Apokalips di Mata Iwan Simatupang

Kering
Karya Iwan Simatupang

Terbit 1985 by PT. Gunung Agung (sampul kiri) | Cetakan pertama: 1972 | Binding: Paperback | Halaman: 168

Sebagai persembahan untuk Violetta, putri satu-satunya dari pernikahan kedua Iwan dengan balerina Bandung yang terkenal Tanneke Burki

JIKA orang-orang baru sekarang bicara tentang 'global warming', Iwan Simatupang sudah mendahului sejak tahun 1961 dalam novel Kering ini. Bukan main... dengan lincah ia mendramatisir keadaan kemarau yang berkepanjangan, melontarkan kritik ke pihak-pihak yang mengeksploitasi alam dan tenaga nuklir untuk tujuan perang dimana percobaan yang dilakukan mengakibatkan musim jadi tak beraturan.

Kritik ini dibungkus dalam sebuah cerita tentang seorang mahasiswa berotak cemerlang, atas kehendaknya sendiri meninggalkan bangku kuliah. Ia tidak puas dengan sistem dan materi pendidikan yang diterimanya. Pergi bertransmigrasi, juga atas kemauannya sendiri.

Kemarau yang sangat panjang mendatangkan kesengsaraan bagi seluruh penduduk. Rumput-rumput merunduk layu, satu persatu mata air kering. Satu demi satu penduduk meninggalkan desa pemukiman yang hampir mati itu. Satu-satunya yang masih tinggal hanya Tokoh kita. Tapi akhirnya ia kalah dengan musim dan terlempar ke kehidupan kota. Sampai akhirnya Tokoh kita satu kali menerima harta warisan yang banyak dari kematian teman dekatnya. Uang itu lalu ia gunakan untuk membangun satu kota transmigrasi.

Kisah si aku mirip cerita Jon Krakuer yang mengisahkan Mccandles yang rela meninggalkan kenyamanan hidupnya untuk sebuah tantangan. Sedang bagian kerja keras melawan kekeringan, mengingatkan pada kisahan Sisifus yang rela mendorong batu ke atas bukit, meskipun akhirnya harus menerima takdir bahwa batu itu akan turun kembali. Tapi si Tokoh yang dibahasakan "aku" oleh Iwan Simatupang tidak berakhir pedih. Tokh pada akhirnya ia sanggup membangun sebuah kota transmigrasi.

Pemikiran yang jauh ke depan ini, yang mengangkat persoalan kekeringan, barangkali yang jadi penyebab mengapa Iwan Simatupang sering dituding sebagai "orang gila" oleh orang-orang. Kalau membaca riwayat hidupnya, sedih rasanya kalau tak pernah membaca karya-karya gemilangnya yang apokaliptik seperti ini.

5/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator