Bunga Rampai tentang Pramoedya Ananta Toer

DULU, setiap tahun hatiku selalu berdebar-debar mendekati tanggal 6 Februari. Aku jadi gelisah mencari-cari kabar, apakah tahun itu akan ada perayaan ulang tahun Pramoedya Ananta Toer atau tidak. Biasanya selalu ada, dan biasanya selalu dipenuhi orang. Bila ada dan sempat, aku datang.

Luar biasa animo orang untuk mengenal sastrawan yang satu ini; tua-muda, perempuan pun ada, ada yang berbaju necis hingga gembel bulukan macam aku. Tak ada itu yang berbaju merah lambang palu arit, mengepal tangan tinggi-tinggi menyanyi lagu Internasionale.

Karena setelah membaca karyanya dan berpikir, akhirnya upaya untuk menempatkan Pramoedya dalam kelompok tersebut hanya akan mengecilkan dan menyempitkan arti sastrawan yang berulang-ulang menjadi Kandidat Nobel Sastra Dunia itu.

Rutinitas itu terus kulakukan sejak suatu persinggungan dengan dirinya di tahun '90-an hingga Pram merayakan ultah ke-81 di Teater Kecil TIM Jakarta. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dengan berbaju batik, di ultah ke-81 Pram datang dengan baju putih bersih, wajah cerah, dan murah senyum. Pram seperti hendak menyampaikan kata berpisah. Dan akhirnya benar, 30 April 2006 ia berpisah dari bumi manusia.



Kematiannya yang terlalu sederhana, dikubur di pemakaman Karet Bivak berdekatan dengan makam sastrawan Chairil Anwar, dengan awan hitam pekat yang menggantung pada tanggal itu, begitu membuatku gusar. Tak sadarkah kita sebagai bangsa, kita baru saja kehilangan orang yang berkebalikan dengan pandangan mayoritas bangsa ini yang digelapkan oleh propaganda anti-komunis Orde Baru dan Islam, justru orang yang peduli pada kepribadian bangsa. Pram pergi begitu saja, begitu cepat disapu oleh hujan besar selepas pemakamannya.

Soesilo Toer, adik Pramoedya yang biasa dipanggil Cus, mengatakan banyak orang berujar saat ini Pramoedya sudah damai. Tapi ia meragu, karena nama Toer di belakang nama Pramoedya dan dirinya, sebagai warisan dari nama ayah mereka, bukan sekedar nama, tapi memiliki kepanjangan: Tansah Ora Enak Rasane (Benar-benar tidak enak rasanya). Artinya, keturunan Toer adalah orang-orang yang tidak pernah enak, tidak pernah damai hidupnya. Ia tidak yakin apakah Pram pada akhirnya berdamai atau malah ia kembali tidak merasa damai di 'sana'.

Cus tidak sendiri yang berpendapat. Ada Tariq Ali, Max Lane, Michael Vatikiotis, hingga cucunya Cyntia Ananta Toer, lalu sastrawan Asep Samboja, Dino Umahuk, Goenawan, dan lain-lainnya termasuk diriku menulis, masing-masing menulis apa yang kami ketahui tentang diri Pramoedya Ananta Toer.

Kedekatan personal macam ini, kegelisahan pribadi, perkenalan yang hangat, penilaian orang-orang akan pribadi Pramoedya yang jenaka, penuh kepedulian akan bangsa, keras kepala itulah yang terangkum di dalam buku ini. Karena sejatinya buku ini merupakan bunga rampai yang terdiri dari rangkaian kumpulan cerita, kesan, pendapat dan pengalaman dari orang-orang di dalam maupun luar negeri serta dari keluarga akan diri Pramoedya Ananta Toer. Buku ini menurutku juga merupakan upaya yang luar biasa untuk mengumpulkan seluruh bahan yang terserak di pelbagai media sehingga sekarang dengan mudah dibaca dalam satu buku. Tujuannya aku pikir cukup jelas: agar semakin banyak orang Indonesia yang tergerak untuk menghargai karya-karya dan pemikiran-pemikirannya.

DETIL BUKU
1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa
karya Astuti Ananta Toer (Editor)

Terbit Januari 2009 oleh Lentera Dipantara
Binding: Paperback
ISBN: - (isbn13: 9789793820200)
Tebal: 504 halaman


Rating: 3/5

1 balasan:

Robby Aps mengatakan...

arti bunga rampai apa?

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator