Lebih Baik dari Novel Pertamanya

Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC
Karya E.S. Ito

Terbit: 2007 oleh Hikmah | Binding: Paperback | ISBN: (isbn13: 9789791140997) | Karakter: Batu Noah Gultom, Attar Malaka, Catherine Zwinckel, Profesor Huygens | Halaman: 675


"Wah, sampulnya mewah banget!" - Begitu hati kecilku berkata menimang novel yang didapatkan secara gratis ini. Covernya ada logo VOC tapi anehnya ada tiang di tengah-tengah huruf V. Sesuatu yang tidak ada di logo asli VOC. Hmmm...

Buku E.S. Ito yang satu lagi, Negara Kelima juga tak kalah mewah. Sama-sama dicetak timbul, lalu disertai tambahan keterangan "dalam memperingati 100 tahun kebangkitan nasional". Yang saya dapat versi cetakan kedua. Ck-ck-ck...

Lalu ketika lembar sampul dibalik, kutipan puja-puji dari banyak orang menyambut mataku. Mungkin maksud pencantuman puja-puji di lidah buku ini merupakan sarana marketing agar orang buru-buru membeli novel ini. Yang dikutip pun public figure yang cukup berpengaruh: mulai dari sutradara, sejarawan, peneliti, hingga sastrawan. Tapi aku males baca bagian ini... Menyitir kata Fadjroel Rahman, dia ini Pram muda. "Masa' iya sih?"

Jadi untuk membuktikan, novel tebal ini kubaca. Plotnya sederhana saja: dua sahabat baik, Batu dan Attar yang ultra-nasionalis terjebak dan tewas dalam konspirasi perebutan emas VOC yang dilakukan oleh anak cucu dari "Monsterverbond" -- yang menyeret semua orang yang mereka kenal dan mereka cintai. Dimulai dari prolog, yang berisi perundingan pihak Indonesia dengan Belanda pada Konferensi Meja Bundar dan berakhir dengan pembunuhan aktor intelektual/dalang utama konspirasi ini.

Yang paling menyenangkan dari membaca novel ini adalah kedekatannya/keintimannya. Mulai dari daerah-daerah yang diceritakan sudah sebagian besar aku kunjungi, alamat-alamat yang ada di tebet dekat dengan rumah, guru uban yang mirip guru sejarahku, dan sejarah yang jadi minatku. Begitu dekatnya, sampai-sampai aku selalu mengingatkan diri untuk tidak terlalu lena membacanya dan menjadi fanatik. Misalnya, untuk tidak terburu-buru terpengaruh oleh pendapat orang bahwa ini novel sejarah atau kisahan ala Dan Brown.

Pertama, novel ini jelas bukan novel sejarah. Memang ada fakta sejarah yang dimuat, tetapi novel ini lebih tepat disebut bergenre suspense. Tidak ada tafsir sejarah yang tepat di sini, semuanya terasa dipampatkan untuk bisa sesuai dengan imajinasi penulis yang menginginkan adanya konspirasi terselubung sehingga ia berupaya mengkait-kaitkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Apakah kita bisa melihat tokoh sekuat Minke dalam Bumi Manusia-nya Pramoedya? Ternyata tidak. Batu ataupun Attar bukan tokoh sejarah yang sekuat karakter Minke.

Kedua, novel ini memang menawarkan keunggulan penceritaan konspirasi. Tema yang jarang dilirik penulis Indonesia. Jarang, bukannya tidak ada. Tapi yang menarik, konspirasi yang ditawarkan ini adalah konspirasi paling menarik yang pernah ada dalam dunia penulisan di negeri ini. Bahkan jauh lebih menarik daripada buku E.S. Ito yang pertama. Nah, untuk disebut kisahan ala Dan Brown, kupikir memang pantas.

Hal lain yang mengganjal hanya "kerikil kecil dalam sepatu":
1. Mengapa sewaktu diculik, Lusi dan Chaterine tidak menelpon
dengan menggunakan HP?
2. Salah sebut nama Rony dengan nama Batu, padahal Chaterine selama ini selalu mengenalnya dengan nama Rony Damhuri.

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator