Puisi itu bisa menghibur dan melipur hati

Kerygma & Martyria
Karya Remy Sylado

Terbit Juli 2004 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Hardcover | ISBN: 9792209182 | Halaman: 1056


MENJURA aku pada puisi-puisi dan lukisan-lukisan yang disisipkan tentunya dengan maksud oleh Jopi Tambayong alias Remy Sylado di dalam buku ini. Jumlah puisinya? Jangan tanya... aku tak sanggup menghitungnya sendiri.

Puisi-puisi ini diserakkan begitu saja dalam 1.026 halaman. Pembagian Kerygma dan Martyra entah bagaimana ceritanya, itu tak jelas buatku. Maksudnya diserakkan, ya benar-benar harfiah, terserak, tanpa daftar isi, petunjuk kurun waktu, atau apapun. Bahkan pengantar pun tidak. Satu-satunya yang tegas tertulis hanyalah Apologia Jopi Tambayong sendiri, yang mengisi 30 halaman dari total 1.056 halaman.

Apa kira-kira maksud buku ini? Pengekalan karya-karyanya kah? Bisa jadi. Tapi aku memilih mengamini rangkaian pendapat Remy Sylado sendiri di dalam Apologia-nya bahwa dimaksudkan puisi-puisi ini dihadirkan sebagai bukti bahwa puisi bisa hadir sebagai penghibur, sebagai pelipur hati. Tak usah dipusingkan bagaimana ia dipentaskan atau dipanggungkan, cukup dituliskan untuk menghibur atau memuaskan hasrat hati. Hal ini ia maksudkan untuk memberi contoh kepada generasi bangsa (dalam ceritanya tentang pertemuan guru sastra SMP dan SMA). Jadi maksud buku ini semacam pernyataan terbuka, sebuah premis sekaligus kesimpulan dari pendapatnya mengenai puisi.

Tapi konon penerbitan buku yang diluncurkan pada usia Remy yang ke-59 ini pada tahun 2004 adalah sebuah penanda bahwa sebagai penulis beralih dari "fase telanjang" ke "fase berbaju". Jadi ini semata masalah puisi-puisi yang tak terkumpulkan kah? Lalu dikasih baju begitu? Bisa jadi...

Puisi-puisi Remy Sylado dalam buku ini dengan sendirinya menggambarkan pergulatan pikir Remy, yang kadang pilu seperti pada "Amboina", kadang jenaka, kadang cerdas seperti "Madonna dan Bayi", kadang sarkas menuntut soal moral beragama, sekaligus kadang beriman jua. Pokoknya serba-serbilah... nano-nano. Ada yang aku suka, ada yang tidak. Ada yang belum memutuskan apakah suka atau tidak, eh puisinya sudah selesai. Lho?! Satu-satunya pelarian dari buku ini adalah lukisan-lukisannya. Aku baru tahu kalau Remy Sylado bisa melukis. Ada lukisan perempuan minang, Soekarno, benda-benda lain. Semua lukisan itu patut diacungi jempol, selain halus dan hati-hati, sungguh berkonsep. Seperti lukisan perempuan minang tadi...

Apakah ini berarti buku ini juga suatu showcase bahwa Remy Sylado adalah orang serba bisa? Bisa nulis cerpen, novel, puisi, melukis, menulis skenario? Apa lagi? Wah.. betapa beruntungnya. Dan lebih beruntung lagi karena pesan moralnya pada kita di Apologia-nya itu: jangan takut menulis puisi, karena puisi itu bisa menghibur dan melipur hati.

4/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator