAK CINTA

sempat pula kumerenung
jika suatu nanti angin mendung
tak lagi berkabung
kita bersuami instri
di sisi kita ada cinta

rumah kecil kita
walau gubug reyot
tapi ada cinta
tempat tidur dipan kita
walau keras
namun ada cinta
lantai tanah kita
walau kasar
tetap ada cinta

kita tak punya tv berwarna
masih kita punya cinta
kita mewarna dalam cinta
sebab kita tumbuh dari cinta
cinta untuk bercinta
mawar sudah tak lagi dijamah
edelweis di sebelah kita merekah
di halaman cinta kita
hati kita diteduhi cinta
kita tak habis mencinta

2003


Aih, remaja! Mungkin syl akan berujar buru-buru (sambil diselubungi promosi bukunya): Makan tuh cinta! Hahaha...

Memang di awal-awal tema-tema jatuh cinta "buta" ini cukup marak, sampai satu waktu tema-tema cinta itu digantikan dengan tema patah hati yang dalam dan begitu sedih. Coba saja baca kutipan puisi "Kuukir Syair Akhir" ini:

"tiga tahun
mengukur takdir
segala impian lebur terkubur
beku berpadu debu"

E-e-e... remaja! Patah cinta pun jadi puisi. Banyak pula... Geleng-geleng sendiri aku membacanya karena jadi ingat jaman-jaman cinta monyet, jaman jatuh cinta "tai kambing pun serasa coklat", jaman putus cinta "mau nubruk kereta". halah! Tema putus cintanya pun akhirnya mulai terungkap, bila tafsirku benar, Pranita dan pacarnya putus karena alasan agama, seperti yang tercantum pada puisi "Waktu Luruh, Kisah Hijau"

Tapi tenang... tema cinta hanya di awalan. Di tengah, tiba-tiba kita disodorkan tentang erotika. Dengan lancar, Pranita menulis tentang persetubuhan dalam puisi "Kau ziarahi tubuhku" dan "Di taman ini siapa berdosa", seolah tak mau kalah dengan para senior yang lantang bicara kelamin. Seolah ini menegaskan pujian Sitor Situmorang soal kecele usia dan kecele kematangan.

Tema yang lebih dewasa, yang berisi kritik sosial pun hadir. Seperti pada "Pantai Letih", "Pelacur Para Dewa", "Nuh, kenapa kau tak datang kali ini". Berikut ini kukutipkan kritik Pranita pada eksplorasi pantai dan laut Bali demi pariwisata dalam puisi "Pantai letih"...

"kita berjalan ke arah pantai
menuju istana para kerang
pantai ini keruh
apa kita yang buat?

...

biarlah sesekali laut mengadu
pada kita tentang nasib ikan-ikan
dan terumbu karang yang mengerang
tersiram tuba"


Puisi "Pelacur Para Dewa" kiranya merupakan puisi yang sangat provokatif. Kita tahu betapa Bali masih amat mengagungkan dewa-dewa agama Hindu, dan jelas memasukkan pelacur dalam panggung dewa-dewa amat berani dan terkesan memberontak. Dan kesan pemberontak, mempertanyakan, juga kental pada puisi ketiganya, yang berisi kegetirannya atas bencana tsunami Aceh.

Tapi buatku yang paling menarik adalah membaca puisi-puisi yang ditulis Pranita di tahun 2005, di usia yang lebih matang, 18 tahun. Puisinya lebih bernas, meninggalkan semua jeroan kata yang tak perlu, lebih beragam. Ada satu puisi yang aku suka, judulnya "Dari hulu, perjalanan kita belum mampu". Setiap kata berbunyi dengan indah seperti gamelan Bali, tapi sayang aku tidak menangkap maksudnya. Adakah yang bisa mengartikannya untukku?

Akhirnya, puisi-puisi Pranita memang merupakan tafsir dirinya tentang dunia di sekitarnya: tentang cinta, kejadian, peristiwa, kurun waktu. Dalam hal menafsirkan dalam puisi, Pranita masih tumbuh. Semoga menjadi lebih lugas lagi seiring usianya yang makin dewasa.

Mengunjungi Kembali Tukang Kebun

Tukang Kebun
Karya Rabindranath Tagore

Terbit 1996 oleh Pustaka Jaya | Cetakan pertama 1976 | Binding Softcover | ISBN 9794192015 | Halaman 132

Penerjemah: Hartojo Andangdjaja

Kalau boleh menyebutkan siapa penulis yang turut membentuk keberadaan saya sekarang, nama Rabindranath Tagore bisa dicantumkan sebagai nominasi 10 besar. Rabindranath Tagore terkenal karena pernah memenangkan piala Nobel Sastra pada tahun 1913. Karyanya khas karena mengagungkan kemanusiaan dan lembut tutur bahasanya.

Perkenalan saya dengan Tagore terjadi sewaktu masih belia SMP, Gitanyali adalah buku pertamanya yang saya baca, terjemahan Amal Hamzah (adiknya Amir Hamzah). Belum cukup umur memang, tetapi saya tahu pasti yang saya baca waktu itu kelak akan membentuk rasa bahasa dan kecintaan akan sastra.

Sejurus saya masih ingat nuansa puitis spiritual sang penyair yang membuka Gitanyali dengan baris-baris begini:

Tiada kunjungnya Engkau bentuk aku, menurut suka-Mu. Piala rapuh ini Engkau kosongkan kali berkali, serta Engkau isikan lagi dengan hidup baru. Melalui bukit dan lembah Engkau bawa suling gelagah ini beserta dan Engkau embuskan dia senantiasa nyanyian baru.

Kena sintuh tangan-Mu kekal, pecahlah batas gembira hatiku kecil dan lahirlah kata tak kuasa diucapkan. Kurnia-Mu kekal, pecahlah batas gembira hatiku kecil dan lahirlah kata tak kuasa diucapkan. Kurnia-Mu mahabesar ini, datang padaku, hanya melalui tanganku hina. Abad datang dan abad lalu, tetapi Engkau senantiasa memberi dan senantiasa pula ada ruang harus diisi.


Atau pada bagian lain Gitanyali yang berarti "Nyanyian Persembahan" dapat dijumpai lirik-lirik transendental seperti ini:

Dengan ujung terentang sayap nyanyiku, kusentuh tapak kaki-Mu, yang tak pernah kuharap terjangkau oleh tanganku. Betapa Tuhan yang Akbar tak bisa disombongkan siapa pun dengan sikap paling berhak memiliki.


Dengan kegembiraan yang amat besar, saya membeli buku Tukang Kebun sekitar pertengahan tahun 1997 dengan harapan menjumpai lagi baris-baris kalimat yang menawan seperti di Gitanyali. Saya masih ingat betul yang menerjemahkan buku ini adalah Hartojo Andangdjaja, dan ternyata betul: bait-bait puisi Tagore yang lembut mampu menggugah hati. Setiap kata menoreh sampai ke sanubari. Simaklah beberapa penggalan puisinya ini.

aku cinta padamu, kekasih
maafkan aku karena cintaku
seperti burung kehilangan jalannya aku tertangkap
bila hatiku berguncang, ia pun kehilangan cadarnya dan telanjanglah
selimuti dia dengan sayang, kekasih
dan maafkan aku karena cintaku

jika tak dapat engkau mencintai aku, kekasih
maafkan aku karena pedihku
jangan memandang aku dengan marah dari jauh
aku akan kembali diam-diam ke sudutku dan duduk dalam gelap
dengan kedua belah tanganku akan kututup maluku yang telanjang
palingkan wajamu dariku, kekasih
dan maafkan aku karena pedihku


Tukang Kebun, lirik ke-33


5/5
 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator