'Membaca' Sketsa, Membaca Masyarakat

BUKU ini sebenarnya pemberian kepada istriku, yang sengaja melepaskan dunia kearsitekturannya dan memilih pada dunia pendidikan. Sang pemberi mungkin bermaksud agar istriku tidak melupakan dunia yang pernah mewarnai hidupnya itu. Demikian maksud sang pemberi itu kusampaikan pada istriku di suatu malam. Lalu pertanyaan ajaib muncul dari istriku: "Lha, kok aku yang dikasih? Kamu yang temannya kok malah nggak diberi?" Aku garuk-garuk kepala... Maka jadilah buku ini kami sepakati untuk dibaca berdua.

Buku ini memiliki judul yang atraktif: "2x50=100". Buku tentang berhitung? Oh tentu tidak. Lebih lengkap, buku ini berjudul "2 eyes x 50 years = 100 sketches". Cool. 2 mata siapa dan 50 tahun siapa? Pertanyaan itu baru terjawab ketika lembaran itu kita buka, inilah kado persembahan 50 tahun dari seorang arsitek Yogya yang terkenal Eko Prawoto. Isi kado persembahan itu adalah 100 sketsa yang dipilih oleh Eko dan sejumlah sejawatnya (yang barangkali sesama dosen UKDW Yogyakarta).

Bagaimana membaca buku ini? Secara fisik, tidak ada aksara yang malang melintang dalam buku ini, kecuali bagian pengantar yang diisi oleh seorang kurator seni (lho kok?) dan 2-3 orang terdekatnya. Pada bagian sketsa, terdiri dari bagian kanan berisi sketsa saja dan bagian kiri berisi penjelasan/caption atas sketsa itu. Karena berisi sketsa, aku dengan senang hati membolak-baliknya dan mulai dari bangunan yang aku kenal lebih dulu: tamansari, seputaran malioboro, dan lain-lain yang ada di kota Yogya. Baru kemudian, aku lihat sketsa rumah/kuil di Jepang, duplex yang ada di Sydney, bangunan bersejarah Aya Sofya yang ada di Turki, dan tempat-tempat lain.


Eko Prawoto memang memiliki kejelian dan mata yang tekun mencermati tempat-tempat yang aku sebutkan tadi dan mungkin tempat lain (yang tak masuk dalam buku ini). Ia seolah menelanjangi bangunan yang tua, untuk melihat bahwa tak melulu misalnya sebuah bangunan harus dibuat dari bahan material yang sama. Atau pemanfaatan ruang tidak melulu harus keluar dari tangan terampil seorang arsitek, karena penyusunan warung di sebuah gang itupun sudah mencerminkan pemanfaatan ruang meskipun dilakukan dengan secara paling sederhana.

Mata Eko Prawoto menyalin situasi-situasi real itu ke dalam media kertas dengan pena. Kegiatan yang dilakukan di luar ini kadang-kadang memicu kreativitas baru. Saat satu kali ia menggambar Tamansari di Yogya, tiba-tiba gerimis dan air gerimis membuat tinta pena mbleber. Tapi mlebebernya tinta pena itu justru jadi cara baru membuat bayangan pada sketsa disamping teknik arsiran.

Pengamatan yang paling menarik dari buku ini adalah salinan atas lorong-lorong pemukiman di Yogya. Khususnya bagaimana Eko Prawoto mencoba teliti melihat arti "gang" dalam sebuah komunitas. Gang adalah sebuah tempat pertemuan antara yang privat dan yang publik untuk rumah-rumah petak kecil di Yogya. Menarik sekali.

Semua sketsa itu kubaca sampai usai dan akhirnya menerbitkan sebuah pertanyaan: Eko Prawoto itu sebenarnya arsitek atau visual artist sih? Lalu pertanyaan itu kuformulasikan kepada istriku dengan pertanyaan ini: "Apakah semua arsitek bisa menggambar sketsa? Apakah guna sketsa buat arsitek?" Lalu istriku bilang, "Sketsa memang berguna untuk arsitek, tetapi bukan sketsa artistik seperti ini." Sketsa artistik?

Lalu aku ingat obrolan yang entah kapan pernah terjadi dengan istriku: memaknai kegiatan arsitektur sebagai bagian dari produk budaya atau bagian dari produk engineering. Memang tergantung paradigmanya, tetapi menangkap apa yang diucapkan oleh istriku, aku pikir apa yang disebut sketsa artistik itu pada akhirnya masuk ke paradigma produk budaya.

Apa yang hendak diusung oleh Eko Prawoto dengan menerbitkan buku ini dan membiayai dari kantongnya sendiri? Terus terang aku kurang tahu. Andai ada sedikit pengantar dari Eko Prawoto sendiri dalam buku ini dan bukan diwakili oleh para sejawatnya, barangkali akan sedikit ada titik terang. Tapi kira-kira aku menduga ini: murid dari almarhum Y.B Mangunwijaya --yang pernah diganjar Aga Khan Award ini untuk karya perumahan di tepi kali Code-- barangkali sedang melakukan pendokumentasian sekaligus pencarian akar budaya. Dan proses pencarian itu, dan penerapannya tidak hanya sekadar memoles dan mengambil dari masa lalu, tetapi menggali dari nilai-nilai lokal yang masih bisa diambil dan mengembangkannya.

Mungkin ia sedang membagikan pengamatannya kepada arsitek-arsitek lain, bahwa apa yang manual dan kesannya low technology, menurut dia adalah keunikan tersendiri. Bahwa arsitektur harus berangkat dari pengamatan akan komunitas yang tinggal di dalamnya, bukan sebagai sekedar mendirikan sebuah bangunan tunggal yang soliter.

Terlepas dari benar salahnya dugaan itu, aku menemukan sebuah kesenangan baru. Ternyata "membaca" sketsa bisa sangat menyenangkan.

DETIL BUKU
2x50=100
karya Eko Prawoto

Terbit 2008 oleh Duta Wacana Christian University Press
Binding: Art paper - Softcover
ISBN: 9798139941
Halaman: 240
Rating: 4/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator