Saat Sastra Menziarahi Mantra

Mantra Orang Jawa
Karya Sapardi Djoko Damono

Terbit Januari 2005 oleh Indonesia Tera | Binding: Paperback | ISBN: 9799375984 | Halaman: 80


DALAM bahasa Sansekerta, mantra atau mantera berarti pesona. Di pesisir timur Sumatra Utara yang didiami orang kampong dikenal beratus-ratus mantra yang dipergunakan untuk pengobatan atau kegiatan harian lainnya. Dari beratus mantra inipun seluruhnya berbentuk puisi yang mempunyai kekuatan. Puisi mantra ini diciptakan langsung oleh "mambang", "jembalang". Misalnya penggalan mantra yang digunakan mambang laut agar nelayan tetap sehat dan tangkapan ikannya melimpah:

Assalamualaikum/ Aku kirim salam kepada jin tanah/ Aku tahu asalmu/ Kau keluar dari air ketuban/ Bukan aku melepas bala mustaka/ Sang Kaka Sang kipat/ Melepas bala mustaka

Atau mantra untuk penawar bila orang yang tersengat racun hewan:

Aku tahu asal mulamu/ Bisa darah haid siti hawa/ Surga akan tempatmu/ Cabut bisamu/ Naikkan bisa tawarku

Di masyarakat Batak, mantra disebut Tabas, yang bermakna luas sebagai permohonan. Tabas-pun berbentuk bait-bait puisi (umpasa).

Inilah mantra-mantra yang tersebar di tanah air, tanpa terkecuali di dalam masyarakat Jawa. Mantra dipercaya mengandung kekuatan dan semangat supranatural. Ronggowarsito, misalnya, dalam kesusastraan Jawa di abad 19 cukup banyak menulis mantra dari tradisi lisan (tutur) yang ada di masyarakat Jawa. Bahkan mantra juga digunakan sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam karena orang Jawa pada waktu itu tidak lazim membaca teks kitab agama, sehingga agama diajarkan menggunakan tembang, kidung, atau kesenian rakyat seperti wayang kulit, ludruk, ketoprak, dan lain sebagainya, dalam hal ini mantra juga disisipi ajaran agama.

Oleh Sapardi Djoko Damono, mantra-mantra orang Jawa ini dituliskan kembali menjadi puisi-puisi. Ini adalah wilayah eksplorasi kreativitas penulis yang dapat disahkan sebagai creative license. Mantra bisa jadi "aji" seperti "Menghindari Peluru", jadi "doa" seperti pada "Doa Sebelum Mandi", "Doa Sebelum Sanggama", "Doa agar keinginan tersampai", atau jadi mantra kesembuhan dan mantra lainnya. Semua mantra-mantra ini dihadirkan kembali dalam bentuk kemasan puisi.

Seperti apakah kemasan puisi yang ditawarkan Sapardi Djoko Damono, mungkin ada baiknya dilihat di sini:

BISMILLAH

Bis: kulit
Mil: daging
Lah: tulang

Alrahman
Alrahim:
sepasang mata
kiri dan kanan


DEFINISI

Ashadu: rasa pun turun
Ilaha: hakikat rasa
Illalah: rasa pun menyawa

Mohammad sebagai ujud
Allah hakikat hidup


Lewat mantra yang sudah diubah jadi puisi ini, Sapardi Djoko Damono melakukan "perlintasan", yakni saat sastra menziarahi mantra, berkawin dan beranak jadi buku ini.

3/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator