Semua Berawal dari Ibu

KALAU saja keponakan Iwan tidak berseloroh ingin menjadi orang hebat seperti pamannya yang bekerja di New York, barangkali kisah anak supir angkot yang sukses ini tidak akan pernah sampai ke tangan pembaca. Pada saat itu, Iwan Setyawan, pria kelahiran Batu, 2 Desember 1974, sedang asyik menikmati siaran televisi bersama dengan keponakan dan selorohan itu membuatnya berpikir. Betapa kelirunya jika memahami kesuksesan yang ia raih tanpa mengerti kisah perjuangan panjang yang harus dilaluinya sedari kecil. Maka dari sana, Iwan berupaya menulis sebuah kisah lengkap tentang dirinya dan keluarga yang ingin ia persembahkan bagi sang keponakan.

Iwan bercerita bahwa kali pertama ia menulis kisah 9 Summers 10 Autumns, novel biografi pertamanya yang sukses, justru diawali dengan rasa minder. Ia menilai draft pertama tulisan itu sangat memalukan untuk dibaca. Selain kemampuan menulisnya yang belum terasah, ketrampilan untuk membangun dialog dalam bahasa Indonesia menjadi kendalanya. Pasalnya, Iwan terbilang cukup lama berjarak dari negeri ini setelah 10 tahun berkarir di New York. Namun lewat proses menulis berkali-kali, akhirnya draft tersebut menjadi tulisan yang lebih baik lagi.




Menulis Masa Lalu Butuh Keberanian
Menulis kisah hidup bagi Iwan bukan perkara mudah. Ia harus kembali menghadapi masa lalunya dan untuk menuliskannya butuh kemampuan untuk mengatasi emosi-emosi yang muncul terkait dengan kejadian masa lalu. Butuh lebih dari sekedar kemauan, Iwan merasa membutuhkan keberanian untuk mengenang kisah hidupnya yang penuh perjuangan.

Sebagai anak supir angkot, Iwan harus terbiasa dengan kesederhanaan. Begitu sederhananya, sampai-sampai impian Iwan hanyalah ingin memiliki kamar sendiri. Impian ini ia kejar sampai ke kota New York dan akhirnya ia mendapatkan lebih dari yang ia angankan. Ketika kisah-kisah ini mulai ia tuliskan dan dikumpulkan sebagai bahan buku yang akan diberikan kepada keponakannya, pada suatu ketika Iwan dipanggil ibunya. Ibu Ngatinah, ibu kandung Iwan, bertanya hendak diapakan kisah-kisah itu. Lalu Iwan menjawah hendak ia jadikan buku keluarga dan diberikan kepada keponakannya sendiri, tidak untuk dipublikasikan. Iwan berpendapat takut kalau dipublikasikan malah terjadi apa-apa pada keluarga. Tetapi ibu Iwan berpendapat lain. Menurutnya, tidak ada salahnya membuat kisah itu lebih diketahui banyak orang, karena tidak ada satupun yang terjadi pada keluarga. Iwan didorong untuk membuat kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak orang.


Mulailah Iwan lebih serius menulis kisahnya dan kemudian terbitlah novel biografi 9 Summers 10 Autumns. Novel ini diakui Iwan lebih terpusat pada kisah Iwan sendiri mulai dari anak kecil seorang supir angkota di kota apel Malang hingga menjadi direktur perusahaan swasta di kota Big Apple New York. Bagi Iwan, tidak banyak kesulitan untuk mencari bahan cerita, karena semua berdasar ingatannya semasa kecil, kuliah di Institut Pertanian Bogor, hingga bekerja di Jakarta dan kemudian New York.

Beda Buku, Beda Tantangan
Kesulitan justru mulai tampak saat setahun kemudian ia menulis novel biografi keduanya Ibuk, yang baru diluncurkan tahun ini. Untuk novel kedua tersebut, Iwan mengumpulkan bahan cerita dari bertanya ke ibu Ngatinah, ibu kandungnya sendiri, kakak-kakaknya, hingga teman-teman ayah dan ibunya. Mengapa Iwan harus melakukan ini? Karena ia tidak menyimpan masa lalu kenangan bagaimana ayah dan ibunya bertemu dan semisal, kemana mereka biasanya pergi, dan lain-lainnya. Cara ia mengumpulkan informasi itu dilakukannya sambil mengobrol, sembari menonton televisi, di saat luang, bukan dengan cara-cara riset yang sebetulnya sangat Iwan kuasai.

Novel ini Iwan rencanakan bercerita tentang Ibu Ngatinah, ibunya yang menjadi sumber inspirasi penulisannya. Namun situasi drastis berubah. Ayah Iwan mendadak meninggal dunia. Sempat dua bulan Iwan tidak dapat menulis. Iwan menderita Writer's Block. Iwan lalu memutuskan berganti sudut pandang cerita. Lalu Iwan ganti menuliskan Ibuk, untuk “menghidupkan” sosok ayahnya lewat cinta ibunya dan ternyata cara itu berhasil. Perlahan-lahan Iwan mampu menyelesaikan cerita tersebut. Bagi pembaca yang telah membaca novel Ibuk, ada perbedaan rasa saat membaca novel kedua Iwan ini. Di novel kedua ini, Iwan lebih luwes bertutur. Dialog-dialog ia tempatkan dengan baik. Juga yang menjadi catatan adalah kesederhanaan diksi yang disesuaikan dengan karakter ibu Iwan yang sederhana. Seperti diakui sendiri oleh Iwan, materi dasar novel ini sendiri sudah cukup kuat, sehingga ia tidak perlu menghadirkan bahasa yang berlebihan.

Ibu Sebagai Inspirasi
 Sebagai karya novel, cerita Iwan bermain cukup aman. Sejujurnya tidak ada riak yang menggelitik, karena sejatinya Iwan hanya ingin menghadirkan biografi ibunya sendiri yang ia kagumi. Namun tulisan Iwan ini sekali lagi berhasil menyampaikan pesan yang menginspirasi. Pesan dalam novel Ibuk, tersebut nyata jelas agar setiap pembaca mengingat kembali betapa baiknya setiap ibu dan untuk segera mencintai ibu tanpa perlu menunggu lagi.

Lewat novel Ibuk, Iwan sekali lagi sanggup menginspirasi banyak orang dan kali ini, Iwan telah berhasil mengajak banyak pembaca novelnya untuk menjadikan ibu sebagai inspirasi hidup. Inilah nilai lebih Iwan yang perlu mendapat perhatian.

DETIL BUKU
Ibuk,
karya Iwan Setyawan
Terbit Juni 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792285680
Binding: Paperback
Tebal: 290 halaman
Rating: 3/5

Telah dimuat di majalah VOICE+ Edisi September 2012, halaman 106-107

1 balasan:

sinta mengatakan...

Thank you for your superb post.

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator