Tampilkan postingan dengan label psikologis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologis. Tampilkan semua postingan

Hilangnya Kesadaran dan Hal-Hal Absurd Dalam Hidup

MABUK. Sebuah keadaan dimana seseorang hilang kesadarannya. Itulah terjemahan dari "katzenjammer" yang dijadikan judul novel ini oleh Stefani Hid. Meskipun nama penulis ini masih asing bagi saya sebagai pembaca, tetapi karyanya ini entah bagaimana mampu membangkitkan ingatan saya pada novel-novel pergulatan pemikiran yang sering saya temukan di tulisan-tulisan Budi Darma, Danarto, dan Putu Wijaya.

Kisah di dalam novel ini terkonsentrasi pada dua tokoh: Aya dan Henning. Meskipun Aya, seorang gadis Indonesia kelahiran Surabaya, dan Henning, seorang pria Jerman, keduanya boleh dibilang memiliki kesamaan.

Keduanya sama-sama dibekap oleh pikiran-pikiran mereka sendiri sehingga sulit keluar untuk mengambil pilihan hidup yang rasional. Keputusan-keputusan dibuat oleh keduanya bagaikan mereka yang dijerat oleh ketergantungan pada alkohol, juga terjerat oleh mimpi-mimpi yang dibangun oleh prasangka yang dibuat mereka sendiri. Semisal Aya, begitu lulus sebagai sarjana bahasa Inggris, tiba-tiba melontarkan dirinya sendiri dari Depok di tahun 2004 ke Eropa hanya untuk memenuhi hasratnya untuk menjadi seorang pemilik lahan di sebuah desa sunyi di Eropa. Menyendiri, melakoni hidup baru, mencabut begitu saja akar-akar di dalam dirinya yang kemudian digantikan pemikiran-pemikiran baru yang ia cangkok dari bacaan-bacaan yang disukainya: kisah Sisifus dari Albert Camus.

Tetapi Aya tak seperti Sisifus yang dimaksudkan Albert Camus. Ia tidak pernah membayangkan bagaimana pada akhirnya Sisifus menjadi bahagia pada pilihan hidupnya. Aya terjebak menjadi Sisifus yang melulu menjalani takdirnya yang absurd: menggelindingkan bola batu raksasa ke puncak gunung dan terjatuh, lalu menggelindingkannya kembali. Aya menjalani hidupnya dari satu kemapanan menuju kemapanan yang lain tanpa pernah merasa bahagia dan semakin jauh dari rencananya semula.

Tak ada Austen, Psychotic pun jadi...

Orang-Orang Bloomington
karya Budi Darma

Terbit: 2004 oleh Metafor Publishing | Cetakan pertama: 1980, Sinar Harapan | ISBN: 9793019158 | Halaman: 246

SETELAH mendengar/membaca berbagai pujian dari teman-teman, kupikir sudah saatnya bagiku untuk mengenal Budi Darma yang disebut-sebut Maestro Sastra Modern Indonesia. Wah, seorang maestro! Apalagi kudengar ia dipengaruhi oleh karya-karya sastrawan Amerika klasik seperti Jane Austen. Ia disebut-sebut tidak pernah merancang plot, sehingga cerita-ceritanya lahir begitu saja. Kugambarkan ia seperti pelukis Affandi almarhum yang musiumnya ada di Jl. Adisucipto, Yogya. Tetapi Budi Darma bukan penulis abstrak. Tidak, begitu kesanku membaca kumpulan cerpennya ini.

Buku kumpulan cerpen ini begitu gelap kelam dan tokohnya begitu psychotic, lalu buku ini kuletakkan lagi di meja. Aku berpikir, seperti inikah karya seorang Maestro?

Cerpen pertama "Lelaki Tanpa Nama" lewat begitu saja tanpa kesan. Waktu membaca "Joshua Karabish", tiba-tiba tokoh Aku dalam cerpen itu mengingatkanku pada sosok seorang teman. Ia tidak suka disebut penyair, hanya mau disebut pembaca puisi. Ada yang menarik, di sana disebut Budi Darma, "kalau mau jadi penyair, selain harus punya puisi yang baik, harus juga punya kepribadian yang menarik." Dan aku cocok jadi Joshua Karabish dalam cerita itu. Hehehe... Cerita lain bergulir tentang orang-orang psychotic lainnya yang aneh, tak lazim, dengan pikiran-pikiran jahat dan tindakan yang amoral.

Karena agak rumit, usulan untuk slow-reading membaca karya Budi Darma ternyata manjur. Akhirnya buku ini selesai dibaca dan kesimpulannya adalah: Budi Darma piawai mengajukan tema-tema yang asing dan tak dekat. Sungguhpun banyak pengalaman psikologis yang dilukiskan lewat karakter-karakternya yang cukup aneh dan tak lazim ditemui dalam cerpen-cerpen penulis indonesia: aku si mahasiswa yang melihat seorang tua mengacung-acungkan senapan kosong kemana-mana, joshua yang penyakitan, si aku yang benci anak-anak, si Orez anak cacat dan lainnya, aku si pengiri, James Russel yang pendengki.

Memang benar, membaca Budi Darma meluaskan cakrawala bahwa di bawah langit masih ada dunia yang belum dilirik orang sebagai lahan kreativitas, dunia milik orang-orang "aneh" dan psychotic, milik Orang-Orang Bloomington.

5/5
 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator