Membaca Kegelisahan A.A. Navis

Robohnya Surau Kami
Karya A.A. Navis

Terbit: 2006 oleh Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama: 1986 (sampul kanan) | Binding: Paperback | ISBN: 9794030465 | Halaman: 120


KUMPULAN 9 cerita pendek dari A. A. Navis muncul di dalam buku terbitan tahun 1986 ini:"Robohnya Surau Kami", "Anak Kebanggaan", "Nasihat-nasihat", "Topi Helm", "Datangnya dan Perginya", "Pada Pembotakan Terakhir", "Angin dari Gunung", "Menanti Kelahiran", "Penolong" dan "Dari Masa ke Masa".

9 cerpen ini jauh lebih baik daripada kumpulan A. A. Navis yang pernah saya baca sebelumnya Bianglala. Begitu kuat aroma tema dosa, iman dan perbuatan dari setiap cerpen, seperti mengandung kegelisahan A.A. Navis pada kondisi keimanan/sosial masyarakat di sekitarnya.

Pesonanya ada pada cerpen "Robohnya Surau Kami". Meskipun bukan muslim tetapi cerita ini begitu memukau. Ada refleksi dan kritik sosial yang mendalam secara intrinsik di dalam ceritanya yang berlaku universal. Mengungkap persoalan hendaknya jangan kita menjadi orang yang nihilis, sekedar ibadah tanpa mengetahui makna ibadah sesungguhnya.

"Robohnya Surau Kami" bercerita tentang tokoh Aku (anak/cucu dari seseorang) yang menemukan Kakek, seorang garin di sebuah surau yang sedih hanya karena cerita Ajo Sidi tentang Haji Saleh. Saleh itu haji, tapi masuk neraka. Kenapa? Tuhan menjawab:

'Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau tak masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak-istrimu sendiri sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis.'

"Anak Kebanggaan" bercerita tentang Ompi orang tua yang bangga pada anaknya Edward atau kemudian kita kenal bernama Indra Budiman. Begitu bangganya sampai Ompi menanti kedatangan Indra untuk menjenguknya, tapi yang mendatanginya adalah sebuah telegram. Telegram yang bertolak belakang dari hasrat Ompi.

Tema dosa, iman dan perbuatan muncul lagi di "Datangnya dan Perginya". Tentang ayah Masri, Masri, Iyah, dan Arni... Tapi ada baiknya tidak perlu diceritakan dulu di sini kecuali bahwa cerita ini akan menuju langsung ke arah ulu hati karena plot yang ditulis A.A. Navis.

5/5

0 balasan:

Poskan Komentar

 
Konten blog Fans Berat Buku bersifat personal.
Template Blogger Theme dari BloggerThemes Desain oleh WPThemesCreator