Para Dewa di mata seorang Dewi

Pelacur Para Dewa
Karya Pranita Dewi

Terbit 2006 oleh Komunitas Bambu | Binding: Paperback | ISBN: 9793731079 | Halaman: 94

DI usianya yang ke-16, Pranita Dewi mengambil keputusan besar dalam hidupnya setelah ketemu penyair Bali Warih Wisatsana. Ia meninggalkan hingar-bingar generasinya yang gemuruh pada Sheila On 7 dan mengikuti hatinya untuk menekuni sastra dan menjadi lebih dari "perempuan sekadar".

Dalam buku kumpulan puisinya ini yang memuat 61 karyanya ini, mayoritas adalah puisi yang ditulisnya ketika dirinya mengawali dunia sastra di tahun 2003. Nah semua puisinya ini, dikatakan oleh Pranita sebagai caranya untuk melihat dunia secara berbeda, dengan kacamata puisi. Seperti apa sih? Karena penasaran, akhirnya satu persatu puisinya kubaca. Dengan telanjang, aku bisa menemukan idealisasi remaja kebanyakan akan cinta dalam "Sajak Cinta"

SAJAK CINTA

sempat pula kumerenung
jika suatu nanti angin mendung
tak lagi berkabung
kita bersuami instri
di sisi kita ada cinta

rumah kecil kita
walau gubug reyot
tapi ada cinta
tempat tidur dipan kita
walau keras
namun ada cinta
lantai tanah kita
walau kasar
tetap ada cinta

kita tak punya tv berwarna
masih kita punya cinta
kita mewarna dalam cinta
sebab kita tumbuh dari cinta
cinta untuk bercinta
mawar sudah tak lagi dijamah
edelweis di sebelah kita merekah
di halaman cinta kita
hati kita diteduhi cinta
kita tak habis mencinta

2003


Aih, remaja! Mungkin syl akan berujar buru-buru (sambil diselubungi promosi bukunya): Makan tuh cinta! Hahaha...

Memang di awal-awal tema-tema jatuh cinta "buta" ini cukup marak, sampai satu waktu tema-tema cinta itu digantikan dengan tema patah hati yang dalam dan begitu sedih. Coba saja baca kutipan puisi "Kuukir Syair Akhir" ini:

"tiga tahun
mengukur takdir
segala impian lebur terkubur
beku berpadu debu"

E-e-e... remaja! Patah cinta pun jadi puisi. Banyak pula... Geleng-geleng sendiri aku membacanya karena jadi ingat jaman-jaman cinta monyet, jaman jatuh cinta "tai kambing pun serasa coklat", jaman putus cinta "mau nubruk kereta". halah! Tema putus cintanya pun akhirnya mulai terungkap, bila tafsirku benar, Pranita dan pacarnya putus karena alasan agama, seperti yang tercantum pada puisi "Waktu Luruh, Kisah Hijau"

Tapi tenang... tema cinta hanya di awalan. Di tengah, tiba-tiba kita disodorkan tentang erotika. Dengan lancar, Pranita menulis tentang persetubuhan dalam puisi "Kau ziarahi tubuhku" dan "Di taman ini siapa berdosa", seolah tak mau kalah dengan para senior yang lantang bicara kelamin. Seolah ini menegaskan pujian Sitor Situmorang soal kecele usia dan kecele kematangan.

Tema yang lebih dewasa, yang berisi kritik sosial pun hadir. Seperti pada "Pantai Letih", "Pelacur Para Dewa", "Nuh, kenapa kau tak datang kali ini". Berikut ini kukutipkan kritik Pranita pada eksplorasi pantai dan laut Bali demi pariwisata dalam puisi "Pantai letih"...

"kita berjalan ke arah pantai
menuju istana para kerang
pantai ini keruh
apa kita yang buat?

...

biarlah sesekali laut mengadu
pada kita tentang nasib ikan-ikan
dan terumbu karang yang mengerang
tersiram tuba"


Puisi "Pelacur Para Dewa" kiranya merupakan puisi yang sangat provokatif. Kita tahu betapa Bali masih amat mengagungkan dewa-dewa agama Hindu, dan jelas memasukkan pelacur dalam panggung dewa-dewa amat berani dan terkesan memberontak. Dan kesan pemberontak, mempertanyakan, juga kental pada puisi ketiganya, yang berisi kegetirannya atas bencana tsunami Aceh.

Tapi buatku yang paling menarik adalah membaca puisi-puisi yang ditulis Pranita di tahun 2005, di usia yang lebih matang, 18 tahun. Puisinya lebih bernas, meninggalkan semua jeroan kata yang tak perlu, lebih beragam. Ada satu puisi yang aku suka, judulnya "Dari hulu, perjalanan kita belum mampu". Setiap kata berbunyi dengan indah seperti gamelan Bali, tapi sayang aku tidak menangkap maksudnya. Adakah yang bisa mengartikannya untukku?

Akhirnya, puisi-puisi Pranita memang merupakan tafsir dirinya tentang dunia di sekitarnya: tentang cinta, kejadian, peristiwa, kurun waktu. Dalam hal menafsirkan dalam puisi, Pranita masih tumbuh. Semoga menjadi lebih lugas lagi seiring usianya yang makin dewasa.

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator