Kehadiran Bunyi dalam Puisi Saut Sitompul

Kongres Kodok: Kumpulan Puisi
karya Saut Sitompul

Terbit Maret 2001 oleh LSPP | Binding: Paperback | ISBN: -
(isbn13: 9799381088) | Halaman: 62


BARANGKALI bila tanpa desakan teman-teman baiknya, baik yang dikenalnya di Jaringan Kerja Budaya atau rekan-rekan seperjalanan seperti diriku, Saut Sitompul tidak akan membukukan puisinya. Saut Sitompul adalah salah satu penyair puisi yang dengan bangga berkata, "Puisiku bukan berada di galeri-galeri atau gedung-gedung penuh orang-orang wangi. puisiku akan kubacakan di biskota-biskota."

Demikian ia berandai dan menghitung, bila 1 biskota penuh sesak berisi di atas 52 orang, maka bila 10 biskota ia naiki dan bacakan puisinya, sehari ia meraih apresiasi 520 orang. Fantastis bukan?

Berapresiasikah mereka? Pada banyak kesempatan, para penumpang berapresiasi. Apalagi pada puisinya yang berjudul "Puisi" yang liriknya demikian kocak:

Jangan terlalu dipusingkan bagaimana menulis puisi/ Cukup berjongkok di taman/ dengan pena di tangan/ Ada daun jatuh tulis!

Para penumpang suka berseloroh:
+ "Ada bau ketek?"
- Jawab Saut: "Tulis juga!"
+ "Ada copet?"
- "Tulis, tulis, tulis!"

Itu tidak ada dalam teksnya, tetapi puisinya memang demikian cair hingga bisa melibatkan para pendengar. Kali lain, pernah aku temui, ia membacakan puisi yang menjadi judul buku ini "Kongres Kodok". Ia bagi penonton dalam dua kelompok bunyi. Lalu mereka bersama-sama berpuisi massal. Dari jauh, terdengar seperti bunyi nyanyian kodok di kolam. Ah, di titik ini "Kongres Kodok" sudah berbunyi.

Puisi itu berbunyi! Bunyi amat penting bagi Saut Sitompul yang sebenarnya sekolah di jurusan Musik Institut Kesenian Jakarta. Maka puisi baginya adalah semata-mata bunyi. Bila puisi "tidak berbunyi", maka ia tidak akan sampai di hati.

Saut Sitompul dan karyanya memang tidak bermegah-megah. Barangkali tak banyak yang kenal ia. Tetapi Saut Sitompul sekaligus puisinya hadir intens dalam pergumulan kreatifku dan memberi warna. Ini puisi yang kutulis seketika saat kudengar ia mati.

AJARKAN TUHAN BAGAIMANA MENULIS PUISI
: Kredo untuk almarhum Saut Sitompul

Biar kukisahkan lagi sebuah puisi
dari penyair yang mati ditabrak taksi

".... Tang!"
lantangmu berdentang panjang
kernyit di dahimu pun hilang
diganti siulan dan tepuk tangan orang

"Ada daun jatuh, tulis!"
ajakmu girang pergaulan
pada orang asing, sanak saudara, dan handai taulan
peziarah merah, pelawat berkudung hitam, dan juga rombongan kawan

karena menulis puisi
...... adalah menulis kehidupan
karena menulis kehidupan
...... adalah menulis kemenangan

"Tak usahlah terlalu dipusingkan bagaimana menulis puisi"
itu kalimat sekarang berlaku untukmu
karena tak lagi sempat, teman
karena tak sempat kau menulis baris-baris bunyi
dengan rima dan ketukan fantasi

Kini terbanglah kau! Bahkan lebih cepat
dari concorde mesin perancis yang melesat

Tegak lurus ke hadapan khalikmu,
tuhan yang kau sapa bapak!

Lalu kau ajak Ia menulis puisi,
karena puisimu amatlah indah.
Dan semoga ia turun dalam genderang bertalu
seiring deras hujan di malam minggu.

Jakarta, 14 Februari 2004


5/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator