Belajar dari sebuah "penyesalan"...

The Remains of The Day (Puing-Puing Kehidupan)
Karya Kazuo Ishiguro

Terbit: 2007 oleh Hikmah | Cetakan pertama: 1989 | ISBN: 9791140235 | Karakter: Stevens, Miss Kenton | Setting: UK | Literary Award: Booker Prize Winner 1989

KALAU mau belajar tentang kesalahan dalam hidup, baca deh novel ini. Inti novel ini adalah sebuah "penyesalan": tentang seorang kepala pelayan keluarga ningrat, bernama Stevens, yang memberikan kepercayaan dan totalitas hidupnya pada Tuan Darlington dan berujung fatal. Lagi, dalam komitmennya mencapai keprofesionalan sebagai kepala pelayan, Stevens tidak mengejar cintanya pada seseorang yang telah membuat hidupnya lebih utuh dan dicintai.

Sikap resmi yang membalut dirinya membuat Stevens membatasi dirinya pada keintiman, kebersamaan, dan pengertian. Tensi dalam novel ini -- dalam versi bahasa Inggrisnya amat terasa tetapi sayangnya versi terjemahannya kurang terasa -- makin lama kita sebagai pembaca dibawa ke situasi dimana Stevens semakin terpuruk dalam penyesalan setiap kali mengenang nostalgia hidupnya. Terutama saat dia tahu bahwa seseorang itu sangat yakin bahwa hidupnya akan jauh lebih baik bila ia menikah dengan Stevens. Novel ini ditulis oleh penulis Kazuo Ishiguro dengan teknik narasi orang pertama (klasik banget nggak sih?). Hehehe.

**** spoiler alert ****

Plotnya bercerita tentang Stevens, seorang kepala pelayan yang memutuskan untuk melakukan perjalanan keluar kota selama 6 hari meninggalkan Darlington Hall, rumah yang sudah diabdinya selama 34 tahun. Dulunya rumah itu milik Tuan Darlington, tetapi sejak kematiannya rumah itu dibeli oleh bangsawan Amerika bernama Tuan Farraday. Meskipun Stevens suka tuan barunya ini, tetapi Stevens tidak bisa bergaul baik dengannya hanya gara-gara dia tidak bisa melucu karena terlalu serius. Tujuan perjalanan Stevens adalah menemui Non Kenton, mantan pembantu di Darlington Hall yang telah memutuskan meninggalkan tempat itu 20 tahun lalu untuk menikah. Stevens berpikir pada saat ia menerima surat dari Non Kenton, ia bisa datang ke sana untuk mengajaknya kembali bekerja hanya karena berpikir (bukan merasa ya) di surat itu secara intrinsik perkawinan Non Kenton/Ny. Ben sudah berakhir dan dia mau jadi pembantu lagi.

Selama narasi yang kebanyakan berisi kenangan Stevens atas hasil kerjanya sebelum dan sesudah PD II, kita diajak untuk melihat bagaimana persisnya sebuah pesta diadakan secara besar dan mewah, serta membayangkan siapa saja yang pernah makan dan tinggal di sana. Hingga lama-lama kita tahu bahwa Tuan Darlington disalahgunakan oleh Jerman di bawah Hitler. Tapi Stevens seperti orang yang ditutup matanya tak bergeming atas kejadian yang akhirnya mencemarkan nama Tuan Darlington. Selama perjalanan itu juga terjadi kilasan kenangan Stevens dengan sesama kepala pelayan profesional dan yang terutama terungkap cinta terpendam (yang sengaja dibiarkan oleh Stevens) pada Non Kenton. Yang meskipun dalam cerita digambarkan mereka suka silang kata, padahal di dalam hatinya kita tahu mereka peduli dan sayang satu sama lain. Dan tragisnya, sampai akhirnya Stevens bertemu dengan Non Kenton, ia tetap tidak bisa menyampaikan rasa sukanya itu... padahal Non Kenton sudah jelas-jelas menyatakan bahwa hidupnya akan jauh lebih baik bila ia menikah dengan Stevens daripada dengan Tuan Ben.

Saya agak terbata-bata saat membaca versi terjemahan ini karena terkesan lambat dan membosankan, serta ada beberapa kosa kata yang tidak mudah dipahami dan akhirnya memutuskan untuk membaca versi aslinya baru kemudian versi terjemahannya dan barulah mengerti duduk persoalannya: mungkin karena kekakuan narasi Stevens membuat terjemahannya pun terasa dingin dan kaku sehingga lambat dan membosankan. Sesuatu yang sedikit mengganjal saja rupanya.

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator