Berpikir, Menunggu, dan Berpuasa

Siddhartha
Karya Hermann Hesse

Terbit 2007 oleh Penerbit Jejak | Cetakan pertama: 1922 | Binding: Paperback | ISBN: - (isbn13: 9789791634111) | Karakter: Govinda, Siddhartha, Gotama | Halaman: 224

Indonesian edition of Siddharta, Shambala, Boston & London, 2000
Translator: Sovia V.P.
Editor: Ahmad Norma Permata


Terbit 2007 oleh Penerbit Jejak | Cetakan pertama: 1922 | Binding: Paperback | ISBN: - (isbn13: 9789791634111) | Karakter: Govinda, Siddhartha, Gotama | Halaman: 224

Indonesian edition of Siddharta, Shambala, Boston & London, 2000
Translator: Sovia V.P.
Editor: Ahmad Norma Permata


"Berpikir, menunggu dan berpuasa" -- tiga hal yang amat baik dikuasai oleh Siddhartha mengantarkannya pada jalan pencerahan spiritual (aufklarung/enlightenment). Pada Siddhartha, pencarian kebenaran berkaitan erat dengan hubungan harmonis dengan dunia. Kebenaran yang dicari oleh Siddhartha adalah suatu pemahaman universal akan hidup. Pada awal pencariannya, Siddhartha tidak sendirian, ada Govinda temannya yang juga sama-sama ingin mencari makna kebenaran itu. Sama-sama mereka melepas status mereka sebagai putra Brahmin dan menggelandang menjadi samana selama 3 tahun. Hidup dari ketiadaan, menjalani asketisme yang anti-material, makan dari pemberian orang itupun hanya sekali sehari. Namun kebenaran tidak ada di sana. Membenci kehidupan tidak memberikan jawaban atas pencariannya itu. Lalu kita jumpai Govinda dan Siddhartha bertemu dengan Gotama, guru yang lebih dulu menemukan kebijaksanaan, dan di sana Govinda dan Siddhartha berpisah karena Siddhartha berpikir pencarian kebenaran tidak bisa dipahami dengan baik lewat mengikuti ajaran, tetapi hanya bisa dicari sendiri. Setelah itu ia mencari kebenaran pada dunia material (cinta badani dan uang) dari Kamala, seorang pelacur dan Kamaswami, seorang pedagang. Namun tetap Nirwana yang ia cari, tempat dimana kebenaran berada tidak ditemukan.

Pada akhirnya Siddhartha mampu menemukan kebenaran yang ia cari dengan upayanya sendiri dari setiap tahapan spiritual yang ia alami. Siddhartha belajar bahwa pencerahan spiritual tidak bisa dicapai melalui guru-guru dan ajaran-ajarannya, karena hal itu tidak bisa diajarkan. Pencerahan datang dari proses pencarian pencerahan itu sendiri. Adalah Vasudeva -- penarik sampan -- yang pada akhirnya mengajak Siddhartha untuk memahami hidup dengan mendengarkan suara sungai. Vasudeva tidak memberitahu apa yang akan dikatakan sungai saat Siddhartha akhirnya mendengar apa yang dikatakan sungai padanya. Sementara itu Govinda yang memilih mencari kebenaran dengan mengikuti Gotama, pada akhirnya tidak menemukan Nirwana yang ia cari.

Yang paling menarik dari novel ini adalah penggambaran Siddhartha sebagai manusia pencari kebenaran. Manusia yang bisa salah. Manusia yang bisa terjebak dalam uang. Manusia yang pada akhirnya berikhtiar dan menemukan jawaban dengan daya upayanya sendiri. Pencarian Siddhartha mewakili pencarian semua kita, jiwa-jiwa spiritual yang haus akan makna kebenaran yang sejati.

Hal kedua yang menarik datang dari konsep "Om":
Om adalah busur
anak panahnya adalah jiwa
brahman adalah sasarannya.
Seseorang harus mencapainya tanpa ragu-ragu


Om, kesempurnaan. Om adalah pintu masuk menuju pencerahan yang menunjukkan ketunggalan dan persatuan akan segala hal. Perkenalan Siddhartha dengan Om ada pada saat ia menjadi Brahmin, tetapi ia yakin tidak ada orang yang memahami dengan sungguh arti Om. Ketika Siddhartha mendengarkan sungai seperti yang diminta oleh Vasudeva, ia mendengar kata Om lebih sering dan bagaimana Om itu terlibat tidak hanya dalam dunia spiritual dan badaniah, tetapi pada akhirnya Om bermakna semua hal hadir pada saat yang bersamaan, semua kemungkinan adalah nyata, dan waktu itu sendiri tidak berarti.

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator