Memahami Spiritualisme Ayu

Bilangan Fu
karya Ayu Utami

Terbit Juni 2008 oleh Kepustakaan Populer Gramedia | Binding: Paperback | ISBN: 978979910122 (isbn13: 9789799101228) | Halaman: 536 | Karakter: Parang Jati, Sandi Yuda | Setting: Sewugunung


PADA salah satu peluncuran buku di Jakarta, sastrawan Hudan Hidayat pernah berujar demikian: "Ayu Utami adalah penulis yang istimewa. Bahkan mendengar namanya saja, orang sudah langsung mempunyai imaji tentang apa yang ditulisnya." Terhadap ujaran demikian, aku mengamininya. Tokh, bukankah itu juga yang teman-teman rasakan? Bahwa mendengar nama Ayu, kita berharap (yap, sekali lagi kita berharap) menemukan sosok sastra baru yang kita idam-idamkan.

Aku amini itu karena ada getar magis yang membuat aku bolak-balik kembali lagi kepada karya Ayu Utami. Mengapa harus membaca lagi karya Ayu Utami, terutama setelah rasa kecewa atas novel Saman dan Larung yang ditulis 7-8 tahun lalu? Rupanya karena aku memendam harapan, harapan yang sama menggelembungnya waktu aku membaca pertama kali bibit novel Saman dalam tulisannya di sebuah disket berjudul "Laila Tak Mampir ke New York" yang beredar liar di Bandung. Getar magis ini kurasakan mungkin kurang lebih sama seperti Sandi Yuda (tokoh di novel Bilangan Fu ini) dengan Sebul (bunyi huuuuuuuu yang dihasilkan oleh batuan karang yang ditiup angin). Itulah getar magis yang membuatku akhirnya membaca Bilangan Fu, mengintiminya seperti kekasih, pergi kesana kemari bagai pacar dan begitu usai ada rasa debar seperti tak ingin berpisah.

Pertama-tama, jangan kecele dengan judul novel ini yang seperti tidak menawarkan apa-apa, sampulnya yang paduan antara simbol "mata setan" dan bulu merak, sajian sinopsis pendek di belakangnya yang menjanjikan adanya kisah cinta romantis, atau review-review yang sering over promise, atau ajakan-ajakan untuk mengingat kembali karya-karya Ayu Utami lampau yang vulgar. Karena Bilangan Fu pantas dibaca tanpa didahului oleh imaji-imaji dan harapan akan novel ini. Bacalah seperti Anda belum pernah kenal Ayu Utami dan tak tahu bagaimana reputasi karya-karya sebelumnya.

Kedua, Bilangan Fu bercerita mengenai "petualangan fantastis" Parang Jati yang diceritakan dari point of view Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing yang sedang membuka jalur pemanjatan di Sewugunung, yang pemikirannya serba moderen. Petualangan fantastis di sini mohon dibaca bukan semata kegiatan fisik, tetapi juga kegiatan pemikiran/rohaniah Parang Jati. Fantastis kisah hidup Parang Jati yang lahirnya seperti cerita Ciung Wanara/Musa, besar hendak dikorbankan seperti Iskak/Ismail, mendakwah seperti Isa dan kadang-kadang Siddharta. Parang Jati bukan hanya sekedar pemanjat berbakat karena jari tangan dan kakinya ada 12. Ia juga bukan hanya sekedar mahasiswa biasa yang sedang melakukan penelitian arkeogeologi karena ia juga anggota sirkus orang-orang aneh Saduki Klan pimpinan Suhubudi ayah angkatnya. Pergolakan pemikiran Parang Jati (begitu pula Yuda) amatlah fantastis karena ia adalah antitesis dari orang-orang muda yang nyaris tidak pernah mempersoalkan/mengkritisi modernisme, monoteisme keagamaan, dan militerisme. Keduanya secara aktif berdialog untuk menemukan rumusan kritik yang tajam atas kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin morat-marit dininabobokkan oleh tayangan kuntilanak di televisi, digerus alamnya oleh ketamakan kapitalisme, dan lain-lainnya.

Parang Jati adalah Yuda adalah Ayu Utami sendiri. Ia menjeritkan (bahkan cenderung mendakwah seperti laiknya nabi) lewat Parang Jati (sesekali lewat Yuda) tentang perlunya kembali masyarakat Indonesia menghormati alam, menjaganya, kalau perlu mengkeramatkan dalam sebuah laku kritik yang disebutnya sebagai Neo-Kejawan (dari Kejawaan Baru... bukan dari kata Kejawen). Sebuah jeritan yang berujung pada konflik antara mereka yang status-quo pada situasi yang tak mau berubah seperti Pontiman Sutalip, Kupukupu, dan kelompok Farisi. Lalu diakhiri dengan kematiannya dan diteruskannya pemikiran itu oleh Yuda, mungkin juga nantinya Marja, yang sejak hari pertama sudah menjadi bagian dari mereka yang percaya pada keimanan yang ditawarkan Parang Jati: keimanan yang melakukan kritik pada modernisme yang dinilai mencederai alam, monoteisme yang sejak lahirnya tidak menyukai adanya perbedaan dan ikut mensponsori lahirnya kekerasan, dan militerisme yang menghambat demokrasi (postmodern). Itulah kisah Bilangan Fu.

Terhadap novel yang berjumlah halaman 536 ini, pada mulanya aku muak. Terutama karena Ayu seperti sedang asyik bermain kosa kata, yang membuatku berpikir untuk merekomendasikan "bacalah buku ini disertai Kamus Besar Bahasa Indonesia!". Sampai-sampai aku ingin teriak dalam bahasa Latin: Veritatis simplex oratio est -- "Bahasa kebenaran itu sederhana." Jadi sampaikanlah dengan cara yang demikian. Lalu juga aku tergoda untuk melakukan gosip, terutama mengenai mengapa Erik Prasetya yang menjadi ayah bagi novel ini. Trus aku menggerutu karena aku benci angka-angka yang ditawarkan dalam bentuk rumus.

Rasa takut bahwa novel ini akan mengecewakan menghantuiku selama hampir setengah perjalanan membaca buku ini, hingga sampailah aku pada bagian "Ratu Kidul dan Pandangan Keagamaan". Di bagian ini dan bagian-bagian berikutnya, kisah jadi lebih menarik karena dibenturkan antara apa yang diyakini oleh masyarakat dengan apa yang diyakini oleh agama. Rupanya inilah saripati Bilangan Fu sebagai novel yang mendalami seputar spiritualisme (Jawa). Menghadirkannya kembali ke hadapan kita, untuk kita telaah kembali, dan barangkali membangkitkannya dari kubur.

Sedikit tergelitik untuk bertanya kepada Ayu mengapa koridor spiritualisme seolah-olah selalu berada di luar agama. Bukankah ada sufisme dalam Islam, ada katolikisme dalam Katolik, tapi aku diam saja. Begitu juga melihat hadirnya teknik kolase (menyisipkan kliping-kliping berita ke dalam inti cerita) yang sama seperti yang digunakan Budi Darma dalam Olenka. Atau cerita koleksi kelingking putus si Fulan yang sepadan dengan salah satu cerpen Seno Gumira Ajidarma. Aku masih juga diam melihat salah cetak/kekurangtelitian editor dengan membiarkan salah tulis outdor (seharusnya outdoor), dejavu (seharusnya déjà vu), dan Siung Wanara (bukankah seharusnya Ciung Wanara) dan sumber cerita Ciung Wanara mana yang dipakai Ayu Utami karena versinya berbeda dengan yang beredar di masyarakat Sunda.

Kudiamkan semua karena aku terpukau oleh kemampuan olah cerita Ayu yang pandai meramu antara naratif, artikel, jurnal dan monolog para tokoh-tokohnya. Serta pastinya karena tanpa riset yang memadai, pastilah sulit menulis tentang geologi, legenda rakyat, kitab suci, dan cerita wayang. Belum lagi gambarnya. ** Horee!! ada sastrawan yang bisa nggambar! ** Semuanya itu nilai plus yang seolah menutupi beberapa gelitikan tanyaku sebelumnya.

Jadi, harus kuakui bahwa dalam menulis Bilangan Fu, Ayu Utami berhasil. Nah, selamat menempuh agama baru!

3/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator