Jangan Nodai Hati dengan Prasangka

To Kill a Mockingbird: Novel tentang Kasih Sayang dan Prasangka
Karya Harper Lee

Terbit 2006 oleh Qanita (Mizan Group) | Cetakan pertama: 1960 | Binding: Paperback | ISBN: 97932694005 | Halaman: 568 | Penghargaan: Winner of The Pulitzer Prize 1961

Indonesian edition of To Kill A Mockingbird, 1960
Translator: Femmy Syahrani

Tahun 1930-an. Suatu periode yang disebut Great Depression, ketika Perang Dunia I menyedot uang begitu banyak hingga akhirnya ekonomi dunia ambruk. Amerika, negara yang kuat saja akhirnya ikutan mengalami zaman susah. Sesusah kisah hidup petani Cunningham yang diceritakan dalam buku ini, sampai-sampai si Walter Cunningham --teman sekelas Scout di kelas 1-- bersekolah tanpa sepatu dan cuma punya satu baju bersih. Atau dalam film-film Charlie Chaplin, digambarkan saking susahnya sampai-sampai Charlie rela merebus sepatunya sendiri untuk dimakan. Dan karakter seperti pengacara Atticus Finch yang rela dibayar dengan cara barter oleh ayah si Walter atau keluarga Ewells yang hidup dari berburu semua sepertinya sedang bokek. Bukan cuma itu, di buku itu dijelaskan, karena petani miskin maka dokter, guru, dan pengacara juga ikutan miskin. Itulah yang membuat karakter dalam novel-novel ini semua serba miris keadaannya.

Zaman susah ini yang disebut juga dengan Malaise sudah berlangsung dari tahun 1929 dan Nusantara (waktu itu kita belum merdeka lho teman-teman) masih berkutat dengan pertarungan di tingkat elit Belanda soal Politik Etis. Banyak yang tidak mau meneruskan karena persoalan dana ini juga, tetapi sebagian lain ingin tetap mempertahankan karena ada semangat "kemanusiaan".

Sebenarnya yang paling menarik adalah semiskin-miskinnya para karakter yang ada di buku ini, pendidikan tetap dinomer satukan. Bahkan ada perda Alabama yang mengharuskan anak-anak untuk sekolah, bila tidak orangtuanya bisa dipenjara. Di buku, sempat terungkap waktu Scout ngambek nggak mau sekolah dan membikin pusing pak Atticus dan akhirnya mereka berkompromi agar Scout mau sekolah lagi.

Dan yang lebih menarik lagi, Calpurnia adalah perempuan Afro-american yang cukup terpelajar meski profesinya cuma tukang masak. Memang profesinya masih rendah, tetapi dia cukup melek ilmu. Sekolahkah dia? Rasanya nggak mungkin... namun dengan menunjukkan pengetahuannya, pastilah ia punya niat belajar yang kuat. Cal menjadi jembatan antara orang kulit putih dengan komunitas Afro-american di lingkungannya.

Oke, sekarang mengenai settingnya. Kotamadya Maycomb adalah kotamadya fiktif. Tetapi Alabama tidak. Negara federal ini dikenal sebagai penghasil kapas dan pada konteks waktu 1930-an sampai nanti pada tahun 1960 adalah penyokong perbudakan dan rasisme. Seperti halnya kota-kota Selatan, strata sosial di Maycomb kira-kira berlaku demikian: Orang kulit putih yang profesional seperti keluarga Finch, lalu orang kulit putih miskin seperti keluarga Cunningham dan Ewells, lalu baru di bawah mereka, paling rendah dan hina, adalah orang-orang Afro-american. (Di Nusantara, strata sosialnya: orang Belanda, orang Cina, orang pribumi yang disetarakan dengan anjing) Kentalnya rasisme di kota-kota Selatan, terwakili oleh sikap mayoritas masyarakat yang anti dan penuh syak prasangka pada orang Afro-american yang mereka sebut "colored" alias berwarna (hitam), seperti yang ditampakkan pada sikap keluarga Ewells dan pada diri Pak Walter Cunningham atas diri Tom.

Aku mendapat kehormatan untuk bisa menikmati novel aslinya (cover kanan), karena dipinjamkan oleh Ari Lestari Ariyanti. Yang menarik, dalam novel aslinya ciri khas dialek orang Alabama yang kalau aku perhatikan adalah kalau ngomong cepet dan sering mengatupkan giginya, mirip gaya omong Clarice Starling (diperankan Jodie Foster) di film The Silence of The Lambs, tetap dipertahankan.

"Yeah Jem, but I don't wanta study cows, I-"
"Sure you do. You hafta know about cows, they're a big part of life in Maycomb County"


Dialog ala Selatan ini sering muncul dalam kisah sehari-hari Jean Louise "Scout" Finch dan kakaknya yang lebih tua 4 tahun Jeremy Atticus "Jem" Finch. Aku suka sekali Scout. Dia anak perempuan yang luar biasa. Ceriwis dan yah tomboi sih. Inget nggak dia hampir meninju Walter waktu jam istirahat. Dibanding anak-anak seumurnya, Scout sangat pintar, jago membaca, berdebat, dan betul-betul polos murni. Rasanya semua ini tak lepas dari peran ayahnya, Pak Atticus. Ia telah mengasah pola pikir Scout, kesadarannya, dan kepribadiannya tanpa merecoki dengan segala macam kemunafikan dan serba prasangka. Sementara kebanyakan anak perempuan memakai gaun dan belajar jadi wanita bermartabat, Scout alih-alih memakai overall/baju monyet dan belajar memanjat pohon dengan Jem dan Dill.

Lewat kacamata Scout yang ceriwis dan tomboi inilah kisahan drama moral dari kisah hidup Tom Robinson yang diadili hanya gara-gara dia "berwarna (hitam)" dan perjuangan Atticus ayahnya untuk membela Tom disampaikan. Lewat cerita ini, Harper Lee ingin menyampaikan bahwa "yang baik" dan "yang jahat" hidup berdampingan di dunia manusia ini. Tapi jangan sampai "yang baik" seperti yang ada pada diri Jem, Scout, Boo, Tom dikalahkan oleh "yang jahat".

“Mockingbirds don't do one thing but make music for us to enjoy . . . but sing their hearts out for us. That's why it's a sin to kill a mockingbird.”

Apa yang ada pada mereka itulah yang disimbolisasi dengan kata "mockingbird", yakni sesuatu yang polos, murni, baik dan jangan sampai dicemarkan oleh tangan-tangan jahat yang digelapkan oleh prasangka, rasisme, dan kedengkian.

Moralitas yang ditegakkan oleh diri Atticus Finch, ikut membentuk kedua anaknya menjadi pribadi yang sadar moral dan lewat kisahan Tom, mereka diuji saat berhadapan dengan pikiran-pikiran jahat. Jadi "yang jahat" dan "yang baik" di dunia ini sebenarnya ada sekitar kita. Yang bisa kita lakukan adalah mempertahankannya dalam diri kita terus dengan tidak membiarkan prasangka merusak "kebaikan" hati kita.

Sebagai penutup, ada satu yang paling aku herankan, kenapa mbah Harper Lee hanya dan cuma menulis 1 buku ini saja? Dengan kemampuan bercerita yang lucu, unik, mengalun seperti ini, kenapa tidak muncul lagi novel-novel dari buah kreativitasnya?

5/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator