Mengupas Tragedi dalam Burung-Burung Manyar

Burung-Burung Manyar
karya Y.B. Mangunwijaya

Terbit 2004 oleh Penerbit Djambatan | Cetakan pertama 1981 | Binding: Paperback | ISBN: 9794285285 | Karakter: Setadewa (Teto), Larasati (Atik) | Literary Award: South East Asia Write Award 1983, Ramon Magsaysay Award 1996 | Halaman: 320

“There are only two tragedies in life: one is not getting what one wants, and the other is getting it.” - Oscar Wilde

Ada alasan mengapa kutipan Oscar Wilde mampir di review Burung-Burung Manyar ini. Karena buku ini berkisah tentang biografi kehidupan Setadewa, anak kolong yang terlanjur benci pada orang-orang yang menentang Belanda, tapi justru jatuh cinta pada gadis nasionalis yang sangat membenci Belanda, Larasati (Atik). Tragis kan? Getar tragedi itu membentang dalam alur spiral sepanjang lima belas bab roman ini dari jumlah keseluruhan dua puluh dua bab.

Tragedi Seta/Teto ini hidup dalam plot yang dirancang Romo Mangun mulai dari kali pertama cinta bersemi antara Seta/Teto dan Atik, cinta patah lantaran Atik memilih Janakatamsi, dan akhirnya cinta terbangun kembali meski Atik sudah tiada.

Di mata Romo Mangun, ada pertalian antara diri Seta/Teto dengan kebiasaan yang dilakukan burung manyar. Sebagaimana tertulis dalam disertasi Atik yang bertajuk "Jati Diri dan Bahasa Citra dalam Struktur Komunikasi Varietas Burung Ploceus Manyar", menjelang dewasa, burung manyar jantan berlomba merakit sarang yang paling indah agar dipilih burung manyar betina. Sementara manyar jantan membuat sarang, manyar betina hanya berleha-leha, sambil sesekali memerhatikan si manyar jantan membangun sarang. Setelah selesai sarang dibangun, manyar betina memilih sarang yang paling mereka sukai, dan manyar jantan yang tidak terpilih sangat kecewa dan membuang begitu saja sarang yang telah dibangunnya dengan susah payah. Akan tetapi, meski tidak terpilih, manyar jantan itu tak patah arang. Dicarinya lagi alang-alang, daun tebu, dan lalu ia rakit lagi sarangnya sembari berharap ini kali ada seekor manyar betina yang terpikat. Seta/Teto bisa diibaratkan sebagai manyar jantan yang tidak terpilih. Kesedihan dan kegagalan yang dialami oleh manyar jantan setidaknya juga dialami oleh Setadewa ketika mengetahui bahwa Atik yang selama ini diidamkannya telah menjadi milik orang lain. Sebagaimana burung manyar jantan, ia tidak putus asa. Ia mencoba untuk bangkit lagi. Ia kemudian menjadi kakak angkat bagi Atik dan pada akhirnya merawat anak-anak Atik.

Saya sendiri punya kesempatan untuk melihat langsung tingkah burung-burung manyar ini saat membuat sarang, sembari membaca roman ini. Memang benar, sarang yang buruk tidak akan dihinggapi oleh manyar betina dan si jantan langsung membuang jatuh sarang itu (kadang-kadang saya pikir gila juga tuh burung... sarangnya keren banget kok dihancurkan) ke tanah, lalu mulai membangun lagi sarang baru. Okay... back to review.

Pelukisan krisis eksistensi Aku (Setadewa) yang melalui tiga periode sejarah yang berbeda rupanya bertalian erat dengan jati diri bangsa Indonesia. Pertama, kurun warsa 1933-1944, rangkaian waktu di mana para pejuang kita kala itu gigih melawan penjajah dan terjadi peralihan kekuasaan dari tangan Belanda ke tangan Jepang—terutama pada masa kependudukan Jepang, di mana banyak perempuan menjadi budak seks serdadu Jepang. Teto mengaku bangga jadi anak KNIL. Kedua, warsa 1945-1950, ketika bangsa Indonesia telah merengkuh ‘kemerdekaan’. Teto benci Jepang dan otomatis benci semua yang membenci Belanda. Dan ketiga, warsa 1968, masa ketika Orde Baru berkuasa. Karena pernah mengalami ketiga zaman itu, sangat wajar jika Romo Mangun begitu piawai menuliskannya.

Nah, sewaktu membuat review ini saya membaca review Mahamanto, seorang sahabat, dan menemukan tafsir tentang babak peralihan yang ada kaitannya dengan sejarah kebangsaan. Menurut saya, roman ini pantas dikaitkan seperti itu, karena di dalamnya ada sebuah kisahan bagaimana pada masa itu persoalan kebangsaan dibentuk dari hasil pilihan sejarah pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya. Teto/Setadewa yang tidak punya pengalaman buruk dengan Belanda, menjadi pengagum Belanda bahkan rela jadi tentara NICA. Sementara Atik, yang melihat buruknya penjajahan, menjadi pribadi nasionalis. Kita seperti diberi "ruang berkaca" oleh Romo Mangun untuk melihat betapa sejarah kebangsaan kita ini tidaklah semulus dan selurus apa yang ada di dalam buku-buku sejarah kita, tetapi sebenarnya penuh dengan cerita-cerita yang kurang lebih mirip dengan kisahan di dalam Burung-burung Manyar ini.

5/5

2 balasan:

Ronny Agustinus mengatakan...

sastra alibi mampir! :D

Amang Suramang mengatakan...

Makasih bung buat kunjungannya.

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator