Sastra dari Negara-Negara Timur

Setanggi Timur
karya Amir Hamzah (ed.)

Terbit 1984 oleh Penerbit Dian Rakyat | Cetakan pertama: 1959 | Binding: Paperback | Halaman: 34

Setanggi Timur dikumpulkan oleh Amir Hamzah. Berisi puisi dan cerita dari lima bagian yakni:
1. Ajam
2. Hindi
3. Tiongkok
4. Jepun
5. Turki

AKU pikir jarang sekali bisa menikmati haiku (dibaca: haik) terjemahan. Barangkali jejak penerjemahan haiku tertua adalah dalam buku Setanggi Timur ini, yang dikumpulkan oleh Amir Hamzah. Sebagaimana dijelaskan Amir Hamzah, haiku adalah "nama sajak yang sependek-pendeknya dalam sastera Jepang, terbentuk dari 17 patah kata, terkandung dalam tiga baris. Keganjilannya lagi bahwa sajak ini tiada bersajak dan tiada pula berirama, tetapi tiada mengapa, sebab bahasa Jepang itu mahamerdu" (hal. 33)

Meskipun minim kata, tapi mampu bicara banyak. Misalnya bicara tentang kesepian, di dalam haiku Ukihashi dapat ditemukan seperti ini:

Mata terlayang...
tersentak jaga...
Aduh kelambu, alangkah lebarnya
Tiada berdua

Atau bicara tentang lukisan alam ini, seperti berikut:

Di genta-kelenteng raya
Kupu terlena cendera
Dengar! Air terjun,
Di sini, di sana, di celah-celah daun muda


Selain haiku, Amir juga memperkenalkan "Tanka" yakni nama bentuk sajak yang lain dalam sastera Jepang, mempunyai 31 patah-kata, terkumpul dalam lima baris.

Bukan cuma sastra Jepang yang dikumpulkan di sini, Amir juga mengumpulkan puisi dari India (Rabindranath Tagore misalnya), Cina (Li Tai Po, dkk.), Turki (Kemalpascha saidi Ahmad dan teman-temannya) yang rupa-rupanya menurut dia mewakili semangat Sastra Timur.

Karya Rabindranath yang menarik adalah ceritanya mengenai burung liar dan burung jinak.

Burung jinak di sangkarnya, burung liar di rimba-raya
Bersua keduanya di suatu masa, telah demikianlah takdir.

Burung liar memanggil: "Kekasihku, mari lari ke rimba-raya"
Berbisik burung tertangkap: "Mari diri, bersama kita di dalam sangkar"

Kata burung bebas: "Dimanakah lapang di celah jerejak mengembangkan sayap?"
"Wah", himbau burung di sangkat, "Dimanakah aku bertengger di awan terbentang"

Menghimbau burung bebas: "Cahaya-mataku, nyanyikan daku laguan hutan"
Menjawab burung di sangkar: "Duduk tuan di sisiku, biar kuajari bahasa budiman"
Menjawab burung rimba: "Tidak! Tidak! Adakah lagu mungkin dipelajari?"
Berkata burung di sangkar: "Aduh! Tiada kuketahui laguan rimba"

Kasih mereka bergelombangkan hasrat, tetapi tiada mungkin terbang beradu sayap. Berpandangan mereka dari celah jerejak, percumalah kehendak akan berkenalan. Menggelepar-gelepar mereka penuh gairah, sambil berlagu: "Mari rapat kekasihku!"

Menghimbau burung bebas: "Percuma, takut aku kan pintu sangkar yang terkunci."
Berbisik burung di sangkar: "Wah, kepakku tiada berkuasa dan mati"

(Rabindranath Tagore)


Hmm... kasihan sekali nasib burung-burung itu kan. Cerita burung itu sebenarnya simbolisasi dari nasib masyarakat India yang saat itu mulai hidup terkurung di bawah Kerajaan Inggris. Lewat medium yang sama, Rabindranath juga pernah mengkritik kalangan Ortodoks di India. Cerita ini hanyalah sedikit cetusan pemikiran Rabindranath tentang nasionalisme India. Secara lugas pemikiran politiknya pernah ia tuangkan dalam "Chitto Jetha Bhayshunyo" ("Saat Pikiran Tanpa Rasa Takut") dan "Ekla Chalo Re" ("Jika mereka tak menjawab panggilan-Nya, jalan terus").

Sungguh buku yang menarik dan menuai decak kagum karena dari sini aku bisa belajar sastra dari negara-negara Timur lain. Salut untuk kerja keras Amir Hamzah!

5/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator