Merasakan Kekuatan Realisme Majis Cerpenis Amerika Latin

Perempuan Mimpi-Mimpi
karya Gabriel García Márquez

Terbit 2002 oleh Penerbit Sumbu, Yogyakarta | Binding: Paperback | ISBN: 9799644895 | Halaman: 92

Berisi kumpulan 8 cerita pendek Gabriel García Márquez
Translator: Mahdi Husin
kecuali cerpen "Penyerahan Diri Ketiga" oleh Mahdi Husin dan Iim I. Padmanegara
Editor: Ken AW

GAYA realisme majis yang menjadi kekuatan cerita-cerita Gabriel García Márquez hadir dalam 8 cerita pendek yang dicomot oleh Mahdi Husin (penerjemah) dari kumpulan karyanya di sana-sini. Penulis Amerika Latin yang aslinya dari Aracataca, pusatnya pisang di Kolombia ini mewakili semangat jamannya lewat gaya penulisan realisme majis yang cenderung mengkombinasikan elemen-elemen fantasi dan mitologi dan fiksi realistis.

Gaya itu aku temukan mencuat dalam cerpen "Penyerahan Diri Ketiga" yang bercerita tentang seseorang yang meninggal, sebenarnya karena ia ingin mematikan kehidupan di sekitarnya tapi malahan ia jadi mayat betulan, lalu sebagai mayat diri si penutur terus bercerita tentang keadaan dirinya di dalam tanah saat demi saat, termasuk juga kenyataan yang berubah menjadi situasi 'kematian yang hidup' bahwa tubuhnya mati tetapi pikirannya tetap hidup. Fantastis, belum pernah kutemukan ada penulis yang demikian intens menulis tentang situasi yang magis seperti ini.

Cerpen "Malam Burung Hantu" bercerita hal lain yang tak kalah magisnya. Samar-samar aku seperti sedang membaca cerita tentang realita penangkapan orang-orang yang vokal pada pemerintah, tetapi teks yang disodorkan adalah cerita mengenai orang yang berupaya lari dalam keadaan buta karena matanya dipatok burung hantu. Ngeri dan aneh memang.

Namun tidak ada yang semencekat waktu aku membaca cerpen "Selasa Waktu Siesta" (ada salah penulisan di buku ini, yang benar bukan 'seista', tetapi 'siesta'). Cerpen ini bercerita tentang ibu dan anak perempuannya yang miskin, jauh-jauh bepergian ke satu kota, sebenarnya ke pastoran tempat anaknya ditembak secara tak sengaja oleh adik pastor, tetapi untuk menutupi kesalahannya, adik pastor itu berkata bahwa anak itu adalah maling. Sampai selesai baca, pikir-pikir cerita ini sering juga terjadi, betapa kita mungkin pernah menutupi kesalahan diri kita dengan berbohong dan merugikan orang lain yang tak bersalah.

4/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator