Ketika "Man of Letters" menuliskannya untuk kita...

KALI terakhir aku membaca Sindhunata adalah lewat kolom-kolom ulasan sepakbolanya di harian nasional Kompas (yang kemudian dibukukan). Itu pun caranya menulis sudah memukau. Begini pernah ditulisnya: "Sepak bola bukan sekadar permainan keras. Sepak bola juga bagian dari alam rasa." Lalu Sindhunata bercerita tentang kaitan sepakbola dengan musik. Dituliskannya banyak pemain-pemain dan pelatih kesebelasan dunia menyukai musik dan musik itu membantu semangat timnya untuk menang. Ada yang suka musik klasik, tapi ada juga yang suka musik rock.

Terlepas dari suka tidaknya orang pada caranya menulis kolom sepakbola, ciri tulisan Sindhunata telah tertera jelas: ia mampu menghidupkan aktivitas 22 orang yang berebutan bola putih bundar itu jadi lebih dekat dan manusiawi. Ciri ini ternyata memang sudah tampak dari tulisan feature-nya yang sudah hilir-mudik sejak tahun 1979, seperti yang terdapat pada kumpulan featurenya yang berjudul Segelas Beras untuk Berdua ini.

Cerita Mbok Tukinem yang buta, bukankah sedemikian hidup sehingga seolah-olah Mbok Tukinem sendiri sedang bercerita di depan hidung kita? Pak Guno guru STM? Johanna istri Douwes Dekker yang di akhir hayatnya malah kesepian dan miskin? Bukankah sepertinya diri ini ikutan dikutuk karena tidak ikut serta dalam pemakamannya dan mendoakannya?

Sejak karyanya yang klasik Anak Bajang Menggiring Angin, aku pikir tidak berlebihan bila orang menyebut Sindhunata sebagai puncak kecerdasan berbahasa. Ia memang "Man of Letters", yang total dan setia membaktikan hidupnya bertekun di semak belukar makna huruf-huruf. Ia menaruh ruh di setiap huruf agar setiap huruf itu mengetuk-ngetuk hati pembacanya, bahkan pembaca seperti batu pun akan menitikkan air mata membaca feature-feature yang ia tuliskan di buku ini.



Beberapa kali aku usapkan tisu ke mata, saat membaca kisah hidup yang dituliskan di buku ini. Seperti pada cerita mbok Tukinem tadi. Sudah matanya buta, suaminya sakit, anaknya kok meninggal semua karena sakit panas. Ealah... hidup begitu bisa seperti itu. Sajak dari Federico Garcia Lorca menjadi gong yang menggoncang pembacaanku:

Tangis adalah kesempurnaan para malaikat
Irama bunyi dari musik, dari biola
Takkan pernah ia dapat diukur manusia.

(hal. 162)

Membaca kepedihan hidup orang-orang yang ditulis Sindhunata, pada akhirnya membuatku bertanya-tanya: apakah aku masih perlu merasa diri sebagai orang yang kurang beruntung? Apakah aku masih perlu mengasihani diri sendiri? Rasanya tidak. Setuju?

DETIL BUKU
Segelas Beras untuk Berdua
karya Sindhunata

Terbit November 2006 oleh Penerbit Kompas
Binding: Paperback
ISBN: 9797092771
Tebal: 188 halaman
Rating: 4/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator